kolom pencarian

KTI D3 Kebidanan[1] | KTI D3 Kebidanan[2] | cara pemesanan KTI Kebidanan | Testimoni | Perkakas
PERHATIAN : jika file belum ter-download, Sabar sampai Loading halaman selesai lalu klik DOWNLOAD lagi
Showing posts with label Kesehatan Bayi (untuk UMUM). Show all posts
Showing posts with label Kesehatan Bayi (untuk UMUM). Show all posts

06 December 2010

Sibling Rivalry

Sibling Rivalry Sibling Rivalry

Kehadiran anggota keluarga baru (bayi) dalam keluarga dapat menimbulkan situasi krisis terutama pada saudara-saudaranya, sehingga perlu dipersiapkan.


Pengertian Sibling Rivalry



  1. Kamus kedokteran Dorland (Suherni, 2008): sibling (anglo-saxon sib dan ling bentuk kecil) anak-anak dari orang tua yang sama, seorang saudara laki-laki atu perempuan. Disebut juga sib. Rivalry keadaan kompetisi atau antagonisme. Sibling rivalry adalah kompetisi antara saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih, afeksi dan perhatian dari satu kedua orang tuanya, atau untuk mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih.

  2. Sibling rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan pertengkaran antara saudara laki-laki dan saudara perempuan. Hal ini terjadi pada semua orang tua yang mempunyai dua anak atau lebih.


Sibling rivalry atau perselisihan yang terjadi pada anak-anak tersebut adalah hal yang biasa bagi anak-anak usia antara 5-11 tahun. Bahkan kurang dari 5 tahun pun sudah sangat mudah terjadi sibling rivalry itu. Istilah ahli psikologi hubungan antar anak-anak seusia seperti itu bersifat ambivalent dengan love hate relationship.


Penyebab Sibling Rivalry

Banyak faktor yang menyebabkan sibling rivalry, antara lain:



  1. Masing-masing anak bersaing untuk menentukan pribadi mereka, sehingga ingin menunjukkan pada saudara mereka.

  2. Anak merasa kurang mendapatkan perhatian, disiplin dan mau mendengarkan dari orang tua mereka.

  3. Anak-anak merasa hubungan dengan orang tua mereka terancam oleh kedatangan anggota keluarga baru/ bayi.

  4. Tahap perkembangan anak baik fisik maupun emosi yang dapat mempengaruhi proses kedewasaan dan perhatian terhadap satu sama lain.

  5. Anak frustasi karena merasa lapar, bosan atau letih sehingga memulai pertengkaran.

  6. Kemungkinan, anak tidak tahu cara untuk mendapatkan perhatian atau memulai permainan dengan saudara mereka.

  7. Dinamika keluarga dalam memainkan peran.

  8. Pemikiran orang tua tentang agresi dan pertengkaran anak yang berlebihan dalam keluarga adalah normal.

  9. Tidak memiliki waktu untuk berbagi, berkumpul bersama dengan anggota keluarga.

  10. Orang tua mengalami stres dalam menjalani kehidupannya.

  11. Anak-anak mengalami stres dalam kehidupannya.

  12. Cara orang tua memperlakukan anak dan menangani konflik yang terjadi pada mereka.


Segi Positif Sibling Rivalry


Meskipun sibling rivalry mempunyai pengertian yang negatif tetapi ada segi positifnya, antara lain:



  1. Mendorong anak untuk mengatasi perbedaan dengan mengembangkan beberapa keterampilan penting.

  2. Cara cepat untuk berkompromi dan bernegosiasi.

  3. Mengontrol dorongan untuk bertindak agresif.


Oleh karena itu agar segi positif tersebut dapat dicapai, maka orang tua harus menjadi fasilitator.


Mengatasi Sibling Rivalry


Beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua untuk mengatasi sibling rivalry, sehingga anak dapat bergaul dengan baik, antara lain:



  1. Tidak membandingkan antara anak satu sama lain.

  2. Membiarkan anak menjadi diri pribadi mereka sendiri.

  3. Menyukai bakat dan keberhasilan anak-anak Anda.

  4. Membuat anak-anak mampu bekerja sama daripada bersaing antara satu sama lain.

  5. Memberikan perhatian setiap waktu atau pola lain ketika konflik biasa terjadi.

  6. Mengajarkan anak-anak Anda cara-cara positif untuk mendapatkan perhatian dari satu sama lain.

  7. Bersikap adil sangat penting, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan anak. Sehingga adil bagi anak satu dengan yang lain berbeda.

  8. Merencanakan kegiatan keluarga yang menyenangkan bagi semua orang.

  9. Meyakinkan setiap anak mendapatkan waktu yang cukup dan kebebasan mereka sendiri.

  10. Orang tua tidak perlu langsung campur tangan kecuali saat tanda-tanda akan kekerasan fisik.

  11. Orang tua harus dapat berperan memberikan otoritas kepada anak-anak, bukan untuk anak-anak.

  12. Orang tua dalam memisahkan anak-anak dari konflik tidak menyalahkan satu sama lain.

  13. Jangan memberi tuduhan tertentu tentang negatifnya sifat anak.

  14. Kesabaran dan keuletan serta contoh-contoh yang baik dari perilaku orang tua sehari-hari adalah cara pendidikan anak-anak untuk menghindari sibling rivalry yang paling bagus.


Adaptasi Kakak Sesuai Tahapan Perkembangan

Respon kanak-kanak atas kelahiran seorang bayi laki-laki atau perempuan bergantung kepada umur dan tingkat perkembangan. Biasanya anak-anak kurang sadar akan adanya kehadiran anggota baru, sehingga menimbulkan persaingan dan perasaan takut kehilangan kasih sayang orang tua. Tingkah laku negatif dapat muncul dan merupakan petunjuk derajat stres pada anak-anak ini.

Tingkah laku ini antara lain berupa:



  1. Masalah tidur.

  2. Peningkatan upaya menarik perhatian orang tua maupun anggota keluarga lain.

  3. Kembali ke pola tingkah laku kekanak-kanakan seperti: ngompol dan menghisap jempol.


Batita (Bawah Tiga Tahun)

Pada tahapan perkembangan ini, yang termasuk batita (bawah tiga tahun) ini adalah usia 1-2 tahun.

Cara beradaptasi pada tahap perkembangan ini antara lain:



  1. Merubah pola tidur bersama dengan anak-anak pada beberapa minggu sebelum kelahiran.

  2. Mempersiapkan keluarga dan kawan-kawan anak batitanya dengan menanyakan perasaannya terhadap kehadiran anggota baru.

  3. Mengajarkan pada orang tua untuk menerima perasaan yang ditunjukkan oleh anaknya.

  4. Memperkuat kasih sayang terhadap anaknnya.


Anak yang Lebih Tua

Tahap perkembangan pada anak yang lebih tua, dikategorikan pada umur 3-12 tahun. Pada anak seusia ini jauh lebih sadar akan perubahan-perubahan tubuh ibunya dan mungkin menyadari akan kelahiran bayi. Anak akan memberikan perhatian terhadap perkembangan adiknya. Terdapat pula, kelas-kelas yang mempersiapkan mereka sebagai kakak sehingga dapat mengasuh adiknya.


Remaja

Respon para remaja juga bergantung kepada tingkat perkembangan mereka. Ada remaja yang merasa senang dengan kehadiran angggota baru, tetapi ada juga yang larut dalam perkembangan mereka sendiri. Adaptasi yang ditunjukkan para remaja yang menghadapi kehadiran anggota baru dalam keluarganya, misalnya:



  1. Berkurangnya ikatan kepada orang tua.

  2. Remaja menghadapi perkembangan seks mereka sendiri.

  3. Ketidakpedulian terhadap kehamilan kecuali bila mengganggu kegiatan mereka sendiri.

  4. Keterlibatan dan ingin membantu dengan persiapan untuk bayi.


Peran Bidan

Peran bidan dalam mengatasi sibling rivalry, antara lain:



  1. Membantu menciptakan terjadinya ikatan antara ibu dan bayi dalam jam pertama pasca kelahiran.

  2. Memberikan dorongan pada ibu dan keluarga untuk memberikan respon positif tentang bayinya, baik melalui sikap maupun ucapan dan tindakan.


Referensi

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 71-72).
Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC. (hlm: 56- 57).
Desty, dkk. 2009. Respon Orang Tua Terhadap Bayi Baru Lahir. Akademi Kebidanan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta.
Kyla, B. 2009. Sibling Rivalry. Diunduh 29 Januari 2009, 06: 49 PM. med.umich.edu/yourchild/topics/sibriv.htm
Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 67-76).

http://askep-askeb.cz.cc/

BACA SELENGKAPNYA - Sibling Rivalry

Masalah Menyusui Pada Bayi

Masalah pada bayi dapat berupa bayi sering menangis, bingung puting, bayi dengan kondisi tertentu seperti BBLR, ikterus, bibir sumbing, bayi kembar, bayi sakit, bayi dengan lidah pendek (lingual frenulum), bayi yang memerlukan perawatan.

Bayi Sering Menangis

Tangisan bayi dapat dijadikan sebagai cara berkomuniksi antara ibu dan buah hati. Pada saat bayi menangis, maka cari sumber penyebabnya. Dan yang paling sering karena kurang ASI.


Bayi Bingung Puting (Nipple Confusion)

Bingung Puting (Nipple Confusion) terjadi akibat pemberian susu formula dalam botol yang berganti-ganti. Hal ini akibat mekanisme menyusu pada puting susu ibu berbeda dengan mekanisme menyusu pada botol. Menyusu pada ibu memerlukan kerja otot-otot pipi, gusi, langit-langit dan lidah. Sedangkan menyusu pada botol bersifat pasif, tergantung pada faktor pemberi yaitu kemiringan botol atau tekanan gravitasi susu, besar lubang dan ketebalan karet dot.


Tanda bayi bingung puting antara lain:



  1. Bayi menolak menyusu

  2. Isapan bayi terputus-putus dan sebentar-bentar

  3. Bayi mengisap puting seperti mengisap dot


Hal yang perlu diperhatikan agar bayi tidak bingung puting antara lain:



  1. Berikan susu formula menggunakan sendok ataupun cangkir.

  2. Berikan susu formula dengan indikasi yang kuat.


Bayi dengan BBLR dan Bayi Prematur

Bayi dengan berat badan lahir rendah, bayi prematur maupun bayi kecil mempunyai masalah menyusui karena refleks menghisapnya lemah. Oleh karena itu, harus segera dilatih untuk menyusu.

Bila bayi dirawat di rumah sakit, harus lebih sering dijenguk, disentuh dengan kasih sayang dan bila memungkinkan disusui.


Bayi dengan Ikterus

Ikterik pada bayi sering terjadi pada bayi yang kurang mendapatkan ASI. Ikterik dini terjadi pada bayi usia 2-10 hari yang disebabkan oleh kadar bilirubin dalam darah tinggi.


Untuk mengatasi agar tidak terjadi hiper bilirubinemia pada bayi maka:



  1. Segeralah menyusui bayi setelah lahir.

  2. Menyusui bayi, sesering mungkin tanpa jadwal dan on demand.


Oleh karena itu, menyusui dini sangat penting karena bayi akan mendapat kolustrum. Kolustrum membantu bayi mengeluarkan mekonium, bilirubin dapat dikeluarkan melalui feses sehingga mencegah bayi tidak kuning.


Bayi dengan Bibir Sumbing

Bayi dengan bibir sumbing tetap masih bisa menyusu. Pada bayi dengan bibir sumbing pallatum molle (langit-langit lunak) dan pallatum durum (langit-langit keras), dengan posisi tertentu masih dapat menyusu tanpa kesulitan. Meskipun bayi terdapat kelainan, ibu harus tetap menyusui karena dengan menyusui dapat melatih kekuatan otot rahang dan lidah.

Anjuran menyusui pada keadaan ini dengan cara:



  1. Posisi bayi duduk.

  2. Saat menyusui, puting dan areola dipegang.

  3. Ibu jari digunakan sebagai penyumbat celah pada bibir bayi.

  4. Asi perah diberikan pada bayi dengan labiopalatoskisis (sumbing pada bibir dan langit-langit).


Bayi Kembar

Posisi yang dapat digunakan pada saat menyusui bayi kembar adalah dengan posisi memegang bola (football position). Pada saat menyusui secara bersamaan, bayi menyusu secara bergantian. Susuilah bayi sesering mungkin. Apabila bayi ada yang dirawat di rumah sakit, berikanlah ASI peras dan susuilah bayi yang ada dirumah. Agar ibu dapat beristirahat maka sebaiknya mintalah bantuan pada anggota keluarga atau orang lain untuk mengasuh bayi Anda.


Bayi Sakit

Bayi sakit dengan indikasi khusus tidak diperbolahkan mendapatkan makanan per oral, tetapi pada saat kondisi bayi sudah memungkinkan maka berikan ASI. Menyusui bukan kontraindikasi pada bayi sakit dengan muntah-muntah ataupun diare. Posisi menyusui yang tepat dapat mencegah timbulnya muntah, antara lain dengan posisi duduk. Berikan ASI sedikit tapi sering kemudian sendawakan. Pada saat bayi akan ditidurkan, posisikan tengkurap atau miring kanan untuk mengurangi bayi tersedak karena regurgitasi.


Bayi dengan Lidah Pendek (Lingual Frenulum)

Bayi dengan lidah pendek atau lingual frenulum (jaringan ikat penghubung lidah dan dasar mulut) yang pendek dan tebal serta kaku tak elastis, sehingga membatasi gerak lidah dan bayi tidak dapat menjulurkan lidahnya untuk “mengurut” puting dengan optimal.

Akibat lidah bayi tidak sanggup “memegang” puting dan areola dengan baik, maka proses laktasi tidak dapat berjalan dengan sempurna. Oleh karena itu, ibu dapat membantu dengan menahan kedua bibir bayi segera setelah bayi dapat “menangkap” putting dan areola dengan benar. Kemudian posisi kedua bibir bayi dipertahankan agar tidak berubah-ubah.

http://askep-askeb.cz.cc/

Bayi yang Memerlukan Perawatan

Pada saat bayi sakit dan memerlukan perawatan, padahal bayi masih menyusu, sebaiknya ibu tetap merawat dan memberikan ASI. Apabila tidak terdapat fasilitas, maka ibu dapat memerah ASI dan menyimpannya. Cara penyimpanan ASI perahpun juga perlu diperhatikan, agar tidak mudah basi.


Menyusui dalam Keadaan Darurat

Masalah pada keadaan darurat misalnya: kondisi ibu yang panik sehingga produksi ASI dapat berkurang; makanan pengganti ASI tidak terkontrol.

Rekomendasi untuk mengatasi keadaan darurat tersebut antara lain: pemberian ASI harus dilindungi pada keadaan darurat, pemberian makanan pengganti ASI (PASI) dapat diberikan dalam kondisi tertentu dan hanya pada waktu dibutuhkan; bila memungkinkan pemberian PASI tidak menggunakan botol.


Referensi

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 55-62).

Program Manajemen Laktasi, 2004. Buku Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta. (bab 5, hlm : 9-14)

http://askep-askeb.cz.cc/
BACA SELENGKAPNYA - Masalah Menyusui Pada Bayi
Masalah pada bayi dapat berupa bayi sering menangis, bingung puting, bayi dengan kondisi tertentu seperti BBLR, ikterus, bibir sumbing, bayi kembar, bayi sakit, bayi dengan lidah pendek (lingual frenulum), bayi yang memerlukan perawatan.

Bayi Sering Menangis

Tangisan bayi dapat dijadikan sebagai cara berkomuniksi antara ibu dan buah hati. Pada saat bayi menangis, maka cari sumber penyebabnya. Dan yang paling sering karena kurang ASI.


Bayi Bingung Puting (Nipple Confusion)

Bingung Puting (Nipple Confusion) terjadi akibat pemberian susu formula dalam botol yang berganti-ganti. Hal ini akibat mekanisme menyusu pada puting susu ibu berbeda dengan mekanisme menyusu pada botol. Menyusu pada ibu memerlukan kerja otot-otot pipi, gusi, langit-langit dan lidah. Sedangkan menyusu pada botol bersifat pasif, tergantung pada faktor pemberi yaitu kemiringan botol atau tekanan gravitasi susu, besar lubang dan ketebalan karet dot.


Tanda bayi bingung puting antara lain:



  1. Bayi menolak menyusu

  2. Isapan bayi terputus-putus dan sebentar-bentar

  3. Bayi mengisap puting seperti mengisap dot


Hal yang perlu diperhatikan agar bayi tidak bingung puting antara lain:



  1. Berikan susu formula menggunakan sendok ataupun cangkir.

  2. Berikan susu formula dengan indikasi yang kuat.


Bayi dengan BBLR dan Bayi Prematur

Bayi dengan berat badan lahir rendah, bayi prematur maupun bayi kecil mempunyai masalah menyusui karena refleks menghisapnya lemah. Oleh karena itu, harus segera dilatih untuk menyusu.

Bila bayi dirawat di rumah sakit, harus lebih sering dijenguk, disentuh dengan kasih sayang dan bila memungkinkan disusui.


Bayi dengan Ikterus

Ikterik pada bayi sering terjadi pada bayi yang kurang mendapatkan ASI. Ikterik dini terjadi pada bayi usia 2-10 hari yang disebabkan oleh kadar bilirubin dalam darah tinggi.


Untuk mengatasi agar tidak terjadi hiper bilirubinemia pada bayi maka:



  1. Segeralah menyusui bayi setelah lahir.

  2. Menyusui bayi, sesering mungkin tanpa jadwal dan on demand.


Oleh karena itu, menyusui dini sangat penting karena bayi akan mendapat kolustrum. Kolustrum membantu bayi mengeluarkan mekonium, bilirubin dapat dikeluarkan melalui feses sehingga mencegah bayi tidak kuning.


Bayi dengan Bibir Sumbing

Bayi dengan bibir sumbing tetap masih bisa menyusu. Pada bayi dengan bibir sumbing pallatum molle (langit-langit lunak) dan pallatum durum (langit-langit keras), dengan posisi tertentu masih dapat menyusu tanpa kesulitan. Meskipun bayi terdapat kelainan, ibu harus tetap menyusui karena dengan menyusui dapat melatih kekuatan otot rahang dan lidah.

Anjuran menyusui pada keadaan ini dengan cara:



  1. Posisi bayi duduk.

  2. Saat menyusui, puting dan areola dipegang.

  3. Ibu jari digunakan sebagai penyumbat celah pada bibir bayi.

  4. Asi perah diberikan pada bayi dengan labiopalatoskisis (sumbing pada bibir dan langit-langit).


Bayi Kembar

Posisi yang dapat digunakan pada saat menyusui bayi kembar adalah dengan posisi memegang bola (football position). Pada saat menyusui secara bersamaan, bayi menyusu secara bergantian. Susuilah bayi sesering mungkin. Apabila bayi ada yang dirawat di rumah sakit, berikanlah ASI peras dan susuilah bayi yang ada dirumah. Agar ibu dapat beristirahat maka sebaiknya mintalah bantuan pada anggota keluarga atau orang lain untuk mengasuh bayi Anda.


Bayi Sakit

Bayi sakit dengan indikasi khusus tidak diperbolahkan mendapatkan makanan per oral, tetapi pada saat kondisi bayi sudah memungkinkan maka berikan ASI. Menyusui bukan kontraindikasi pada bayi sakit dengan muntah-muntah ataupun diare. Posisi menyusui yang tepat dapat mencegah timbulnya muntah, antara lain dengan posisi duduk. Berikan ASI sedikit tapi sering kemudian sendawakan. Pada saat bayi akan ditidurkan, posisikan tengkurap atau miring kanan untuk mengurangi bayi tersedak karena regurgitasi.


Bayi dengan Lidah Pendek (Lingual Frenulum)

Bayi dengan lidah pendek atau lingual frenulum (jaringan ikat penghubung lidah dan dasar mulut) yang pendek dan tebal serta kaku tak elastis, sehingga membatasi gerak lidah dan bayi tidak dapat menjulurkan lidahnya untuk “mengurut” puting dengan optimal.

Akibat lidah bayi tidak sanggup “memegang” puting dan areola dengan baik, maka proses laktasi tidak dapat berjalan dengan sempurna. Oleh karena itu, ibu dapat membantu dengan menahan kedua bibir bayi segera setelah bayi dapat “menangkap” putting dan areola dengan benar. Kemudian posisi kedua bibir bayi dipertahankan agar tidak berubah-ubah.

http://askep-askeb.cz.cc/

Bayi yang Memerlukan Perawatan

Pada saat bayi sakit dan memerlukan perawatan, padahal bayi masih menyusu, sebaiknya ibu tetap merawat dan memberikan ASI. Apabila tidak terdapat fasilitas, maka ibu dapat memerah ASI dan menyimpannya. Cara penyimpanan ASI perahpun juga perlu diperhatikan, agar tidak mudah basi.


Menyusui dalam Keadaan Darurat

Masalah pada keadaan darurat misalnya: kondisi ibu yang panik sehingga produksi ASI dapat berkurang; makanan pengganti ASI tidak terkontrol.

Rekomendasi untuk mengatasi keadaan darurat tersebut antara lain: pemberian ASI harus dilindungi pada keadaan darurat, pemberian makanan pengganti ASI (PASI) dapat diberikan dalam kondisi tertentu dan hanya pada waktu dibutuhkan; bila memungkinkan pemberian PASI tidak menggunakan botol.


Referensi

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 55-62).

Program Manajemen Laktasi, 2004. Buku Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta. (bab 5, hlm : 9-14)

http://askep-askeb.cz.cc/
BACA SELENGKAPNYA -

Bounding Attachment

Pengertian Bounding Attachment

  • Klause dan Kennel (1983): interaksi orang tua dan bayi secara nyata, baik fisik, emosi, maupun sensori pada beberapa menit dan jam pertama segera bayi setelah lahir.

  • Nelson (1986), bounding: dimulainya interaksi emosi sensorik fisik antara orang tua dan bayi segera setelah lahir, attachment: ikatan yang terjalin antara individu yang meliputi pencurahan perhatian; yaitu hubungan emosi dan fisik yang akrab.

  • Saxton dan Pelikan (1996), bounding: adalah suatu langkah untuk mengunkapkan perasaan afeksi (kasih sayang) oleh ibu kepada bayinya segera setelah lahir; attachment: adalah interaksi antara ibu dan bayi secara spesifik sepanjang waktu.

  • Bennet dan Brown (1999), bounding: terjadinya hubungan antara orang tua dan bayi sejak awal kehidupan, attachment: pencurahan kasih sayang di antara individu.

  • Brozeton (dalam Bobak, 1995): permulaan saling mengikat antara orang-orang seperti antara orang tua dan anak pada pertemuan pertama.

  • Parmi (2000): suatu usaha untuk memberikan kasih sayang dan suatu proses yang saling merespon antara orang tua dan bayi lahir.

  • Perry (2002), bounding: proses pembentukan attachment atau membangun ikatan; attachment: suatu ikatan khusus yang dikarakteristikkan dengan kualitas-kualitas yang terbentuk dalam hubungan orang tua dan bayi.

  • Subroto (cit Lestari, 2002): sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orang tua dan bayi.

  • Maternal dan Neonatal Health: adalah kontak dini secara langsung antara ibu dan bayi setelah proses persalinan, dimulai pada kala III sampai dengan post partum.

  • Harfiah, bounding: ikatan; attachment: sentuhan.


  • Tahap-Tahap Bounding Attachment



    1. Perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata, menyentuh, erbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya.

    2. Bounding (keterikatan)

    3. Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan individu lain.


    Menurut Klaus, Kenell (1982), bagian penting dari ikatan ialah perkenalan.


    Elemen-Elemen Bounding Attachment



    1. Sentuhan – Sentuhan, atau indera peraba, dipakai secara ekstensif oleh orang tua dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru lahir dengan cara mengeksplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya.

    2. Kontak mata – Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional mempertahankan kontak mata, orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Beberapa ibu mengatakan, dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat dengan bayinya (Klaus, Kennell, 1982).

    3. Suara – Saling mendengar dan merespon suara anata orang tua dan bayinya juga penting. Orang tua menunggu tangisan pertama bayinya dengan tegang.

    4. Aroma – Ibu mengetahui bahwa setiap anak memiliki aroma yang unik (Porter, Cernoch, Perry, 1983). Sedangkan bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma susu ibunya (Stainto, 1985).

    5. Entrainment – Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki, seperti sedang berdansa mengikuti nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi saat anak mulai berbicara. Irama ini berfungsi memberi umpan balik positif kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif.

    6. Bioritme – Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada dengan ritme alamiah ibunya. Untuk itu, salah satu tugas bayi baru lahir ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif. Hal ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan bayi untuk belajar.

    7. Kontak dini – Saat ini , tidak ada bukti-bukti alamiah yang menunjukkan bahwa kontak dini setelah lahir merupakan hal yang penting untuk hubungan orang tua–anak.

    http://askep-askeb.cz.cc/

    Namun menurut Klaus, Kennel (1982), ada beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak dini :



    1. Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat.

    2. Reflek menghisap dilakukan dini.

    3. Pembentukkan kekebalan aktif dimulai.

    4. Mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak (body warmth (kehangatan tubuh); waktu pemberian kasih sayang; stimulasi hormonal).


    Prinsip-Prinsip dan Upaya Meningkatkan Bounding Attachment



    1. Dilakukan segera (menit pertama jam pertama).

    2. Sentuhan orang tua pertama kali.

    3. Adanya ikatan yang baik dan sistematis berupa kedekatan orang tua ke anak.

    4. Kesehatan emosional orang tua.

    5. Terlibat pemberian dukungan dalam proses persalinan.

    6. Persiapan PNC sebelumnya.

    7. Adaptasi.

    8. Tingkat kemampuan, komunikasi dan keterampilan untuk merawat anak.

    9. Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa nyaman.

    10. Fasilitas untuk kontak lebih lama.

    11. Penekanan pada hal-hal positif.

    12. Perawat maternitas khusus (bidan).

    13. Libatkan anggota keluarga lainnya/dukungan sosial dari keluarga, teman dan pasangan.

    14. Informasi bertahap mengenai bounding attachment.


    Keuntungan Bounding Attachment



    1. Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial.

    2. Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi.


    Hambatan Bounding Attachment



    1. Kurangnya support sistem.

    2. Ibu dengan resiko (ibu sakit).

    3. Bayi dengan resiko (bayi prematur, bayi sakit, bayi dengan cacat fisik).

    4. Kehadiran bayi yang tidak diinginkan.


    Referensi

    Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 63-65)

    Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC. (hlm: 54-55). books.google.co.id/books?id=ZkPup-5Ozy8C&pg=PA54&lpg=PA54&dq=pengertian+bounding+attachment&source=….

    Desty, dkk. 2009. Respon Orang Tua Terhadap Bayi Baru Lahir. Akademi Kebidanan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta.

    Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 64-66).

    Telli, L. Bounding Attachment. Diunduh 15 Januari 2010, 10:15 PM. akbidypsdmi.net/download/pdf/asuhan26.pdf

    http://askep-askeb.cz.cc/
    BACA SELENGKAPNYA - Bounding Attachment

    Penilaian Perkembangan Bayi dan Balita

    Penilaian Perkembangan Bayi dan Balita: "
    Untuk menilai perkembangan anak pertama yang dapat dilakukan adalah dengan dengan wawancara tentang faktor kemungkinan yang menyebabkan gangguan dalam perkembangan, kemudian melakukan tes skrining perkembangan anak dapat menggunakan (Denver development screening test) DAST, tes IQ atau tes Psikologi lainnya. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah evaluasi terhadap lingkungan anak (interaksi anak selama ini), evaluasi fungsi penglihatan, pendengaran, bicara, bahasa dan pemeriksaan fisik lainnya.

    Beberapa tes yang dapat digunakan untuk menilai status perkembangan anak antara lain tes intelegensi Stanford Binet, skala intelegensi Wechsler untuk anak prasekolah dan sekolah, skala perkembangan menurut Gesell (Caesell Infant Scale), skala Bayley (Bayley infant scale of development), tes bentuk geometrik, tes motor visual bender gestalt, tes menggambar orang, tes perkembangan adaptasi sosial, DDST, dan diagnostik perkembangan fungsi munchen tahun pertama. Pada bab ini hanya dibahas tentang cara menilai perkembangan anak menurut HDST II.

    Cara Melakukan DDST (Denver Developmental Screening Test)
    Tes ini mengalami bc;bc;rapa perkembangan dalam penggunaan, saat ini telah terjadi revisi yang dikenal de;ngan nama DDST II. Penilaian DDST ini meliputi empat faktor diantaranya penilaian terhadap personal sosial, motorik halus, bahasa, dan motorik kasar. Cara melakukan penilaian adalah sebagai bcrikut:
    Persiapan Alat:
    1. Lembar formulir DDST II
    2. Alat bantu atau peraga, seperti benang wol merah, manik-manik, kubus warna mc;rah kuning hijau dan biru, permainan anak bola kecil, bola tenis kertas dan pensil.
    Prosedur penilitian:
    1. Tentukan umur anak pada saat pemeriksaan.
    2. Tarik garis pada lembar DDST' II sesuai dengan umur yang telah ditentukan.
    3. Lakukan pengukuran pada anak tiap komponen dengan batasan garis yang ada mulai dari motorik kasar, bahasa, motorik halus, dan personal sosial.
    4. Tentukan hasil penilaian apakah normal, meragukan, dan abnormal dengan gambar di bawah ini.)
    • Keterlambatan (abnormal) apabila tcrdapat 2 kctcrlambatan/lebih pada 2 sektor, atau bila dalam 1 scktar di dapat 2 keterlambatan/lebih ditambah 1 sektor atau lebih terdapat 1 keterlambatan
    • Meragukan apabila 1 sektor terdapat 2 keterlambatan/lebih, atau 1 sektor atau le;bih didapatkan 1 keterlambatan.
    • Dapat juga dengan menentukan ada tidaknya ketc;rlambatan pada masing-masing sektor bila menilai tiap sektor atau tidak menyimpulkan gangguan perkembangan keseluruhan. (Soetjiningsih, 1998)



    "
    BACA SELENGKAPNYA - Penilaian Perkembangan Bayi dan Balita

    Faktor Penyebab Gumoh dan Muntah pada Bayi

    Faktor Penyebab Gumoh dan Muntah pada Bayi: "
    Refleks Menelan Belum Bagus
    Bila karena refleks menelannya memang belum bagus, terang Kishore lebih lanjut, ketika makanan ditaruh di bagian depan lidahnya, si bayi berusaha menelannya dengan menjulurkan lidahnya. Namun bukannya bisa masuk, malah makanannya jadi keluar lagi. Seperti halnya bayi mau belajar merangkak, kadang jalannya bukannya maju malah mundur karena koordinasi motoriknya belum bagus. Sementara kalau dia mengisap ASI, tak jadi masalah, karena puting ada di belakang lidahnya.

    Refleks menelan ini, akan membaik dengan sendirinya. Tergantung kemampuan masing-masing bayi dalam menelan. Umumnya di atas usia 6 bulan. Jika refleks menelannya belum baik dan bayi belum bisa menelan makanan padat, kita bisa mengatasinya dengan mengencerkan lagi makanannya dengan cara memblender hingga mudah baginya untuk menelan.

    Tak Kenal Dengan Makanannya
    Jika bayi tak kenal atau tak suka dengan makanannya, baik yang semi padat ataupun padat, tentu akan ditolaknya. “Selama ini makanan yang diterima bayi selalu dalam bentuk cair. Sementara kini dia mulai mendapatkan makanan yang agak kental, semisal bubur susu, atau makanan agak padat, semisal nasi tim.

    Bila demikian kejadiannya, pemberiannya harus dimundurkan dengan cara agak diencerkan lagi. “Jangan memaksakan bayi dengan kemauan kita karena akan membuatnya trauma. Bisa jadi setiap kali melihat mangkuk makanan, dia jadi menangis karena takut dijejalkan.”

    Rasanya Berbeda
    Ada pula bayi yang menolak nasi tim karena rasanya yang berbeda. Jangan lupa, selama 6 bulan pertama, bayi kenalnya hanya rasa manis. Nah, nasi tim tak manis seperti halnya bubur susu, kan? Jadi, ada kemungkinan dia tak suka karena rasanya tak manis. Kalau bayi tak suka karena tak mengenal rasa nasi tim tersebut, bisa diupayakan agar si bayi belajar mengenal rasa. Jadi, rasanya yang harus diubah dan divariasikan. Misal, awalnya nasi tim tersebut diberi tambahan glukosa atau yang paling mudah adalah kecap manis, hingga rasa nasi tim tersebut masih ada manisnya. Semakin lama, kecapnya agak dikurangi hingga
    bayi mengenal rasa nasi tim yang lain.

    Muntah juga bisa terjadi, misal, karena bayi kekenyangan makan atau minum ataupun karena bayinya mengulet hingga tekanan di perutnya tinggi, akibatnya susunya keluar lagi.

    Gangguan Sfingter
    Sementara bila karena ada gangguan di saluran cernanya, kita tahu bahwa pada saluran pencernaan itu ada saluran makan (esopnagus), yang berawal dari tenggorokan sampai lambung. pada saluran yang menuju lambung ini ada semacam klep atau katup yang dinamakan sfingter. Fungsinya untuk mencegah keluarnya kembali makanan yang sudah masuk ke lambung.

    Umumnya sfingter pada bayi belum bagus dan akan membaik dengan sendirinya sejalan bertambahnya usia. Umumnya di atas usia 6 bulan. Namun, adakalanya di usia itu pun si bayi masih mengalami gangguan. Jadi, sifatnya sangat bervariasi.
    Tentunya, kalau sfingter tak bagus, maka makanan yang masuk ke lambung bisa keluar lagi. Gejalanya biasanya kalau pada bayi akan lebih sering gumoh, terutama sehabis disusui. Apalagi bila ia ditidurkan dengan posisi telentang. Begitupun bila setiap kali diberi makanan padat muntah, harus dicurigai sfingter-nya tak bagus. Apalagi bila berat badan bayinya tak naik-naik, misal selama 1-2 bulan.

    Kadang ada juga sfingter dengan gangguan, yang disebut hipertropi pylorus stenosis, yaitu adanya otot pylorus yang menebal hingga makanan akan susah turun dari lambung ke usus, akhirnya keluar muntah. Gejalanya, tiap kali diberikan makanan padat akan muntah. Tapi kalau makanan cair tidak. Selain itu, berat badannya pun sulit naik. Jika gangguannya berat, makanan cair pun biasanya tak bisa lewat, hingga menganggu pertumbuhan si bayi karena tak ada penyerapan makanan. Biasanya kalau kejadiannya demikian, harus dilakukan
    tindakan operasi secepatnya untuk memperbaiki klepnya hingga saluran makanan dari lambung ke usus bisa jalan dengan lancar.
    Namun kalau gangguannya ringan saja, misal, muntahnya jarang dan setelah dilakukan pemeriksaan dengan rontgen atau USG ditemui hipertropi sfingter ringan, berat badan anak tetap naik. Biasanya kalau kasusnya demikian, tindakan operasi bisa ditunda. Diharapkan dengan bertambahnya usia, bayi mulai berdiri tegak hingga makanan lebih mudah turun.

    Tips Menghadapi Bayi Muntah
    Jika bayi muntah, saran, cepat miringkan tubuhnya, atau diangkat ke belakang seperti disendawakan atau ditengkurapkan agar muntahannya tak masuk ke saluran napas yang dapat menyumbat dan berakibat fatal.

    Jika muntahnya keluar lewat hidung, orang tua tak perlu khawatir. “Ini berarti muntahnya keluar. Bersihkan saja segera bekas muntahnya. Justru yang bahaya bila dari hidung masuk lagi terisap ke saluran napas. Karena bisa masuk ke paru- paru dan menyumbat jalan napas. Jika ada muntah masuk ke paru-paru tak bisa dilakukan tindakan apa-apa, kecuali membawanya segera ke dokter untuk ditangani lebih lanjut.”

    "
    BACA SELENGKAPNYA - Faktor Penyebab Gumoh dan Muntah pada Bayi

    05 December 2010

    Cara Menyusui yang Benar

    Cara Menyendawakan Bayi
    1. Bayi digendong, menghadap ke belakang dengan dada bayi diletakkan pada bahu Ibu.
    2. Kepala bayi disangga/ditopang dengan tangan Ibu.
    3. Usap punggung bayi perlahan-lahan sampai bayi sendawa.



    Cara Menetekkan Bayi dengan Benar

    1. Tetekkan bayi segera atau selambatnya setengah janin setelah bayi lahir. Mintalah kepada bidan untuk membantu melakukan hal ini.
    2. Biasakan mencuci tangan dengan sabun setiap kali sebelum menetekkan.
    3. Perah sedikit kolostrum atau ASI dan oleskan pada daerah putting dan sekitarnya.
    4. Ibu duduk atau tiduran / berbaring dengan santai.
    5. 5. Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi:
    • Perut bayi menempel keperut ibu.
    • Dagu bayi menempel ke payudara.
    • Telinga dan lengan bayi berada dalam satu garis lurus.
    • Mulut bayi terbuka lebar menutupi daerah gelap sekitar putting susu.
    6. Cara agar mulut bayi terbuka adalah dengan menyentuhkan puting susu pada bibir atau pipi bayi.
    7. Setelah mulut bayi terbuka lebar, segera masukkan puting dan sebagian besar lingkaran/daerah
    gelap sekitar puting susu ke dalam mulut bayi.
    8. Berikan ASI dari satu payudara sampai kosong sebelum pindah ke payudara lainnya.

    Pemberian ASI berikutnya mulai dari payudara yang belum kosong tadi.

    Cara Melepaskan Puting Susu dari Mulut Bayi
    Dengan menekan dagu bayi ke arah bawah atau dengan memasukkan jari ibu antara mulut bayi dan payudara ibu.

    Cara Memeras ASI dengan Tangan

    Bidan menganjurkan pada Ibu untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Setelah itu :
    1. Duduklah Ibu seenak/senyaman mungkin.
    2. Pegang/letakkan cangkir dekat dengan payudara Ibu.
    3. Letakkan ibu jari pada payudara diatas puting susu dan areola (bagian lingkaran hitam berwarna gelap pada payudara) dan jari telunjuk dibawah payudara, juga dibawah puting susu dan areola.
    4. Tekan ibu jari dan telunjuk kedalam, kearah dada. Ibu tidak perlu menekan terlalu keras, karena dapat menghambat aliran air susu.
    5. Kemudian tekanlah payudara Ibu kebelakang puting dan areola antara jari telunjuk dan ibu jari.
    6. Selanjutnya tekan dan lepaskan, tekan dan lepaskan.
    • Kegiatan ini tidak boleh menyakiti atau Ibu sampai merasa nyeri.
    • Pada awalnya, mungkin tidak ada susu yang keluar, tetapi setelah dilakukan penekanan beberapa kali, ASI akan &nbspmulai menetes keluar.
    7. Tekan areola dengan cara yang sama dari arah samping, untuk meyakinkan bahwa ASI di tekan dari seluruh bagian payudara.
    8. Hindari menggosok-gosok payudara atau memelintir puting susu.
    9. Peras satu payudara sekurang-kurangnya 3-5 menit hingga aliran menjadi pelan; kemudian
    lakukan pada payudara yang satu lagi dengan cara yang sama. Kemudian ulangi keduanya. Ibu dapat
    menggunakan satu tangan untuk satu payudara dan gantilah bila merasa lelah. Memeras ASI
    membutuhkan waktu 20-30 menit. Terutama pada hari-hari pertama, ketika masih sedikit ASI
    yang diproduksi.
    10. Simpan.
    BACA SELENGKAPNYA - Cara Menyusui yang Benar

    Penyapihan

    Penyapihan
    Pengertian
    Menyapih adalah suatu proses berhentinya masa menyusui secara berangsur angsur atau sekaligus (Ana Fitria, 2007). Proses tersebut dapat disebabkan oleh berhentinya sang anak dari menyusu ibunya.atau bisa juga berhentinya seorang ibu untuk menyusui anaknya. Atau bisa juga keduanya. Masa menyapih ini merupakan pengalaman emosional bagi sang ibu, anak, juga sang ayah. Karena ketiga pihak tersebut merupakan ikatan kesatuan yang tidak boleh dilupakan (http://asuhan .wikia.com/wiki/menyapih)
    WHO (World Health Organization) merekomendasikan penyapihan dilakukan setelah bayi berusia 2 tahun. Pada usia ini anak sudah mempunyai pondasi kuat bagi perkembangan selanjutnya. Penyapihan anak 2 tahun dilakukan demi perkembangan maupun psikologis anaknya, seperti:
    1) Mengembangkan pengenalan aneka ragam rasa dan tekstur makanan. Hal ini berpengaruh pada perkembangan intelektualitasnya karena daya ingatnya akan menyimpan informasi mengenai berbagai rasa dan tekstur makanan.
    2) Memperbanyak latihan mengunyah makanan padat agar gigi dan rahangnya berkembang optimal
    3) Anak dilatih untuk mandiri karena tidak bergantung pada ASI setiap kali anak lapar atau haus.

    Dampak Penyapihan Dini
    1) Meningkatkan Risiko gejala pernafasan.
    2) Meningkatkan resiko obesitas (Anonim, 2007).
    3) Menyebabkan hubungan anak dan ibu berkurang keeratannya karena proses bounding tatchman terganggu.
    4) Insiden penyakit infeksi terutama diare meningkat.
    5) Pengaruh gizi yang menyebabkan malnutrisi pada anak.
    6) Mengalami reaksi alergi yang menyebabkan diare, muntah, ruam dan gatal-gatal karena reaksi dari sistem imun.

    Proses Penyapihan
    Permulaan proses penyapihan adalah merupakan permulaan perubahan besar bagi bayi dan ibunya. Hubungan yang sangat erat antara ibu dan bayi, yang dimulai dalam rahim ibu dan dilanjutkan setelah bayi lahir, mulai melemah dan ini harus merupakan proses yang berjalan secara perlahan. Pada beberapa daerah, seringkali pemberian ASI dihentikan secara tiba-tiba bila ibu menjadi atau merasa hamil lagi. Masalah yang lebih serius akan terjadi bila bayi dipisahkan dari ibunya dan dikirim untuk dipelihara oleh kakek neneknya atau saudara orang tuanya. Pengaruh psikologi dan gizi dan praktik semacam ini dapat sangat berbahaya bagi anak yang masih sangat muda (Muchtadi, 2002).

    Penyapihan adalah masa berbahaya bagi bayi dan anak kecil. Telah diketahui bahwa terdapat resiko infeksi yang lebih tinggi, terutama penyakit diare, selama proses penyapihan ini dibandingkan dengan masa sebelumnya dalam kehidupan bayi. Hal ini disebabkan karena terjadi perubahan konsumsi ASI yang bersih dan mengandung faktor anti infeksi. Menjadi makanan yang seringkali disiapkan, disimpan dan diberikan pada anak dengan cara yang tidak higienis (Muchtadi, 2002).
    d. Ada 2 metode Penyapihan yang biasa ibu lakukan, yaitu :
    1) Metode seketika
    Umumnya dilakukan pada keadaan terpaksa. Misalnya pada ibu mendadak sakit atau pergi jauh. Jika memilih metode ini yang harus dilakukan adalah:
    ­ Mengkomunikasikan situasi yang terjadi pada anak (terutama untuk anak satu tahun keatas).
    ­ Untuk memberikan minuman selain ASI tunggulah anak sampai merasa haus dan lapar. Karena biasanya ia bisa menerima minuman tersebut dalam kondisi lapar.
    ­ Alihkan perhatian anak dengan mainan yang ia suka sambil memberinya makan dan minum.
    ­ Beri susu formula yang rasanya mendekati ASI. Hadirkan sosok pengganti ibu yang dapat membuat anak merasa nyaman, walau ibu tidak berada disisinya.

    2) Metode bertahap
    Metode bertahap dibagi menjadi dua yaitu:
    ­ Natural weaning (penyapihan alami)
    Disini ibu tidak memaksa anak untuk berhenti namun mengikuti tahap perkembangan anak.
    ­ Mother led weaning
    Ibu menentukan kapan saat menyapih anak. Yang dibutuhkan pada metode ini adalah kesiapan mental ibu dan dukungan suami. Ayah juga harus berperan sebagai sosok yang memberikan kenyamanan selain ibu, dengan cara mengajak anak bermain (Iskadar, 2007).

    Bahan Makanan Sapihan
    Bahan yang dipilih untuk membuat makanan sapihan sebaiknya mudah didapat, harganya murah, paling sering dimakan, sebaiknya diramu dengan resep lokal (Arisman, 2004).

    Makanan sapihan yang ideal harus mengandung :
    1) Makanan pokok (pangan yang paling banyak dikonsumsi oleh keluarga, biasanya makanan yang mengandung tepung, gandum, kentang, maizena)
    2) Kacang, sayuran berdaun hijau atau kuning
    3) Buah
    4) Daging hewan
    5) Minyak atau lemak
    Bahan ini dibuat menjadi bubur untuk kemudian sebagai peneman ASI, disuapkan kepada bayi.
    Tabel 3. Pola campur makanan Sapihan
    Pola campur makanan sapihan
    1. Campuran sederhana
    Makanan pokok + kacang-kacangan, atau
    makanan pokok + hewan, atau
    makanan pokok + sayuran.
    2. Campuran majemuk
    a. Menggunakan tiga bahan
    makanan pokok + kacang-kacangan + hewan, atau
    makanan pokok + kacang-kacangan + sayuran, atau
    makanan pokok + hewan + sayuran.
    b. Menggunakan 4 bahan
    makanan pokok + kacang-kacangan + hewan + sayuran. (Arisman, 2004)

    Tips-tips agar proses menyapih berjalan dengan baik :
    1) Lakukan proses penyapihan secara berlahan. Misalnya mengurangi secara bertahap frekuensi menyusui.
    2) Alihkan perhatian anak/sibukkan anak dengan hal lain. Dengan membacakan buku ke anak, bermain, bernyanyi, dan sebagainya, hingga anak melupakan saat menyusui.
    3) Kunci utama : Bina komunikasi yang baik dengan anak.
    4) Hindari menyapih pada saat anak sedang tidak sehat atau sedang sedih, kesal, marah.
    5) Hindari menyapih anak dari menyusu kebenda lain seperti empeng, botol susu, bantal dan sebagainya.
    6) Biasanya disini peran ayah sangat dibutuhkan sebagai figur yang melengkapi sang ibu. Sekali lagi bina komunikasi baik dengan anak.
    7) Hindari menyapih secara mendadak
    8) Komunikasi ( Ana Fitria, 2007)

    Makanan Tambahan
    Makanan pelengkap atau tambahan adalah makanan lain yang diberikan selain ASI. Pengenalan makanan tmbahan dilakukan secara bertahap. Setelah bayi lahir diharapkan ibu memberikan ASI sampai usia bayi 2 tahun. Perkenalan dan pemberian makanan lain selain ASI (makanan pendamping ASI) pada umumnya diberikan kepada bayi setelah bayi berusia 6 bulan (Soetjiningsih, 1997).
    Saat itulah dimana pertumbuhan dan peningkatan aktifitas memerlukan tambahan nutrien Setelah bayi berusia 2 tahun, ASI sepenuhnya akan digantikan oleh makanan sehari-hari. Asi hanya dibutuhkan sekali-kali saja sebagai kenyamanan.
    Panduan pemberian makanan tambahan, petunjuk dari Departement Of Nutrition for Healt and Development, WHO :
    • Berikan ASI ekslusif sampai bayi berusia 6 bulan
    • Berikan makanan tambahan pada bayi usia 6 bulan
    • Berikan ASI selama 2 tahun atau lebih
    • Berikan tambahan makanan yang :
    ­ Berkalori tinggi dan kaya zat nutrisi
    ­ Bersih dan aman bagi bayi
    ­ Dirancang dari makanan keluarga serta mempergunakan makanan lokal yang mudah diperoleh Makanan tambahan diberikan 3x sehari pada saat bayi berusia 6 – 7 bulan dan ditingkatkan menjadi 5x sehari saat berusia 12 bulan(Pujiarto, 2005)
    BACA SELENGKAPNYA - Penyapihan

    PEMANTAUAN JANIN

    PEMANTAUAN JANIN

    KESEJAHTERAAN JANIN


    Artinya : janin dalam keadaan hidup, sehat, tidak sakit, selamat, terbebas dari ancaman.

    Janin mungkin saja berada dalam keadaan hidup sehat dan tidak sakit, TETAPI berada dalam keadaan yang mengancam atau membahayakan, misalnya : pada ibu yang mengalami penyakit / kelainan tertentu seperti pre-eklampsia.


    PEMANTAUAN JANIN (Fetal Monitoring)


    Mengawasi, menyelidiki, menentukan, apakah janin berada dalam keadaan sakit atau tidak, serta apakah ada keadaan yang mungkin mempengaruhinya.


    Tujuan pemantauan janin

    Untuk deteksi dini ada/tidaknya faktor-faktor risiko kematian perinatal tersebut (hipoksia/asfiksia, gangguan pertumbuhan, cacat bawaan, infeksi).


    CARA-CARA PEMANTAUAN KESEJAHTERAAN JANIN


    Perkiraan pertumbuhan janin dari tinggi fundus uteri terhadap usia kehamilan

    Syarat pemeriksaan tinggi fundus : vesika urinaria dan rektum idealnya dalam keadaan kosong (jika tidak, pengaruh bisa sampai + 3 cm). Diukur dengan pasien keadaan telentang, pada keadaan uterus tidak kontraksi, dari tepi atas simfisis sampai fundus.

    Untuk memperkirakan ada tidaknya gangguan pertumbuhan (apakah pertumbuhan janin termasuk kecil atau sesuai atau besar terhadap usia kehamilannya).

    Contoh : ibu dengan diabetes mellitus atau obesitas, risiko janin besar.

    Jika ada gangguan pertumbuhan kecil, pikirkan kemungkinan hipoksia kronis sehingga oksigenasi janin terganggu.

    Jika tinggi fundus lebih daripada kalibrasi usia kehamilan, pikirkan kemungkinan diagnosis banding : kehamilan multipel, tumor, hidrosefalus, bayi besar, hidramnion.

    Jika tinggi fundus kurang daripada kalibrasi usia kehamilan, pikirkan kemungkinan diagnosis banding : oligohidramnion, pertumbuhan janin terhambat, ketuban pecah dan sebagainya.

    Perkiraan berat janin dengan rumus Johnson Tossec.

    Auskultasi denyut jantung janin

    Dengan alat Laennec atau Doppler, atau dengan CTG/cardiotokografi (electronic fetal heart monitoring).

    Ideal perhitungan frekuensi jantung dilakukan 1 menit penuh.

    Jika ada alat CTG, bisa direkam untuk 10 menit. Normal frekuensi denyut 120-160 kali per menit, meningkat pada saat kontraksi.

    Batasan waktu untuk menilai bradikardi : frekuensi denyut jantung di bawah normal selama lebih dari 2 menit.

    Batasan waktu untuk menilai akselerasi : peningkatan frekuensi denyut jantung di atas 15 denyut per menit selama kurang dari 2 menit.

    Batasan waktu untuk menilai takikardi : frekuensi denyut jantung di atas normal selama lebih dari 2 menit.

    Pemeriksaan normal / baik : waktu relaksasi frekuensi jantung normal, waktu kontraksi terjadi takikardia

    Tanda hipoksia akut : waktu relaksasi dan kontraksi bradikardia

    Tanda hipoksia kronik : waktu relaksasi normal, waktu kontraksi bradikardia

    Jika ada infeksi intra partum : fetal takikardi.

    Jika ada gawat janin : fetal bradikardi


    Ultrasonografi (USG)

    Ideal untuk pemeriksaan pada trimester pertama sampai ketiga. Jika memungkinkan, ibu hamil sangat dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan USG.

    USG dapat menilai :

    1. kantong gestasi : jumlah, ukuran, lokasi, bentuk, keadaan

    2. janin : hidup / mati, jumlah, presentasi, perkiraan usia gestasi melalui biometri janin (gambar), pertumbuhan, kelainan bawaan, dan sebagainya.

    Gambar : Perkiraan usia gestasi melalui pemeriksaan biometri janin.

    Pada trimester pertama, parameter yang dipakai adalah jarak puncak kepala sampai bokong (CRL - crown-rump length). Pada trimester kedua dan ketiga, parameter yang dipakai di antaranya adalah diameter biparietal kepala (BPD - biparietal diameter), lingkar perut (AC - abdominal circumference - tidak ada dalam gambar) dan panjang tulang femur (FL - femur length).

    3. tali pusat : jumlah pembuluh darah, sirkulasi (dengan Doppler dapat menilai FDJP/ Fungsi Dinamik Janin Plasenta - SDAU/ Sirkulasi Darah Arteri Umbilikalis - gambar)

    4. membran / cairan amnion : keadaan, jumlah

    5. plasenta : lokasi, jumlah, ukuran, maturasi, insersi

    6. keadaan patologik : kehamilan ektopik, mola hidatidosa, tumor, inkompetensia serviks, dan sebagainya. dapat juga untuk membantu tindakan khusus : amniocentesis, fetoskopi, transfusi intrauterin, biopsi villi korialis


    Pemantauan aktifitas / gerakan janin

    Dapat secara subjektif (ditanyakan kepada ibu), atau objektif (palpasi atau dengan USG).

    Janin normal, tidak ada hipoksia, akan aktif bergerak.

    Normal gerakan janin dirasakan oleh ibu sebanyak lebih dari 10 kali per hari (pada usia di atas 32 minggu).

    Dalam kehidupan janin intrauterin, sebagian besar oksigen hanya dibutuhkan oleh otak dan jantung (refleks redistribusi).

    Jika janin tidak bergerak, pikirkan kemungkinan diagnosis banding : “tidur”, atau hipoksia.


    Pengamatan mekoneum dan cairan ketuban

    Caranya dengan amniocentesis atau amnioskopi.

    Pada keadaan normal otot sfingter ani janin berkontraksi, mekoneum tidak keluar, tidak bercampur dengan cairan ketuban sehingga cairan ketuban tetap jernih.

    Pada hipoksia akut, terjadi hiperperistaltik otot-otot tubuh janin, tetapi terjadi juga relaksasi sfingter ani sehingga mekoneum akan keluar dan bercampur dengan cairan ketuban, menyebabkan warna kehijauan.

    Pada infeksi, terjadi juga koloni kuman dalam selaput dan cairan ketuban (korioamnionitis), menyebabkan juga warna keruh atau kehijauan.

    Pemeriksaan rasio lecithin/sphyngomyelin (L/S ratio) pada cairan ketuban dapat untuk menilai prediksi pematangan paru janin (pembentukan surfaktan).


    Pengamatan hormon yang diproduksi oleh plasenta

    Estriol dan Human Placental Lactogen (HPL) adalah hormon plasenta spesifik yang dapat diperiksa kadarnya pada darah ibu, untuk menilai fungsi plasenta.

    Jika abnormal, berarti terjadi gangguan fungsi plasenta dan berakibat risiko pertumbuhan janin terhambat sampai kematian janin.

    Namun pemeriksaan ini makan waktu lama, bisa terlambat bertindak kalau menunggu hasilnya.


    Pemeriksaan darah dan analisis gas darah janin

    Pengambilan sampel darah bisa dari tali pusat (umbilical cord blood sampling), atau dari kulit kepala janin (fetal scalp blood sampling).

    Pada janin dengan hipoksia, terjadi asidosis.


    Kardiotokografi (CTG)

    Menggunakan dua elektrode yang dipasang pada fundus (untuk menilai aktifitas uterus) dan pada lokasi punctum maximum denyut jantung janin pada perut ibu.

    Dapat menilai aktifitas jantung janin pada saat his / kontraksi maupun pada saat di luar his / kontraksi. Menilai juga hubungan antara denyut jantung dan tekanan intrauterin.

    Janin normal : pada saat kontraksi : jika frekuensi denyut jantung tetap normal atau meningkat dalam batas normal, berarti cadangan oksigen janin baik (tidak ada hipoksia).

    Pada janin hipoksia : tidak ada akselerasi, pada saat kontraksi justru terjadi deselerasi / perlambatan, setelah kontraksi kemudian mulai menghilang (tanda insufisiensi plasenta).

    Jika ada deselerasi dini : dalam batas normal, observasi. Kemungkinan akibat turunnya kepala, atau refleks vasovagal.

    Jika ada deselerasi lambat : indikasi untuk terminasi segera.

    Jika ada deselerasi variabel (seperti deselerasi dini tetapi ekstrim), hal ini merupakan tanda keadaan patologis misalnya akibat kompresi pada tali pusat (oligohidramnion, lilitan tali pusat, dan sebagainya). Juga indikasi untuk terminasi segera.

    Batasan waktu untuk menilai deselerasi : tidak ada.

    Seharusnya penilaian ideal sampai waktu 20 menit, tapi dalam praktek, kalau menunggu lebih lama pada keadaan hipoksia atau gawat janin akan makin memperburuk prognosis.

    Kalau grafik denyut datar terus : keadaan janin non-reaktif.

    Uji dengan bel (”klakson”…ngooook), normal frekuensi denyut jantung akan meningkat.

    CTG bisa digunakan untuk menilai fungsi kompensasi jantung janin terhadap stress fisiologik, dengan cara : Non Stress Test (NST), Oxytocyn Challenge Test (OCT), dan sebagainya.

    BACA SELENGKAPNYA - PEMANTAUAN JANIN

    04 December 2010

    Apakah Bayi Sudah Cukup Mendapatkan ASI

    Suatu hal yang sering dijumpai yang berhubungan dengan ibu yang menyusui (terutama bayi yang menyusu langsung pada ibu) adalah ketidakyakinan dan kekhawatiran bahwa ASI yang diberikan cukup atau tidak.

    Berikut ini beberapa dasar untuk mengetahui apakah ASI yang diberikan cukup/tidak:

    1. Frekuensi bayi menyusu

    Bayi menyusu sekurang-kurangnya setiap 2-3 jam atau 8-12 kali per hari. Bayi sekitar usia 2 atau 3 bulan bisa mempunyai rentang waktu menyusu yang lebih lama (tidak lagi setiap 2-3 jam). Pada fase growth spruts, seringnya terjadi pada 10-14 hari setelah persalinan,sebagaimana pada usia 3 minggu, 6 minggu, 3 bulan dan 6 bulan, bayi akan menyusu lebih banyak dan lebih sering Hendaknya ibu akan kemampuannya karena semakin sering bayi menyusu , produksi ASI juga akan meningkat.

    2. Peningkatan berat badan bayi.

    Adalah sesuatu hal yang normal pada bayi jika bayi mengalami penurunan berat badan segera setelah persalinan dalam kurun waktu 2 minggu (penurunan sekitar 5-7 % atau sekitar 10 % )

    3. Mendengar suara bayi saat menelan ASI.

    Jika diperhatikan dengan hati-hati, kemungkinan ibu akan mendengar suara bayi saat menelan ASI, termasuk kekuatan, kestabilan, dan irama gerakan pipi bayi . Saat itu bayi akan berhenti sejenak ketika bayi menelan. Sebagian kecil ASI terkadang sedikit keluar dari dalam mulut.

    4. Perubahan konsistensi pada payudara ibu

    Jika bayi menyusu dengan baik, payudara ibu yang semula terasa penuh (sebelum bayi menyusu) akan terasa kosong (biasanya payudara terasa lembut )

    5. Diaper/popok bayi.

    Pada beberapa minggu pertama, diharapkan bayi buang air kecil 6-8 kali per hari. Diaper yang basah diasumsikan sama dengan diaper sekali pakai yang kering dibasahi dengan 2-4 sendok makan air. Selain itu bayi hendaknya juga buang air besar minimal 3 kali tiap hari. Feces akan tampak berwarna gelap dan lengket pada beberapa hari pertama , kemudian berangsur angsur tampak berbiji-biji, lembek dan kuning keemasan.

    6. Bayi tampak sehat.

    Kapankah ibu perlu berkonsultasi atau mengunjungi ke dokter?

    Ibu sebaiknya berkonsultasi jika bayi :

    • Tidak ada penambahan berat badan.
    • Tidak buang air kecil 6-8 kali perhari atau tidak buang air besar secara teratur.
    • Bayi rewel terus menerus setelah menyusu.
    • Tampak lesu/selalu mengantuk sepanjang hari.
    • Tidak tertarik/tidak ingin menyusu.
    • Muntah dengan kuat setiap kali habis menyusu.

    Setiap bayi mempunyai keistimewaan sendiri. Sepanjang bayi tumbuh dan berkembang dengan normal, maka yakinlah bahwa bayi Anda telah cukup dengan nutrisi yang Anda berikan.

    sumber:

    mayoclinic.com

    http://rumahkusorgaku.wordpress.com

    BACA SELENGKAPNYA - Apakah Bayi Sudah Cukup Mendapatkan ASI

    Ingin Anak Pintar Beri ASI Eksklusif

    Siapa yang tidak ingin memiliki anak yang cerdas dan sehat. Kita sering melihat di televisi bayi-bayi yang lucu dan sehat serta `menggemaskan`. Kurangnya informasi dan berkembangnya informasi yang kurang tepat berakibat pada kurangnya pengetahuan masyarakat bahwa ASI Eksklusif adalah langkah awal agar bayi kita cerdas dan sehat dengan budi pekerti yang baik. Pemberian ASI Eksklusif dilakukan dari menit pertama bayi lahir, diletakan di dada ibunya sehingga bayi dapat menyusu sendiri, sampai pada umur bayi 6 bulan, tanpa diberi apapun selain ASI. Tidak susu formula, air putih, air gula apalagi makanan padat. kecuali sedikit vitamin dan obat.

    Pada tahun 1997-2002 American Academy of Pediatric merekomendasikan bahwa ASI sumber makanan tunggal untuk bayi sampai 6 bulan pertama kehidupannya. Dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI pada umur bayi 6 bulan sampai bayi berumur 2 tahun(AAP 1997, 2002)

    Diantara keuntungan ASI Eksklusif adalah meningkatkan kecerdasan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan antara lain:

    a. Faktor Genetika,

    ini merupakan modal dasar yang tidak dapat dimanipulasi oleh siapapun, karena langsung diturunkan oleh kedua orang tuanya.

    b. Faktor Lingkungan

    Manusia adalah mahluk sempurna, dan kesempurnaan itu melalui tahapan-tahapan tersendiri, faktor genetis tidak serta merta dapat mampu membentuk karakter manusia, atau kecerdasan tinggi, tetapi dibutuhkan faktor lingkungan sebagai stimulator kecerdasan alaminya. Diantaranya : adanya pertumbuhan fisik biomedis otak lebih kita kenal dengan ASUH

    ASUH atau fisik-biomedis yaitu kepandaian yang berhubungan dengan OTAK, dimana faktor pendukung pertumbuhan ini adalah Nutrisi, dan ASI Eksklusif nutrisi terbaik baik dari sisi kualitas atau kuantitas, untuk masa pertumbuhan Otak yaitu umur 0 – 6 bulan. Selain itu hanya ASI yang mengandung zat pertumbuhan otak ( DHA, AA, Taurin,Lactosa ) yang hanya sedikit sekali terkandung pada susu sapi atau bahkan tidak ada sama sekali. Maka, apabila si bayi kekurangan gizi berat pada masa percepatan pertumbuhan otak ini (0-6 bulan) akan terjadi pengurangan jumlah sel otak 15-20%.

    Untuk dapat kecerdasan yang baik manusia membutuhkan juga stimulasi rangsangan dan pendidikan atau dengan kata lain ASAH. agar hardware yang ada semakin matang.

    ASAH atau stimulan ini terjadi pertama kali saat inisiasi menyusui dini, dan pemberian ASI eksklusif adalah starting point dimana sang bayi mendapat rangsangan dari ibunya, belaian, ungkapan sayang, pandangan dan kata-kata yang terlontar oleh ibu adalah mediator pembelajaran yang menjadi stimulasi otak untuk mengenal alam semesta. Follow up Studi di New Zealand,mengatakan bahwa bayi-bayi yang disusui menunjukan perkembangan bahasa dan IQ lebih tinggi pada usia 3,5 dan 7 tahun.lalu pada tahun 1998 penelitian terhadap 1000 anak selama 18 tahun di New Zealand juga menyebutkan, Anak ASI mempunyai IQ dan mencapai tingkatan akademik lebih tinggi. Kemudian diperkuat oleh penelitian di Jama tahun 2002 yang dilakukan pada 3253 orang di Denmark, hasilnya ada korelasi kongkrit antara lamanya pemberian ASI dan peningkatan IQ, orang yang disusui kurang dari 1 bulan mempunyai IQ 5 point lebih rendah dari yang disusui setidaknya 7-9 bulan.

    Akan tetapi ASUH dan ASAH belum cukup tanpa adanya ASIH. pada prinsipnya kelahiran adalah trauma bagi bayi, bagaimana tidak? Dalam rahim bayi merasa nyaman dan tenang, dipeluk hangat oleh dinding rahim, adanya skin to skin contact, lalu didendangkan dengan detak jantung ibu, dibelai lembut air ketuban yang mengalir, dan diayun-ayun oleh gerak nafas bunda. Makanya kelahiran trauma bagi bayi. Karena tidak ada lagi kenyamanan itu setelah dia dilahhirkan. Maka, dengan disusui eksklusif bayi akan lebih sering didekap oleh bunda, dibelai dan bayi akan merasa aman dan terlindungi dia juga akan merasa bahwa orang-orang sangat mencintainya.

    Maka, bonding yang baik adalah dasar terbentuknya suasana secure attachment, sehingga dia tumbuh dalam suasana penuh dengan cinta kasih dan mencintai sesamanya, juga spiritual yang baik. Karena dengan menyusui dini, bayi diajarkan bagaimana bersosialisasi dini, melatih kestabilan emosional sehingga EQ-nya meningkat.

    Andaikan keindahan itu tidak cepat berlalu, kurangnya informasi dan gencarnya iklan susu formula, memaksa ibu-ibu untuk menyerah dan tidak percaya diri, bahwa pemberian Tuhan tidak akan pernah terkalahkan oleh ciptaan manusia.

    Sumber : Sentra Laktasi Indonesia



    BACA SELENGKAPNYA - Ingin Anak Pintar Beri ASI Eksklusif

    Perbandingan Berat Badan Bayi ASI dan Bayi Susu Formula

    Perbandingan Berat Badan Bayi ASI dan Bayi Susu Formula
    Bayi yang mendapatkan air susu ibu (ASI) eksklusif dengan bayi yang mendapatkan nutrisi dari susu formula memiliki berat badan yang berbeda. Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif cenderung lebih ramping dan sehat dalam jangka waktu yang panjang. Dr. Katherine Dewey dari University of California pada tahun 1992 membandingkan pola pertumbuhan normal antara bayi yang diberi ASI dengan susu formula.

    Hasil yang didapatkan pada beberapa bulan pertama didapatkan:
    1. Bayi ASI dan susu formula memiliki pola pertumbuhan yang sama pada beberapa bulan pertama.
    2. Usia 4-6 bulan, bayi yang diberi susu formula mengalami kenaikan berat badan yang cenderung cepat dibanding ASI.
    3. Setelah 6 bulan pertama, bayi yang mendapatkan ASI cenderung lebih ramping dibandingkan dengan susu formula.
    'Kelebihan berat badan pada bayi yang mendapatkan susu formula diperkirakan karena kelebihan retensi air dan komposisi lemak tubuh yang berbeda dibandingkan ASI,' kata Dr. Katherine seperti dilansir dari Mayo Clinic, Kamis (1/4/2010).

    Berbagai penelitian menunjukkan bayi yang mengonsumsi ASI dapat mengatur asupan kalori sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Kemampuan ini yang diperkirakan menjadi alasan bayi yang mengonsumsi ASI cenderung kurang memiliki masalah obesitas di kemudian hari.

    Ada beberapa pedoman untuk mengetahui apakah berat badan bayinya sudah naik dengan normal atau tidak jika mengonsumsi ASI, yaitu:
    1. Bayi yang baru lahir hingga usia 6 bulan, biasanya mengalami pertumbuhan sebesar 1,5-2,5 cm per bulan dan kenaikan berat badannya sebesar 0,5-1 kilogram setiap bulan. Diharapkan bayi memiliki berat yang dua kali lipat dengan berat badan saat diusia 6 bulan.
    2. Bayi berusia 6 bulan hingga 1 tahun, biasanya mengalami pertumbuhan sebesar 1 cm dan kenaikan berat badan sebanyak 0,5 kilogram setiap bulannya. Diharapkan berat badan bayi sudah 3 kali lipat dari berat badan bayi saat lahir diusia 1 tahun.
    Selain faktor makanan (ASI atau susu formula), kenaikan berat badan bayi bisa dipengaruhi beberapa hal seperti:

    1. Faktor genetik, hal ini menunjukkan bayi memiliki tingkat metabolisme berbeda yang berarti kemampuan membakar kalorinya pun berbeda.
    2. Temperamen bayi, bayi yang santai atau mellow cenderung sedikit membakar kalori sehingga berat badannya bertambah lebih cepat. Sedangkan bayi yang aktif cenderung membakar kalori lebih banyak sehingga akan terlihat lebih ramping.
    3. Frekuensi menyusui, seberapa sering bayi tersebut menyusui juga mempengaruhi pertumbuhan berat badannya.
    BACA SELENGKAPNYA - Perbandingan Berat Badan Bayi ASI dan Bayi Susu Formula

    Faktor faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak

    Faktor faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak
    a. Faktor genetik
    Merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.

    b. Faktor lingkungan
    Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan.
    Faktor lingkungan secara garis besar di bagi menjadi :
    1) Faktor lingkungan yang mempengaruhi bayi pada waktu masih dalam lingkungan (faktor prenatal), antara lain :
    Gizi ibu pada waktu hamil
    Gizi ibu yang buruk sebelum maupun pada saat hamil, lebih sering menghasilkan bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) atau lahir mati dan jarang menyebabkan cacat bawaan.
    Mekanis
    Trauma dan cairan ketuban yang kurang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkan.
    Toksin/zat kimia
    Masa organogenesis adalah masa yang sangat peka terhadap zat-zat teratogen. Misalnya obat-obatan seperti thalidomide, phetidhine, obat-obat anti kanker dan sebagainya yang dapat menyebabkan kelainan bawaan.
    Endokrin
    Hormon-hormon yang mungkin berperan pada pertumbuhan janin, adalah somamotropin, hormon plasenta, hormon tiroid dan insulin.
    Radiasi
    Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali atau cacat bawaan lainnya.
    Infeksi
    Infeksi intra uterin yang sering menyebabkan cacat bawaan adalah TORCH (Toxo plasmosis, Rubella, cytomegalovirus, Herpes simplex).
    Stress
    Dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin, antara lain cacat bawaan, kelainan jiwa dan lain-lain.
    Imunitas
    Rhesus atau ABO inkomtabilita sering menyebabkan abortus, kernikterus, atau lahir mati
    Anoreksia embrio
    Menurunnya oksigenisasi janin melalui gangguan pada plasenta atau tali pusat menyebabkan berat badan lahir rendah.

    d. Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir (faktor postnatal ).

    1) Lingkungan biologis antara lain :
    a) Ras atau suku bangsa
    Bangsa kulit putih mempunyai pertumbuhan somatik lebih tinggi dari pada bangsa asia.

    b) Jenis kelamin
    Walau belum di ketahui secara pasti banyak yang mengatakan bahwa bayi laki laki sering sakit di bandingkan bayi perempuan.
    c) Umur
    Umur paling rawan adalah masa Batita, oleh karena pada masa itu bayi mudah sakit dan mudah terjadi kurang gizi.
    d) Gizi
    Makan memegang peranan penting dalam tumbuh kembang bayi karena makanan bagi anak di butuhkan untuk pertumbuhan.
    e) Perawatan kesehatan
    Pemeriksaan kesehatan dan menimbang bayi secara rutin setiap bulan akan menunjang tumbuh kembang bayi.
    f) Kepekaan terhadap penyakit
    Dalam imunisasi, di harapkan anak terhindar dari penyakit-penyakit yang sering menimbulkan cacat atau kematian.
    g) Penyakit kronis
    Anak yang menderita penyakit menahun akan terganggu tumbuh kembang dan pendidikannya
    h) Fungsi metabolisma
    Karena perbedaan dalam proses metabolisme pada berbagai umur, maka kebutuhan akan berbagai nutrien harus didasarkan atas perhitungan yang tepat dan memadai.

    i) Hormon
    Hormon-hormon yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang antara lain adalah :
    Somatotropin atau “ growth hormon “
    Merupakan pengatur utama pada pertumbuhan somatis terutama pertumbuhan kerangka
    Hormon tiroid
    Mempunyai fungsi pada metabolisme protein, karbohidrat dan lemak.
    Glukortikoid
    Mempunyai fungsi yang bertentangan dengan somatotropin tiroksin serta androgen, karena kortison mempunyai efek anabolik.
    Hormon - hormon seks
    Mempunyai peranan dalam reproduksi.

    2) Faktor fisik antara lain
    a) Cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah.
    Musim kemarau panjang/bencana alam lainnya, dapat berdampak pada tumbuh kembang anak antara lain sebagai gagalnya panen, sehingga banyak anak yang kurang gizi.
    b) Sanitasi
    Akibat kebersihan yang kurang, maka anak akan sering sakit misalnya diare, hepatitis, malaria, dan sebagainya. Demikian pula polusi udara baik yang berasal dari pabrik, asap kendaraan atau asap rokok, dapat mempengaruhi terhadap tingginya angka kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )
    c) Keadaan rumah : struktur bangunan, ventilasi, cahaya, dan kepadatan hunian
    Keadaan perumahan yang layak dengan kontruksi bangunan yang tidak membahayakan penghuninya serta tidak penuh sesak akan menjamin kesehatan penghuninya.
    d) Radiasi
    Radiasi yang tinggi dapat mengganggu tumbuh kembang anak
    3) Faktor psikososial
    a) Stimulasi
    Anak yang mendapat stimulasi yang terarah dan tertur akan lebih cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang /tidak mendapat stimulasi.
    b) Motivasi belajar
    Motivasi belajar dapat ditimbulkan sejak dini dengan membersihkan lingkungan yang kondusif untuk belajar, misalnya sekolah yang tidak terlalu jauh, buku-buku, suasana yang tenang serta sarana lainnya.
    c) Ganjaran atau hukuman
    Kalau anak berbuat benar, maka wajib kita beri ganjaran misalnya pujian, ciuman, belaian, dan sebagainya. Sedangkan menghukum dengan cara yang wajar kalau anak berbuat salah, masih dibenarkan.
    d) Kelompok sebaya
    Untuk proses sosialisasi dengan lingkungannya anak memerlukan teman sebaya.
    e) Stress
    Stress pada bayi berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya, misalnya bayi akan menarik diri, rendah diri, terlambat bicara dan sebagainya.
    f) Sekolah
    Dengan mendapat pendidikan yang baik, maka di harapkan dapat meningkatkan taraf hidup anak-anak tersebut.
    g) Cinta dan kasih sayang
    Anak memerlukan cinta dan kasih sayang serta perlakuan adil dari orang tuanya agar kelak menjadi anak yang tidak sombong dan bisa memberikan kasih sayangnya pula kepada sesamanya.
    h) Kualitas interaksi anak-orang tua
    Interaksi timbal balik antara anak dan orang tua akan menimbulkan keakraban dalam keluarga.

    4). Faktor keluarga dan adat istiadat, antara lain
    a). Pekerjaan /pendapatan keluarga
    Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak, karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik primer maupun sekunder.


    b). Pendidikan ayah /ibu
    Dengan pendidikan yang baik maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan bayi yang baik, bagaimana menjaga kesehatan anaknya, pendidikannya dan sebagainya.
    c). Jumlah saudara.
    Jumlah saudara yang banyak pada keluarga dengan sosial ekonomi yang cukup akan mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang diterima anak. Sedangkan pada keluarga dengan sosial ekonomi yang kurang, akan mengakibatkan selain kurangnya kasih sayang dan perhatian pada anak, juga kebutuhan primer seperti makanan, sandang dan perumahan pun tidak terpenuhi.
    d). Jenis kelamin dalam keluarga
    Pada masyarakat tradisional, wanita mempunyai status yang lebih rendah di bandingkan laki laki, sehingga angka kematian bayi karena malnutrisi masih tinggi pada wanita.
    e). Stabilitas rumah tangga
    Tumbuh kembang anak akan berbeda pada keluarga yang harmonis, dibandingkan dengan mereka yang kurang harmonis.
    f). Kepribadian ayah /ibu
    Kepribadian ayah dan ibu yang terbuka tentang pengaruhnya berbeda terhadap tumbuh kembang anak, bila dibandingkan dengan mereka yang kepribadianya tertutup.
    g). Adat istiadat, norma-norma, tabu-tabu
    Adat istiadat yang berlaku di tiap daerah akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.
    h). Agama
    Dengan memahami agama akan menuntun umatnya untuk berbuat kebaikan dan kebajikan.
    i) Urbanisasi
    Salah satu dampak dari urbanisasi adalah kemiskinan dengan segala permasahannya.
    j) Kehidupan politik dalam masyarakat yang mempengaruhi prioritas kepentingan anak, anggaran dan lain lain.
    BACA SELENGKAPNYA - Faktor faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak

    12 November 2010

    Bayi Meninggal Mendadak

    A.Definisi
    Kematian bayi mendadak tidak terduga dan dengan alas an yang tetap tidak jelas, bahkan setelah otopsi,merupakan sara kematian paling utama pada tahun pertama kehidupan setelah masa neonatus. Peristiwa ini menggambarkan sindroma bayi mati mendadak (SIDS =sudden infant death syndrome). Pada kasus yang khas seorang bayi rusia 2-3 bulan yang tampak sehat, di tidurkan tanpa kecurigaan bahwa segala sesuatunya di luar keadaan yang biasa . beberapa waktu kmeudian bayi di temukan meninggal, dan otopsi konvensional gagal menemukan penyebbab kematian. Telah di ungkapkan bahwa bayi tampak sehat sebelum meninggal, tetapi riwayat perinatal yang lebih rinci serta pemeriksaan intensif fungsi kardiorespiratorik dan neurologik menghasilkan bukti-bukti bahwa anak tidak berada dalam keadaan yang normal sebelumnya.

    B. Patologi
    Diantara berbagai temuan yang telah dilaporkan pada bayi-bayi yang meninggal karena SIDS bahwa pertambahan otot polos arteri paru-paru merupakan hal terpenting. Keadaan ini tidak saja melibatkan dinding muscular arteri pulmonalis yang besar, tetapi meluas ke pembuluh-pembuluh kecil di dekat di dekat alveoli. Temuan ini di anggap sebagai bukti tidak langsung bahwa bayi-bayi dengan SIDS mengalami hipoksia kronik yang menetap. Walawpun demikian, tidak di temukan bukti langsung hipoksia ini. Banyak korban SIDS mengalami retardasi pertumbuhan fisik pasca natal.

    C. Patogenesis
    Kebingungan mengenai patogenesis SIDS mungkin mencerminkan besarnya perbedaan kenelitian dalam mencari abnormaliyas spesifik setelah kelahiran. Lebih lanjut, SIDS tampaknya mempunyai beberapa etiologi, dan beberapa kondisi langka dapat berwujud seperti SIDS. Misalnya, apnea saat tidur yang memanjang pada masa bayi yang telah di asosiasikan dengan suatu lesi desak ruang (astrositoma lobus temporalis kiri), anomaly SSP congenital (tidak ada korpus kalosum), dan dengan disfungsi neuromuscular yang menyertai botulismus infantil. Kematian mendadak juga telah di sebabkan cincin vascular, biasanya didahului oleh tanda-tanda obstruksi saluran nafas atas.

    D. Factor-faktor yang mungkin menyebabkan bayi mati mendadak
    1. Jeda pernafasan karena Apnea dan sianosis yang lama selama tidur telah diobservasi pada dua bayi yang kemudian dianggap meninggal karena SIDS dan telah diamati pula adanya obstruksi saluran nafas bagian atas dengan jeda pernafasan serta bradikardia yang lama pada bayi-bayi dengan SIDS abortif. Walaupun demikian masih belum pasti apakah apnea sentral atau apnea obstruktif yang lebih penting daalam terjadinya SIDS
    2. Cacat batang otak karena sedikitnya 2 kepingan bukti telah mengisyaratkan bahwa bayi-bayi dengan SIDS memiliki abnormalitas pada susunan saraf pusat.
    3. Fungsi saluran nafas atas yang abnormal, berdasarkan pada perkembangan dan anatomi, maka bayi yang muda dianggap beresiko tinggi terhadap saluran pernafasan bagian atas, apakah keadaan ini terjadi pada SIDS masih belum di ketahui.
    4. Reflek saluran nafas yang hiperreaktif karena masuknya sejumlah cairan ke dalam laring dapat merangsang timbulnya reflek ini dan di duga menimblkan apnea, maka di berikan perhatian yang cukup besar akan kemungkinan reflek gasoesofagus dan aspirasi sebagai mekanisme primer terjadinya SIDS pada beberapa bayi.
    5. Abnormalita jantung, beberapa ahli mengajukan adanya ketidakstabilan pada jantung muda, tetapi tidak mendapatkan bukti yang meyakinkan saa ini untuk menunjukan bahwa aritmia jantung memainkan perana pada SIDS.

    E. Temuan-temuan pada bayi yang kemudian meninggal dunia
    Beberapa bayi yang kemudian meninggal karena SIDS telah di pelajari sebelum meninggal. Seorang bayi mempunyai suara tangisan yang bernada tinggi, lebih lemah dari tangisan normal. Yang lain mengalami takikardia dengan variasi dari denyut ke denyut yang kurang normal. Bayi yang lain lagi memperlihatkan frekuensi pernafasan serta penurunan insiden apnea. Dan yang terakhir, seorang bayi labilitas yang lebih tinggi dari normalserta stabilisasi denyut jantung yang lebih buruk.

    F. Temuan-temuan pada bayi dengan risiko tinggi SIDS
    Saudara sekandung dari bayi dengan SIDS menurut peneliti :
    1. Sekelompok bayi yang merupakan saudara kandung dari bayi-bayi dengan SIDS di jumpai dengan insiden yang meninggi, serta dengan pernafasan periodic yang lebih lama pada saat tidur bila di bandingkan kelompok control atau bayi normal.
    2. Peningkatan frekuensi pernafasan dan penurunan insidens jeda pernafasan selama tidur diantara saudara sekandungbayi-bayi dengan SIDS; sampai jeda yang panjang ( lebih dari sepuluh detik ), kelompok terakhir ini tidak dapat dibedakan dari bayi-bayi yang normal.
    Bayi-bayi dengan SIDS abortif atau hampir hilang
    Pada suatu kelompok bayi dengan bukti-bukti SIDS abortif atau hamper hilang di temukan dalam keadaan tidak responsif, sianotik, dan apneik, serta mendapat resusitasi dari mulut ke mulut,di temukan bahwa dalam 4 bulan pertama kehidupan bayi-bayi ini memiliki denyut jantung yang lebih cepat. Sedangkan pada kelompok bayi yang hamper hilanh lainnya, peneliti lain menemukan peningkatan frekuensi pada paparan gas dengan tegangan oksigen rendah. Dan pada kelompok bayi yang hamper hilang lainnya, pemeriksaan neurologik yang rinci menemukan abnormalitas tonus otot yang konsisten

    G. Diagnosis
    Semakin banyak bukti bahwa bayi dengan resiko SIDS mempunyai cacat fisiologik sebelum lahir. Pada neonatus dapat di temukan nilai apgar yang rendah dan abnormalitas control respirasi, denyut jantung dan suhu tubuh, serta dapat pula mengalami retardasi pertumbuhan pasca natal.

    H. Pencegahan SIDS
    1. Selalu letakkan bayi Anda dalam posisi terlentang ketika ia sedang tidur, walaupun saat tidur siang. Posisi ini adalah posisi yang paling aman bagi bayi yang sehat untuk mengurangi risiko SIDS.
    2. Jangan pernah menengkurapkan bayi secara sengaja ketika bayi tersebut belum waktunya untuk bisa tengkurap sendiri secara alami.
    3. Gunakan kasur atau matras yang rata dan tidak terlalu empuk. Penelitian menyimpulkan bahwa risiko SIDS akan meningkat drastis apabila bayi diletakkan di atas kasur yang terlalu empuk, sofa, bantalan sofa, kasur air, bulu domba atau permukaan lembut lainnya.
    4. Jauhkan berbagai selimut atau kain yang lembut, berbulu dan lemas serta mainan yang diisi dengan kapuk atau kain dari sekitar tempat tidur bayi Anda. Hal ini untuk mencegah bayi Anda terselimuti atau tertindih benda-benda tersebut.
    5. Pastikan bahwa setiap orang yang suka mengurus bayi Anda atau tempat penitipan bayi untuk mengetahui semua hal di atas. Ingat setiap hitungan waktu tidur mengandung risiko SIDS.
    6. Pastikan wajah dan kepala bayi Anda tidak tertutup oleh apapun selama dia tidur. Jauhkan selimut dan kain penutup apapun dari hidung dan mulut bayi Anda.
    7. Pakaikan pakaian tidur lengkap kepada bayi Anda sehingga tidak perlu lagi untuk menggunakan selimut. Tetapi seandainya tetap diperlukan selimut sebaiknya Anda perhatikan hal-hal berikut ini: Pastikan kaki bayi Anda berada di ujung ranjangnya, Selimutnya tidak lebih tinggi dari dada si bayi,Ujung bawah selimut yang ke arah kaki bayi, Anda selipkan di bawah kasur atau matras sehingga terhimpit.
    8. Jangan biarkan siapapun merokok di sekitar bayi Anda khususnya Anda sendiri. Hentikan kebiasaan merokok pada masa kehamilan maupun kelahiran bayi Anda dan pastikan orang di sekitar si bayi tidak ada yang merokok.
    9. Jangan biarkan bayi Anda kepanasan atau kegerahan selama dia tidur. Buat dia tetap hangat tetapi jangan terlalu panas atau gerah. Kamar bayi sebaiknya berada pada suhu yang nyaman bagi orang dewasa. Selimut yang terlalu tebal dan berlapis-lapis bisa membuat bayi Anda terlalu kepanasan.
    10. Temani bayi Anda saat ia tidur. Jangan pernah ditinggal-tinggal sendiri untuk waktu yang cukup lama.

    BACA SELENGKAPNYA - Bayi Meninggal Mendadak

    30 October 2010

    Tanda Cukup ASI

    Bayi usia 0-6 bulan, dapat dinilai mendapat kecukupan ASI bila mencapai keadaan sebagai berikut:

    1. Bayi minum ASI tiap 2-3 jam atau dalam 24 jam minimal mendapatkan ASI 8 kali pada 2-3 minggu pertama.

    2. Kotoran berwarna kuning dengan frekuensi sering, dan warna menjadi lebih muda pada hari kelima setelah lahir.

    3. Bayi akan buang air kecil (BAK) paling tidak 6-8 x sehari.

    4. Ibu dapat mendengarkan pada saat bayi menelan ASI.

    5. Payudara terasa lebih lembek, yang menandakan ASI telah habis.

    6. Warna bayi merah (tidak kuning) dan kulit terasa kenyal.

    7. Pertumbuhan berat badan (BB) bayi dan tinggi badan (TB) bayi sesuai dengan grafik pertumbuhan.

    8. Perkembangan motorik baik (bayi aktif dan motoriknya sesuai dengan rentang usianya).


    9. Gambar 1. Bayi dengan motorik baik oleh karena kecukupan ASIGambar 1. Bayi dengan motorik baik oleh karena kecukupan ASI


    10. Bayi kelihatan puas, sewaktu-waktu saat lapar bangun dan tidur dengan cukup.

    11. Bayi menyusu dengan kuat (rakus), kemudian melemah dan tertidur pulas.


    Gambar 2. Bayi tertidur pulas oleh karena kecukupan ASIGambar 2. Bayi tertidur pulas oleh karena kecukupan ASI


    Referensi

    Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 29-30)

    www.bkkbn.go.id/Webs/DetailProgram.php?LinkID=249 Perawatan Bayi Dengan ASI . Diunduh 11 November 2009 – 08:04 PM.

    http://ruanglaktasi.blogspot.com/ Soraya, L. 2007. Cukupkah ASI Saya Untuk Bayi?. Diunduh 11 November 2009 – 08:15 PM.

    http://www.scribd.com/doc/19706805/MANAJEMEN-LAKTASI. Diunduh 11 November 2009 – 10:05 PM.

    http://askep-askeb.cz.cc/
    BACA SELENGKAPNYA - Tanda Cukup ASI

    17 October 2010

    Manajemen Laktasi

    MANAGEMEN LAKTASI

    Pendahuluan

    Perkembangan dan pertumbuhan bayi dan anak sangat dipengaruhi oleh ibu. Sejak masa kehamilan janin menerima nutrisi dari ibu melalui plasenta.pada masa bayi didalam tubuh ibu secara alami telah disediakan makanan yang dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan selanjutnya berupa ASI.

    Banyak ahli sepakat ASI lebih unggul daripada susu formula atau susu sapi. Pada abad ke-19 beberapa studi kedokteran yang dilakukan di Eropa menunjukkan angka kematian dan kesakitan bayi – bayi yang diberikan ASI ternyata lebih rendah daripada yg diberi susu formula.

    4.Payudara bengkak

    Kadang payudara bengkak atau penuh,oedema ringan oleh hambatan vena atau saluran limfe akibat ASI yang menumpuk.Faktor2 yang penyebab payudara bengkak:bayi tidak menyusu dengan kuat,posisi bayi pada payudara salah sehingga proses menyusui tidak benar,putting susu datar atau terbenam.

    5.Saluran susu tersumbat.

    Keadaan dimana terjadi sumbatan pada satu atau lebih saluran susu /duktus laktiferus.

    6.Mastitis dan abses payudara

    Mastitis adalah peradangan pada payudara ,bagian yang terkena menjadi merah,bengkak,nyeri dan panas,suhu tinggi kadang2 menggigil,terjadi pada minggu 1-3 setelah melahirkankarena lanjutan dari sumbatan saluran susu.

    Cara mengatasinya:

    * Memberikan antibiotika dan simtomatik terhadap nyeri
    * Kompres air hangat
    * Ibu cukup istirahat dan banyak minum
    * Sebelum terbentuk abses ,menyusui tetap di berikan.
    * Apabila terjadi abses ,rujuk ke dokter bedah untuk di insisi
    * Pemberian antibiotika dosis tinggi,analgesik/anti piretik
    * Ibu harus cukup istirahat
    * Bayi dihentikan menyusu

    penutup

    Menyusui adalah proses alami manusia tetapi tidak sederhana seperti yang di bayangkan khalayak umum.Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan ini. Agar menyusui berhasil, setiap ibu harus percaya dapat melakukannya dengan didukung petunjuk pengetahuan dan manajemen praktek menyusui yang benar dan tepat. Persiapan dini sejak masa kehamilan hingga menyusui sangat membantu kelancaran proses menyusui secara keseluruhan.

    Penggunaan ASI telah dideklarasikan sebagai gerakan nasional yang merupakan upaya peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak.Untuk mencapai keberhasilan gerakan nasional perlu didukung oleh peran serta seluruh anggota masyarakat para ibu sebagai pelopor peningkatan kualitas sumberdaya indonesia.praktek menyusui yg baik dan benar setiap ibu perlu mempelajarinya.bukan pada ibu yang pertama kali hamil dan melahirkan tetapi juga ibu – ibu yang melahirkan anak yang ke 2 dan seterusnya.

    peranan petugas kesehatan sangat penting dalam melindungi,meningkatkan, dan mendukung usaha menyusui baik sebelum, selama maupun setelah kehamilan dan persalinan.Petugas kesehatan harus mampu memotivasi , memberikan bimbingan dan penyuluhan manajemen menyusui dikalangan ibu.Dukungan tenaga kesehatan ini akan sangat menentukan suksesnya kampaye ASI disamping dukungan keluarga dan lingkungan.

    Dengan mengikuti dan mempelajari pengetahuan mengenai menyusui atau laktasi diharapkans etiap ibu hamil,bersalin dan menyusui dapat memberikan ASI secara optimal sehingga bayi dapat tumbuh kembang normal sebagai calon sumberdaya manusia yang berkualitas.

    A. ASI LEBIH BAIK DARIPADA SUSU FORMULA

    ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan bayi dalam 4 – 6 bulan pertama kehidupan.

    keunggulan ASI dibanding susu formula adalah :

    1. ASI praktis,ekonomis,dan hygienis.

    2.Mengandung semua bahan / zat gizi yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi.

    3.Dapat diberikan dimana aja dan kapan s aja dalam keadaan segar, bebas bakteri dan suhu yang sesuai,tanpa penggunaan alat bantu.

    4.Bebas dari kesalahan dalam penyediaan / takaran.

    5.Problem kesulitan pemberian makanan pada bayi jauh lebih sedikit daripadea bayi yang mendapat susu formula buatan.

    6.Mengandung imunoglobulin

    7.Mencegah terjadinya keadaan gizi salah.

    Sedangakan menyusui bayi mempuyai keuntungan keuntungan sebagai berikut :

    1.Menyusui membantu menghentikan perdarahan setelah melahirkan.

    2.Menyusui berdasarkan permintaan membantu mencegah kehamilan.

    3.Menyusui baik secara kejiwaan atau psikologi bagi ibu dan bayi menimbulkan kedekatan secara emosional yang baik.

    B.PRODUKSI ASI

    Hari pertama setelah persalinan seringkali payudara ibu terasa kosong.air susu yang pertama kali dikeluarkan terasa sedikit disebut susu jolong/ kolostrum berwarna kekuningan.kolostrum mengandung sel darah putih dan protein imunoglobulin pembunuh kuman.kolostrum dianggap sebagai imunisasi pertama yang diterima bayi baru lahir.

    1.Hormon dan Refleks yang berperan menghasilkan ASI

    ASI dihasilkan oleh ekrja gabungan hormon dan refleks.Pada kehamilan terjadi perubahan hormon untuk mempersiapkan produksi ASI.setelah persalinan perubahan hormon membuat payudara menghasilkan ASI.

    2hormon tersebut adalah

    * Hormon prolaktin /hormon produksi ASI dihasilkan oleh eklenjar hipofise didasar otak yang membuat sel kelenjar payudara menghasilkan ASI.Hormon ini mempunyai efek penting dalam menekan fungsi indung telur sehingga memperlambat kesuburan atau haid.
    * Hormon oksitosin/ hormon pengeluaran ASI dihasilkan dari bagian belakang hipofise hormon ini membuat otot – otot mengkerut dan memeras ASI keluar.

    REFLEKS-REFLEKS MENYUSUI PADA IBU DAN BAYI

    Pada saat menyusui akan terjadibeberapa refleks pada ibu an bayi yang penting pengaruhnya terhadap kelancaran menyusui.

    Refelks yang terjadi pada ibu yaitu rangsangan yang terjadi sewaktu bayi menghisap putting susu diantaranya:

    1. Refleks Prolaktin (rangsangan ke otak untuk mengeluarkan hormon prolaktin), hormon ini akan merangsang sel-sel kelenjar payudara untuk memproduksi ASI. makin sering bayi menghisap, makinbanyak prolaktin yang lepas makin banyak pula ASI yang diproduksi. maka cara yang terbaik mendapatkan ASI dalam jumlah banyak adalh menyusui bayi sesering mungkin atau setidaknya menempelkan putting susu ibu pada mulut bayi untuk bisa dihisap bayinya.
    2. Refleks Oksitosin (rangsangan ke otak untuk mengeluarkan hormon oksitosin), hormon ini akan memacu sel-sel otot yang mengelilingi jaringan kelenjar susu dan saluranya unutk berkontraksi, sehingga memeras air susu keluar menuju putting susu. ibu perlu mewaspadai bahwa tekanan karena kontraksi otot ini kadang-kadang begitu kuat sehingga air susu keluar dari putting menyembur, ini bisa membuat bayi tersedak.

    Refleks oksitosin dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, dan sensasi ibu. biasanya perasaan ibu bisa merangsang pengeluaran ASI secara refleks, tetapi kadang-kadang juga menghambatnya. perasaan yang bisa menghentikan refleks oksitosin misalnya, khawatir, sedih, atau takut akan sesuatu. ibu kesakitan pada saat menyusui atau merasa malu. refleks ini bisa muncul pada saat sang ibu mendengar bayinya menangis, melihat foto bayinya atau sedang teringat pada bayinya berada jauh. manfaaat refleks oksitosin lainya adalah membantu lepasnya plasenta dari rahim ibu dan menghentikan perdarahan persalinan.

    Refleks yang terjadi pada bayi diantaranya:

    * Rooting Refleks, bila bayi baru lahir disentuh pipinya, dia akan menoleh kearah sentuhan. bila bibirnya dirangsang atau disentuh dia akan membuka mulut dan berusaha mencari putting untuk menyusu.
    * Sucking Refleks, atau refleks menghisap. refleks ini terjadi bila ada sesuatu yang merangsang langit-langit dalam mulut bayi. jika putting susu menyentuh langit-langit belakang mulut bayi terjadi refleks menghisap dan terjadi tekanan terhadap daerah aerola oleh gusi, lidah, serta langit-langit, sehingga isi sinus laktiferus (tempat penampungan ASI pada payudara) diperas keluar kedalam rongga mulut bayi.
    * Refleks Menelan, bila ada cairan didalam rongga mulut terjadi refleks menelan.

    2. PEMASOKAN DAN KEBUTUHAN PENGELUARAN ASI

    Payudara memasok ASI sebanyak kebutuhan bayi, bila bayi menghisap lebih sering, payudara akan membuat ASI lebih banyak. bila bayi berhenti menghisap sama sekali atau tidak pernah memulainya payudara akan berhenti membuat ASI.

    Bila ASI tidak dikeluarkan payudara akan menghasilkan ASI lebih sedikit. agar ASi dapat dibuat terus maka penting untuk mengeluarkan ASI dari payudara.

    3. PERSIAPAN LAKTASI SEJAK DINI

    Persiapan menyusui perlu dilakukan seawal mungkin pada setiap wanita hamil dan para ibu hendaknya mengetahui upaya-upaya yang seharusnya dilakukan untuk meningkatkan pemberian ASI/ menyusui.

    KLINIK ANTENATAL

    Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam klinik Antenatal bagi ibu hamil adalah :

    1. Gizi ibu hamil, dari konsumsi zat gizi yang masuk kedalam tubuh serta cadangan yang ada pada wanita hamil dan menyusui akan digunakan untuk aktivitas dan metabolisme tubuh ibu, dan proses pembentukan ASI, nilai kalori serta zat gizi dari ASI itu sendiri.
    2. Perilaku ibu hamil
    a.kecukupan istirahat
    Wanita hamil sebaiknya tidur minimal 8 jam sehari, kegiatan dan gerakannya sehari-hari harus memperhatikan perubahan fisik dan mental yang terjadi pada dirinya .Diantara waktu tersebut harus adawaktu untuk istirahat (santai) guna melemaskan otot-otot.
    b.Tidak merokok,minum alkohol,kopi,soda.
    Termasuk menjauhi asap rokok dari orang lain.minuman kopi dan minuman soda dapat mengurangi kemampuan usus untuk menyerap kalsium dan zat besi.
    3. obat-obatan

    Pemakaian obat-obatan selama hamil hanya atas petunjuk bidan atau dokter, terutama menjelang persalinan perlu diperhatikan, agar tidak berpengaruh terhadap laktasi.

    4. keluhan lain

    A danya keluhan lain, misalnta sakit gigi /mulut,infeksi lainya.

    5.Hygiene personal dan lingkungan.

    Kebersihan diri dan pakaian yang nyaman perlu mendapat perhatian untuk menjaga kesehatan .pilihlah pakaian yang longgar ,ringan dan mudah menyerap keringat.

    6. Pendukung

    Sebaiknya selama 3bulan terakhir kehamilan,seorang ibu telah menentukan dokter yang akan mengawasinya persalinan anaknya.Kerjasama antara tenaga penolong persalinan dan dokter anak juga harus di bina.

    PERAWATAN PAYUDARA

    Demi keberhasilan menyusui ,payudara memerlukan perawatan sejak dini secara teratur .Perwatan selama kehamilan bertujuan agar selama menyusui kelak produksi asi cukup.tidak terjadi kelainan pada payudara dan payudara tetap baik setelah menyusui.

    Pada umumnya wanita dalam kehamilan 6-8 minggu akan mengalami pembesaran payudara,akan lebih padat,kenyal,kencang,sakit dan tampak jelas di permukaan kulit adanya gambaran pembuluh darah yang bertambah serta melebar. kelenjar Montgomery pada daerah areola tampak lebih nyata dan menonjol.

    Guna menunjang perkembangan payudar dalam kehamilan perlu di lakukan sbb:

    1.Pemakaian BH yang tepat,sebaiknya ibu hamil harus memakai bra yang tepat dan ukuran yang sesuai dapat menopang perkembangan payudara.

    2.Latihan otot-otot yang menopang payudara.

    3.Hygiene payudara

    Kebersihan/hygiene payudara juga harus di perhatikan ,khususnya daerah papila dan aerola .pada saat mandi sebaiknya papila dan areola tidak di sabuni.untuk menghindari keadan kering dan kaku akibat hilangnya lendir pelumas yang dihasilkan kelenjar Montgomery.Areola dan papila yang kering akan memudahkan terjadinya lecet dan infeksi.

    D. HAL HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PRAKTEK LAKTASI

    Untuk mencapai keberhasilan menyusui,para ibu perlu mengetahui sedikit banyak pengetahuan tentang menyusui yang benar.

    Hal-hal berikut ini merupakan beberapa hal yang perlu di perhatikan setiap ibu demi kelancaran menyusui antara lain :

    1.Nutrisi ibu menyusui

    Meskipun umumnya keadaan gizi pada ibu hanya akan mempengaruhi kuantitas dan bukan kualitas asinya, ibu menyusui sebaiknya tidak membatasi konsumsi makananya. Penurunan berat badan sesudah melahirkan sebaiknya tidak melebihi 0,5 kg/minggu.Pada bulan pertama menyusui, yaitu saat bayi hanya mendapatkan ASI saja (”exlusive breastfeeding period”), ibu membutuhkan tambahan kalori sebanyak 700 kkl/hari, pada 6 bulan berikutnya 500 kkal/hari dan pada tahun kedua 400 kkal/hari.

    Jumlah cairan yang dibutuhkan ibu menyusui dianjurkan minum 8 – 12 gelas perhari.

    2. Istirahat

    Bila laktasi tidak berlangsung baik biasanya penyabab utamanya adalah kelelahan pada ibu.Oleh karena itu, istirahat dan tidur yang cukup merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi.

    3. Obat – obatan

    Pemakaian obat – obatan dalam masa menyusui perlu mendapat perhatian, apakah mempunyai efek samping yang positif atau negatif terhadap laktasi. Contoh obat yang dapat mengurangi produksi ASI yaitu pil KB yang mengandung hormon estrogen.

    4.Posisi ibu-bayi yang benar saat menyusui

    Dapat dicapai bila bayi tampak menyusui dengan benar, bayi menempel betul pada ibu mulut dan dagu bayi menempel betul pada payudara, mulut bati membuka lebar, sebagian besar areola tertutup mulut bayi, bayi menghisap ASI pelan-pelan dengan kuat, puting susu ibu tidak terasa sakit dan puting terhadap lengan bayi berada pada satu garis lurus.

    5. Penilaian kecukupan ASI pada bayi

    Bayi usia 0 – 4 bulan atau 6 bulan dapt dinilai cukup pemberian ASInya bila tercapai keadaan sebagai berikut:

    a. Berat badan lahir telah pulih kembali setelah bayi berusia 2 minggu

    b. Kenaikan berat badan dan tinggi badan sesuai dengan kurve pertumbuhan normal

    c. Bayi banyak ngompol sampai 6 kali atau lebih dalam sehari

    d. Tiap menyusui, bayi menyusu kuat (rakus).

    e. Payudara ibu terasa lunak setelah disusukan dibanding sebelumnya

    6. Diluar waktu menyusui

    Jangan membiasakan bayi menggunakan dot atau kempeng. Berikan ASI dengan sendok bila ibu tidak dapat menyusui bayinya.

    7. Ibu bekerja

    Selama cuti hendaknya ibu menyusui bayinya terus. Jangan juga membiasakan bayi menyusu dengan botol bila masa cuti telah habis dan ibu harus bekerja kembali.

    8. Pemberian makanan pendamping ASI

    Makanan pendamping ASI hendaknya diberikan mulai usia bayi 4 – 6 bulan. BIla ibu bekerja sebaiknya makanan pendamping ASI diberikan pada jam kerja, sehingga ASI tetap diberikan setelah ibu berada di rumah.

    9. Penyapihan

    Menghentikan pemberian ASI harus dilakukan secara bertahap dengan jalan meningkatkan frekuensi pemberian makanan anak dan menurunkan frekuensi pemberian ASI secara bertahap dalam kurun waktu 2 – 3 bulan.

    10. Klinik laktasi

    Pusat pelayanan kesehatan ibu dan anak harus memiliki pelayanan yang dapat meyakinkan setiap ibu dalam masa menyusui bahwa ia selalu dapat berkonsultasi untuk setiap masalah laktasi yang dialaminy. Untuk itu perlu diadakan klinik laktasi atau tenaga terlatih untuk membantunya pada sarana pelayanan kesehatan yang terdekat.

    11. Kelompok pendukung ASI

    Perlu dibina adanya kelompok pendukung ASI DI lingkungan masyarakat, yang dapat merupakan sarana untuk mendukung ibu-ibu di lingkungan tersebut agar berhasil menyusui bayinya, dibantu oleh tenaga kesehatan yang ada di lingkungan tersebut. Melalui kelompok ini, ibu-ibu menyusui dapat mengadakan diskusi dan mendapat bantuan bila mengalami masalah dalam menyusui bayinya.

    E. LANGKAH-LANGKAH MENYUSUI YANG BAIK DAN BENAR

    LANGKAH-LANGKAH MENYUSUI

    Langkah-langkah menyusui yang baik dan benar meliputi hal-hal berikut :

    1. Persiapan mental dan fisik ibu menyusui

    Ibu yang akan menyusui harus dalam keadaan tenang. Bila perlu minum segelas air sebelum menyusui. Hindari menyusui dalam keadaan lapar dan haus. Sediakan tempat dengan peralatan yang diperlukan, seperti kursi dengan sandaran punggung dan sandaran tangan, bantal untuk menopang tangan yang menggendong bayi.

    2. Hygiene personal ibu menyusui

    Sebelum menggendong bayi untuk menyusui, tangan harus dicuci bersih. Sebelum menyusui, tekan daerah areola di antara telunjuk dan ibu jari sehingga keluar 2-3 tetes ASI, kemudian dioleskan ke seluruh puting dan areola. Cara menyusui yang terbaikadalah bila ibu melepaskan BH dari kedua payudara.

    3. Menyusui bayi sesuai dengan permintaan bayi

    Susukan bayi sesuai dengan kebutuhannya (”on demand“), jangan dijadwalkan. Biasanya kebutuhan terpenuhi dengan menyusui tiap 2-3 jam sekali. Setiap kali menyusui, lakukanlah pada kedua payudara kiri dan kanan secara bergantian, masing-masing sekitar 10 menit. Mulailah dengan payudara sisi terakhir yang disusui sebelumnya. Periksa ASI sampai payudara terasa kosong.

    4. Setelah selesai menyusui, oleskan ASI lagi seperti awal menyusui tadi. Biarkan kering oleh udara sebelum kembali memakai BH. Langkah ini berguna untuk mencegah lecet.

    5. Membuat bayi bersendawa setelah menyusui harus selalu dilakukan, untuk mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi tidak kembung dan muntah.

    Bila terjadi keadaad lecet pada puting dan atau sekitarnya, sebaiknya ibu tetep menyusui dengan mendahului pada puting yang tidak lecet. Sebelum diisap, puting yang lecet dapat diolesi es untuk mengurangi rasa sakit. Yang lebih penting dari kejadian ini adalah mencari penyebab lecet tersebut yang tentunya harus dihindari.

    Keadaan engorgement (payudara bengkak) yang sering terjadi pada payudara yang elastisitasnya kurang. Untuk mengatasinya, kompres payudara dengan handuk hangat kira-kira 4-5 menit, kemudian dilakukan masase dari tepi ke arah puting hingga ASI keluar. Setelah itu baru bayi disusukan. Jangan
    BACA SELENGKAPNYA - Manajemen Laktasi
    INGIN BOCORAN ARTIKEL TERBARU GRATIS, KETIK EMAIL ANDA DISINI:
    setelah mendaftar segera buka emailnya untuk verifikasi pendaftaran. Petunjuknya DILIHAT DISINI