kolom pencarian

KTI D3 Kebidanan[1] | KTI D3 Kebidanan[2] | cara pemesanan KTI Kebidanan | Testimoni | Perkakas
PERHATIAN : jika file belum ter-download, Sabar sampai Loading halaman selesai lalu klik DOWNLOAD lagi

26 September 2010

Gambaran kemampuan motorik kasar pada anak di bawah tiga tahun (BATITA) di posyandu

Gambaran kemampuan motorik kasar pada anak di bawah tiga tahun (BATITA) di posyandu

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari upaya membangun manusia seutuhnya antara lain diselenggarakan melalui upaya kesehatan anak yang dilakukan sedini mungkin sejak anak masih di dalam kandungan. Upaya kesehatan yang dilakukan sejak anak masih di dalam kandungan sampai lima tahun pertama kehidupannya, ditujukan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sekaligus meningkatkan kualitas hidup anak agar mencapai tumbuh kembang optimal baik fisik, mental, emosional maupun sosial serta memiliki intelegensi majemuk sesuai dengan potensi genetiknya (Depkes RI, 2005 : 1).
Masa balita adalah masa emas (golden age) dalam rentang perkembangan seorang individu. Pada masa ini, anak mengalami tumbuh kembang yang luar biasa baik dari segi motorik, emosi, kognitif maupun psikososial (Harlimsyah, 2007: 1). Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinasi antara susunan saraf, otot dan serabut saraf spinal (Amori, 2008: 1). Motorik kasar merupakan area terbesar perkembangan di usia batita (bawah tiga tahun) (Irwan, 2008: 1) diawali dengan kemampuan duduk, merangkak, berdiri dan diakhiri dengan berjalan. Kemampuan gerak ditentukan oleh perkembangan kekuatan otot, tulang, dan koordinasi otak untuk menjaga keseimbangan tubuh (Widyastuti dan Widyani, 2007 : 20).
Faktor-faktor yang menghambat perkembangan motorik meliputi kondisi ibu yang kurang menyenangkan selama kehamilan, trauma di kepala akibat kelahiran yang sulit, IQ di bawah normal, perlindungan yang berlebihan atau kelahiran sebelum waktunya, gizi yang kurang setelah lahir, kurangnya rangsangan, dorongan dan kesempatan menggerakkan semua bagian tubuh akan dapat memperlambat perkembangan kemampuan motorik anak (Widyastuti dan Widyani, 2007 : 20)
Perkembangan seorang anak merupakan suatu kesatuan yang utuh (Kavindra, 2005: 1). Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri. Seorang anak tidak akan bisa berdiri bila pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat, karena itu perkembangan awal merupakan masa kritis karena akan menentukan perkembangan selanjutnya (Depkes RI, 2005:4). Sehingga apabila perkembangan motorik anak terganggu, maka perkembangan selanjutnya akan terganggu pula dan jika tidak ditangani dengan baik, apalagi tidak terdeteksi, akan mengurangi kualitas sumber daya manusia di kelak kemudian (FKUI, 1996 : 12).
Sekitar 16 % dari anak usia di bawah lima tahun (balita) Indonesia mengalami gangguan perkembangan saraf dan otak mulai ringan sampai berat (Depkes, 2006: 1) Menurut Pusponegoro (2006: 1), setiap 2 dari 1.000 bayi mengalami gangguan perkembangan motorik, karenanya perlu kecepatan menegakkan diagnosis dan melakukan terapi untuk proses penyembuhannya.
Berdasarkan dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan penulis di Posyandu Melati wilayah kerja Puskesmas Daya Murni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang pada bulan Maret 2008, terdapat 79 Batita, dari 10 Batita yang penulis amati terdapat 2 Batita yang mengalami keterlambatan perkembangan motorik kasar yaitu anak usia 2 tahun belum dapat berjalan yang seharusnya sudah mempunyai kemampuan berdiri sendiri tanpa berpegangan selama 30 detik dan berjalan tanpa terhuyung-huyung dan anak usia 1 tahun hanya memiliki kemampuan duduk dan merangkak yang seharusnya mempunyai kemampuan mengangkat badannya ke posisi berdiri, belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi dan dapat berjalan dengan dituntun.
Berdasarkan uraian dan data di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang gambaran kemampuan motorik kasar pada anak di bawah tiga tahun (Batita) di Posyandu Melati wilayah kerja Puskesmas Daya Murni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Tahun 2008.

B. Rumusan Masalah
Masalah adalah suatu kesenjangan (gap) antara yang seharusnya dengan apa yang terjadi tentang suatu hal atau antara kenyataan yang ada terjadi dengan yang seharusnya ada atau terjadi antara harapan dan kenyataan (Notoatmodjo, 2002: 51).
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut: ”Bagaimanakah gambaran kemampuan motorik kasar pada anak di bawah tiga tahun (Batita) di Posyandu Melati wilayah kerja Puskesmas Daya Murni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang tahun 2008 ?”.

C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini penulis memberikan ruang lingkup penelitian sebagai berikut :
1. Jenis penelitian : Deskriptif
2. Subjek penelitian : Batita di Posyandu Melati wilayah kerja Puskesmas Daya Murni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Tahun 2008.
3. Objek penelitian : Kemampuan motorik kasar pada anak di bawah tiga tahun (Batita) di Posyandu Melati wilayah kerja Puskesmas Daya Murni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang
4. Lokasi penelitian : Posyandu Melati wilayah kerja Puskesmas Daya Murni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang
5. Waktu : Pada tanggal 10 Juni 2008

D. Tujuan
1. Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui gambaran kemampuan motorik kasar pada anak di bawah tiga tahun (Batita) di Posyandu Melati wilayah kerja Puskesmas Daya Murni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang tahun 2008.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui gambaran kemampuan motorik kasar pada anak di bawah tiga tahun (Batita) usia 0 - 1 tahun di Posyandu Melati wilayah kerja Puskesmas Daya Murni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang tahun 2008.
b. Untuk mengetahui gambaran kemampuan motorik kasar pada anak di bawah tiga tahun (Batita) usia 1 - 2 tahun di Posyandu Melati wilayah kerja Puskesmas Daya Murni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang tahun 2008.
c. Untuk mengetahui gambaran kemampuan motorik kasar pada anak di bawah tiga tahun (Batita) usia 2 - 3 tahun di Posyandu Melati wilayah kerja Puskesmas Daya Murni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang tahun 2008.

E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Bagi Institusi Puskesmas
Diharapkan dapat menambah wawasan bagi tenaga kesehatan khususnya bidan mengenai kemampuan motorik batita dan sebagai tambahan informasi dalam kegiatan penyuluhan.
2. Bagi institusi pendidikan Prodi Kebidanan Metro
Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa dan sebagai dokumen bagi Prodi Kebidanan Metro.
3. Bagi Peneliti Lain
Dapat dijadikan bahan perbandingan untuk melakukan penelitian lain atau penambahan variabel penelitian yang lebih lengkap, dan metode penelitian yang berbeda.

Gambaran kemampuan motorik kasar pada anak
di bawah tiga tahun (BATITA) di posyandu
BACA SELENGKAPNYA - Gambaran kemampuan motorik kasar pada anak di bawah tiga tahun (BATITA) di posyandu

Secsio Caesarea atas Indikasi Ketuban Pecah Dini

Secsio Caesarea atas Indikasi Ketuban Pecah Dini
BAB I
PENDAHULUAN
  1. LATAR BELAKANG
Persalinan merupakan suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup kedunia luar dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain. ( Rustam Muchtar, 1998 )
Dalam persalinan dibagi menjadi 4 kala. Pada kala I serviks membuka sampai terjadi pembukaan 10 cm. kala I dinamakan pula dengan kala pembukaan. Kala II disebut pula kala pengeluaran, oleh karena berkat kekuatan his dan kekuatan mengedan janin di dorong ke luar sampai lahir. Dalam kala III atau kala uri plasenta terlepas dari dinding uterur dan dilahirkan. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta dan lamanya 1 jam. Dalam kala itu di amati apakah tidak terjadi perdarahan post partum. ( Sarwono Prawirohardjo, 2005 )
Pada kala I, mekanisme membukanya serviks berbeda antara pada primigravida dan multigravida. Pada yang pertama, ostium uteri internum akan membuka lebi dahulu, sehingga serviks akan mendatar dan menipis. Daru kemudian ostium uteri eksternum membuka. Pada multigravida ostium uteri internum sudah sedikit membuka. Ostium uteri internum dan eksternum serta penipisan dan pendataran serviks terjadi dalam saat yang sama. Ketuban akan pecah dengan sendiri ketika pembukaan hamper atau telah lengkakp. Tidak jarang ketuban harus di pecahkan ketika pembukaan hamper lengkap atau telah lengkap. Bila ketuban tela pecah sebelum mencapai pembukaan 5 cm, disebut dengan ketuban pecah dini. ( Sarwono Prawirohardjo, 2005 )
  1. TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
- Untuk memenuhi tugas yang di berikan di OK IGD
- Sebagai bahan pelajaran bagi mahasiswa agar lebih memahami tentang Seksio Sesarea yang berkaitan dengan kasus Ketuban Pecah Dini
- Sebagai bahan pemahaman bagi pembaca agar dapat lebih mengetahui tentang Seksio Sesarea yang berhubungan dengan Ketuban Pecah Dini
BAB II
TINJAUAN TEORI
1. KETUBAN PECAH DINI ( Spontaneus/ early/ Premature of the Membrane )
Pengertian
Adalah pecahnya ketuban sebelum in partu, yaitu bila pembukaan primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. ( Sarwono Prawirohardjo, 2005 )
Prinsip dasar
  • Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung
  • Ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam obstetric berkaitan dengan penyulit kelahiran premature dan terjadinya infeksi khoriokarsinoma sampai sepsis, yang meningkatkaan morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi ibu.
  • Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intrauterine atau oleh kedua faktjor tersebut. Berkurangnya kekuatan membrane disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks.
  • Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi, adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda persalinan. ( Sarwono Prawirohardjo, 2002 )
Etiologi
Penyebab dari PROM tidak / belum jelas, maka preventif tidak dapat dilakukan, kecuali usaha menekan infeksi.
Patogenesis
TAYLOR menyelidiki bahwa ada hubungan dengan hal-hal berikut :
Ø Adanya hipermotilitas rahim yang sudah lama terjadi sebelum ketuban pecah. Penyakit-penyakit seperti pielonefritis, sistitis, sevisitis dan vaginitis terdapat bersama-sama dengan hipermotilitas rahim ini.
Ø Selaput ketuban terlalu tipis ( kelainan ketuban )
Ø Infeksi ( amnionitis atau korioamnionitis )
Ø Factor-faktor lain yang merupakan predisposisi ialah : multipara, malposisi, disproporsi, cervix incompetent dan lain-lain.
Ø Ketuban pecah dini artificial ( amniotomi ), dimana ketuban dipecahkan terlalu dini.
Kadang-kadang agak sulit atau meragukan kita apakah ketuban benar sudah pecah atau belum, apalagi bila pembukaan kanalis servikalis belum ada atau kecil. Cara menentukannya adalah :
Ø Memeriksa cairan yang berisi mekonium, verniks kaseosa, rambut lanugo atau bila telah terinfeksi berbau
Ø Inspekulo : lihat dan perhatikan apakah memang air ketuban keluar dari kanalis servikalis dan apakah ada bagian yang sudah pecah
Ø Gunakan kertas lakmus ( litmus )
Bila menjadi biru ( basa ) = air ketuban
Bila menjadi merah ( asam ) = air kemih ( urin )
Ø Pemeriksaan pH forniks posterior pada PROM pH adalah basa ( air ketuban )
Ø Pemeriksaan histopatologi air ( ketuban )
Ø Aborization dan sitologi air ketuban
Penilaian kllinik
o Tentukan pecahnya selaput ketuban
o Tentukan usia kehamilan, bila perlu dengan pemeriksaan USG
o Tentukan ada tidaknya infeksi. Tanda-tanda infeksi : bila suhu ibu > 38 ˚C, air ketuban yang keruh dan berbau. Pemeriksaan air ketuban dengan tes LEA
( Lekosit Esterase ) Lekosit darah > 15.000 / mm3. janin yang mengalami takhikardi, mungkin infeksi intrauterine.
o Tentukan tanda-tanda in partu, tentukan adanya kontraksi yang teratur. Periksa dalam dilakukan bila akan dilakukan penanganan aktif ( terminasi kehamilan ) antara lain untuk menilai untuk menilai skor pelvic.
Pengaruh PROM
a. Terhadap janin
Walaupun ibu belum menunjukan gejala-gejala infeksi tetapi janin mungkin sudah terkena infeksi, karena infeksi intrauterine terlebih dahulu terjadi ( amniotomi, vaskulitis ) sebelum gejala pada ibu dirasakan. Jadi, akan meninggikan mortallitas dan morbiditas perinatal.
b. Terhadap ibu
Karena jalan lahir telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi intrapartal, apalagi bila terlalu sering periksa dalam. Selain itu juga daapt dijumpai infeksi puerpuralis ( nifas ), peritonitis dan septicemia, serta dry-labor.
Ibu akan merasa lelah karena berbaring di tempat tidur, partus akan menjadi lama, maka suhu badan naik, nadi cepat dan nampaklah gejala-gejal infeksi.
Prognosis
Ditentukan oleh cara penatalaksanaan dan komplikasi-komplikasi yang mungkin timbul serta umur dari kehamilan.
Pimpinan persalinan
Ada beberapa macam pendapat mengenai penatalaksanaan dan pimpinan persalinan dalam menghadapi PROM :
a) Bila anak belum viable ( kurang dari 36 minggu ), penderita dianjurkan untuk beristirahat di tempat tidur dan berikan obat-obat antibiotic profilaksis, spasmolitika dan roboransia dengan tujuan untuk mengundur waktu sampai anak viable.
b) Bila anak sudah viable ( lebih dari 36 minggu ) lakukan induksi partus 6-12 jam setelah lag phase dan berikan antibiotika profilaksis. Pada kasus-kasus tertentu dimanaa induksi partus dengan PGE2 dan atau drips sintosinon gagal, maka lakukan tindakan operatif.
Jadi pada PROM penyelesaian persalinan bisa :
§ Partus spontan
§ Ekstraksi vakum
§ Ekstraksi forsep
§ Embriotomi bila anak sudah meninggal
§ Seksiosesarea bila ada indikasi obstetric
Komplikasi
  • Pada anak
IUFD dan IPFD, asfiksia dan prematuritas
  • Pada ibu
Partus lama dan infeksi, atonia uteri, perdarahan postpartum atau infeksi nifas.
Penanganan
  1. Konservatif
· Rawat di RS
· Berikan antibiotika ( ampisilin 4 x 500 mg atau eritomisin bila tak tahan ampisilin ) dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari.
· Jika umur kehamilan <>
· Jika usia kehamilan 32-37 minggu, belum in partu, tidak ada infeksi, tes busa negative : beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi dan kesejateraan janin. Terminasi pada kehamilan 37 minggu.
· Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah in partu, tidak ada infeksi , berikam tokolitik ( salbutamol ), deksametason dan induksi sesudah 24 jam.
· Jika usia kehamilan 32-37, ada infeksi, beri antibiotic dan lakukan induksi.
· Nilai tanda-tanda infeksi ( suhu, lekosit, tanda-tanda infeksi interauterin ).
· Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid, untuk memacu kematangan paru janin dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingiomielin tiap minggu. Dosis betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari, deksametaon IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali.
,b. Aktif
· Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitosin, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio sesarea. Dapat pula diberikan misoprostol 50 μg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.
· Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotic dosis tinggi dan persalinan diakhiri :
Ø Bila skor pelvic <>
Ø Bila skor pelvic > 5, induksi persalinan
2. SEKSIO SESAREA
Istilah seksio sesarea berasal dari perkataan latin caedere yang artinya memotong. Pengertian ini semula dijumpai dalam Roman Law ( Lex regia ) dan Emperor’s law ( Lex Caesarea ) yaitu undang-undang yang menghendaki supaya janin dalam kandungan ibu-ibu yang meninggal harus di keluarkan dari dalam rahim. Jacob nufer tercatat pertama kali melakukan seksio sesarea pada istrinya, dia adalah seorang pemotong babi.
Definisi
Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding perut atau vagina ( suatu histerotomia untuk melahirkan janin dalam rahim ).
Istilah
v Seksio sesarea primer ( efektif )
Dari semula telah direncankan bahwa janin akan dilahirkan secara seksio sesarea, tidak diharapkan lagi kelahiran biasa, misalnya pada panggul sempit ( CV kecil dari 8 cm )
v Seksio sesarea sekunder
Mencoba menunggu kelahiran biasa ( partus percobaan ), bila tidak ada kemajuan persalinan atau partus percobaan gagal, baru dilakukan seksio sesarea.
v Seksio sesarea ulang ( repeat caecarean section )
Ibu yang pada kehamilan lalu mengalami seksio sesarea ( previous caesarean section ) dan pada kehamilan selanjutnya dilakukan seksio sesarea ulang.
v Seksio sesarea histerektomi ( caecarean section hysterectomy )
Suatu operasi dimana setela dilahirkan dengan seksio sesarea, langsung dilakukan histerektomi oleh karena sesuatu indikasi.
v Operasi Porro ( Porro operation )
Suatu operasi tanpa mengeluarkan janin dari kavum uteri 9 tentunya janin sudah mati ) dan langsung dilakukan histerektomi, misalnnya pada keadaan infeksi rahim yang berat.
v Seksio sesarea postmortem ( postmortem caesarean section ) adalah seksio sesarea segera pada ibu hamil cukukp bulan yang meninggal tiba-tiba sedangkan janin masih hidup.
Indikasi
  1. Ibu
    • Disproporsi kepala panggul ( CPD/ FPD )
    • Disfungsi uterus
    • Distosia jaringan lunak
    • Plasenta previa
    • Rupture uteri mangancam
    • Partus lama ( prolonged labor )
    • Partus tak maju ( obstructed labor )
    • Pre-eklamsi dan hipertensi
  2. Janin
    • Janin besar
    • Gawat janin
    • Malpresentasi janin
a) Letak lintang
Greenhill dan Eastman sama-sama sepemdapat :
o Bila ada kesempitan panggul, maka seksio sesarea adalah cara yang terbaik dalam segala letak lintang dengan janin hidup dan besar biasa.
o Semua primigravida dengan letak lintang harus ditolong dengan seksio sesarea, walau tidak ada perkiraan panggul sempit.
o Multipara dengan letak lintang dapat lebih dulu ditolong dengan cara-cara lain.
b) Letak bokong
Seksio sesarea dianjurkan pada letak bokong bila ada :
o Panggul sempit
o Primigravida
o Janin besar dan berharga
c) Presentasi dahi dan muka ( letak defleksi ) bila reposisi dan cara-cara lain tidak berhasil.
d) Presentasi rangkap, bila reposisi tidak berhasil
e) Gemeli, menurut EASTMAN seksio sesarea dianjurkan :
o Bila janin pertama letak lintang atau presentasi bahu ( shoulder presentation )
o Bila terjadi interlock ( locking of the twins )
o Distosia oleh karena tumor
o Gawat janin
Jenis-jenis operasi seksio sesarea
  1. Abdomen ( Seksio Sesarea Abdominalis )
    • Seksio sesarea transperitonealis :
o Seksio sesarea klasik atau corporal dengan insisi memanjang pada korpus uteri
o Seksio sesarea ismika atau profunda atau low cervical dengan insisi pada segmen bawah rahim.
    • Seksio sesarea ekstraperitonealis, yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis, dengan demikian tidak membuka kavum abdominal.
b. Vagina ( Seksio Sesarea vaginalis )
Menurut arah sayatan pada rahim, seksio sesarea dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Sayatan memanjang ( longitudinal ) menurut Kronig
2. Sayatan melintang ( Transversal ) menurut kerr
3. Sayatan huruf T ( T- incision )
v Seksio sesarea Klasik ( Korporal )
Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira sepanjang 10 cm.
Kelebihan
o Mengeluarkan janin lebih cepat
o Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik
o Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
Kekurangan
o Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada reperitonealisasi yang baik
o Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan
v Seksio sesarea Ismika (Profunda )
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang-konkaf pada segmen bawah rahim ( low cervical transversal ) kira-kira 10 cm.
Kelebihan
o Penjahitan luka lebih mudah
o Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik
o Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk Manahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum
o Perdarahan kurang
o Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan rupture uteri spontan kurang/lebih kecil.
Kekurangan
o Luka dapat melebar ke kiri, kanan dan bawah, sehingga dapat menyebabkan a. uterine putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak
o Keluhan paa kandung kemih postoperative tinggi.
komplikasi
    • Infeksi puerpuralis
      • Ringan, dengan kenaikan suhu beberapa hari saja
      • Sedang, dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung.
      • Berat, dengan peritonitis,sepsis dan ileus paralitik. Hal ini sering kita jumpai pada partus terlantar, dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intrapartal karena ketuban yang telah pecah terlalu lama.
Penanganannya adalah dengan pemberian cairan, elektrolit dan antibiotic yang adekuat dan tepat.
    • Perdarahan
Disebabkan karena :
o Banyak pembuluh daah terputus dan terbuka
o Atonia uteri
o Perdarahan pada placental bed
    • Luka kandung kemih, emboliu paru dan keluhan kemih bila reperitonialisasi terlalu tinggi.
    • Kemungkinan rupture uteri spontan pada kehamilan mandating
Prognosis
Dulu angka morbiditas dan moortalitas untuk ibu dan janin tinggi. Pada madda sekarang, oleh karena kemajuan yang pesat daam teknik operasi, anastesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi dan antibiotic angka ini sangat menurun.
Angka kematian ibu pada rumah-rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga-tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000.
Nasib janin yang dittolong secara seksio sesarea sangat tergantung dari keadaan janin sebelum dilakukan operasi.
Nasehat pasca operasi
- Dianjurkan jangan hamil selama kurang 1 tahun, dengan memakai kontrasepsi
- Kehamilan berikutnya hendaknya diawasi dengan antenatal yang baik
- Dianjurkan untuk bersalin di RS yang besar
- Apakah untuk persalinan berikutnya harus dengan seksio sesarea bergantung dari indikasi seksio sesarea dan keadaan pada kehamilan berikutnya
- Hampir di seluruh institute di Indonesia tidak di anut dictum “ once a cesarean always a cesarean “
- Yang dianut adalah “ once a cesarean not always a cesarean “ kecuali pada panggul sempit atau disproporsi sefalo-pelvik.
BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
o Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum in partu, yaitu bila pembukaan primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm
o Penyebab dari PROM tidak / belum jelas, maka preventif tidak dapat dilakukan, kecuali usaha menekan infeksi.
o Adapun pengaruh dari ketuban pecah dini baik pada ibu maupun bayinya yaitu dapat menimbulkan infeksi.
o Jadi pada PROM penyelesaian persalinan bisa : Partus spontan, Ekstraksi vakum, Ekstraksi forsep, Embriotomi bila anak sudah meninggal, Seksiosesarea bila ada indikasi obstetric.
o Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding perut atau vagina ( suatu histerotomia untuk melahirkan janin dalam rahim ).
o Ada bebearapa indikasi dari seksio sesarea : Disproporsi kepala panggul ( CPD/ FPD ), Disfungsi uterus, Distosia jaringan lunak, Plasenta previa, Rupture uteri mangancam, Partus lama ( prolonged labor ), Partus tak maju ( obstructed labor ), Pre-eklamsi dan hipertensi.
o Jenis-jenis dari operasi seksio sesarea : SC transperitonealis ( SC klasik dan SC ismika ) dan SC ekstraperitonealis
2. Saran
Bagi pembaca di sarankan untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan seksio sesarea dengan indikasi ketuban pecah dini. Sehingga dapat di lakukan upaya-upaya yang bermanfaat untuk meghindari kasus diatas.

DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer,arif.dkk.2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta:Media Aesculapius
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri . Jakarta : EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu kebidanan. Jakarta : FKUI
Manuaba, Ida Bagus Gde.1998. “Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan”. Jakarta : EGC
Straight, Barbara R.2005.” keperawatan ibu bayi baru lahir “.Jakarta : EGC
Tiran, denise. 2006. “Kamus saku bidan”. Jakarta : EGC
http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
BACA SELENGKAPNYA - Secsio Caesarea atas Indikasi Ketuban Pecah Dini

Peran Pendamping Selama Proses Persalinan

PERAN PENDAMPING SELAMA PROSES PERSALINAN




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ...........................................................................
2.1. Tujuan Penulisa..........................................................................
1.3.1. Tujuan Umum ...............................................................
1.3.2. Tujuan Khusus...............................................................
3.1. Manfaat Penulisan.....................................................................
BAB II. PEMBAHASAN
2.1. Suami sebagai Pendamping Persalinan....................................
2.2. Pendamping Lainnya dalam Persalinan...................................
BAB III. PENUTUP
3.1. Kesimpulan..............................................................................
3.2. Saran........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Asuhan sayang ibu merupakan asuhan dengan dengan prinsip saling menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu. Cara yang paling mudah untuk membayangkan asuhan sayang ibu adalah dengan menanyakan pada diri kita sendiri,”Seperti inikah asuhan yang ingin saya dapatkan?”atau “Apakah asuhan seperti ini yang saya inginkan untuk keluarga saya yang sedang hamil?” (DepKes RI, 2004).
Salah satu prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan mengikutsertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa jika para ibu diperhatikan dan diberi dukungan selama persalinan dan kelahiran bayi serta mengetahui dengan baik proses persalinan dan asuhan yang akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa aman dan keluaran yang lebih baik (Enkin,et al, 2000). Antara lain juga disebutkan bahwa asuhan tersebut dapat mengurangi jumlah persalinan dengan tindakanseperti ekstraksi vacum, cunam dan seksio cesarea. Persalinan juga akan berlangsung lebih cepat. (Enkin, et al, 2000).
Dukungan dalam persalinan seperti pujian, penentraman hati, tidakkan untuk meningkatkan kenyamanan ibu, kontak fisik, penjelesan tentang yang terjadi selama persalinan dan kelahiran serta sikap ramah yang konstan. Tugas-tugas tersebut dapat dipenuhi oleh bidan. Namun, pada praktiknya bidan juga harus melakukan prosedur medis yang dapat mengalihkan perhatian mereka dari ibu. (Nike Badhi Subeki, SKp, 2003)
Dalam hal ini, seorang wanita yang bersalin harus ditemani oleh orang yang ia percayai dan membuatnya merasa nyaman. Orang tersebut dapat berupa pasangannya, sahabatnya atau anggota keluarganya.
Di negara maju, wanita yang bersalin sering merasa terisolasi di dalam ruangan bersalin di RS besar yang dikelilingi oleh peralatan teknis serta tanpa dukungan dari pasangan atau anggota keluarganya. (Nike Badhi Subeki, SKp, 2003).
Di negara berkembang, beberapa RS besar terlalu dipadati oleh persalinan resiko rendah sehingga dukungan personal dan privasi tidak dapat diberikan. Di Indonesia, tidak semua RS mengizinkan suami atau anggota keluarga lainnya menemani ibu di ruang bersalin. Hampir seluruh persalinan berlangsung tanpa didamping oleh suami atau anggota keluarga lainnya.
Pendamping persalinan hanya dapat dihadirkan jika ibu bersalin di beberapa RS swasta, rumah dokter praktik swasta atau bidan praktik swasta. Dalam hal ini ibu bebas memilih siapa saja yang ia inginkan.
Di kota Padang sendiri, terutama di RS M. Djamil Padang pendamping persalinan tidak pernah dihadirkan. Ibu-ibu yang bersalin hanya didampingi oleh dokter, bidan/perawat atau mahasiswa praktek. ( Padang Ekspres,15 Maret 2008).
Dari fenomena-fenomena yang telah dijelaskan diatas maka penulis tertarik mengambil judul Peran Pendamping dalam Proses Persalinan.
2.1. Tujuan Penelitian
3.1.1. Tujuan Umum
Secara umum tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui peran pendamping selama proses persalinan.
3.1.2. Tujuan Khusus
3.1.2.1.Diketahuinya peran suami sebagai pendamping persalinan
3.1.2.2.Diketahuinya peran pendamping lainnya dalam persalinan
3.1 Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan berguna untuk :
· Menambah pengetahuan mahasiswa tentang peran pendamping dalam proses persalinan
· Sebagai bahan masukan bagi pimpinan BPS agar selalu menghadirkan pendamping selama proses persalinan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Suami sebagai Pendamping persalinan
Menurut Lutfiatus Sholihah (2004) selama masa kehamilan, suami juga sudah harus diajak menyiapkan diri menyambut kedatangan sikecil, karena tidak semua suami siap mental untuk menunggui istrinya yang sedang kesakitan. Adakalanya mereka malah panik. Jadi persiapkan dari sekarang, ajak suami membaca buku tentang proses persalinan.
Menurut Dr. Ruth (2002) suami sebagai pendamping persalinan dapat melakukan hal sebagai berikut :
1. Memberi dorongan semangat yang akan dibutuhkan jika persalinan lebih lama dari yang diperkirakan. Suami sebaiknya diberitahu terlebih dahulu bahwa jika istri berteriak padanya hanya karena sang istri tidak mungkin berteriak pada dokter
2. Memijat bagian tubuh, agar anda tidak terlalu tegang atau untuk mengalihkan perhatian istri dari kontraksi. Pukulan perlahan pada perut yang disebut effleurage, dengan menggunakan ujung jari merupakan pijatan yang disarankan
3. Memastikan istri merasa nyaman dengan menyediakan bantal, air, permen atau potongan es untuk istri atau memanggilkan perawat atau dokter jika istri membutuhkan bantuan
4. Memegang istri saat mengedan agar istri memiliki pegangan saat mendorong dan memimpin istri agar mengedan dengan cara yang paling efektif
Bila suami tidak bersedia mendampingi saat proses persalinan, ibu sebaiknya jangan berkecil hati, mungkin suami tidak tega melihat istrinya kesakitan, jadi jangan paksa suami karena hal ini bisa berakibat fatal. Kehadiran suami tanpa tekanan dari luar, pada proses persalinan akan sangat penting dalam membantu istri terutama jika suami tahu banyak tentang proses melahirkan. Para suami sering mengeluhkan betapa tertekannya mereka kerena sama sekali tidak tahu apa yang harus dikerjakan untuk menolona istrinya. (Lutfiatus Sholihah, 2004:35).
Situasi atau kondisi dimana suami tidak bisa mendampingi selama proses persalinan seperti :
1. Suami tidak siap mental
Umumnya, suami tidak tega, lekas panik, saat melihat istri kesakitan atau tidak tahan bila harus malihat darah yang keluar saat persalinan. Tipe suami seperti ini bukanlah orang yang tepat menjadi pendamping diruang bersalin.
2. Tidak diizinkan pihak RS
Beberapa RS tidak mengizinkan kehadiran pendamping selain petugas medis bagi ibu yang menjalani proses persalinan, baik normal maupun cesar. Beberapa alasan yang diajukan adalah kehadiran pendamping dapat mengganggu konsentrasi petugas medis yang tengah membantu proses persalinan, tempat yang tidak luas dan kesterilan ruang operasi menjadi berkurang dengan hadirnya orang luar
3. Suami sedang dinas
Apabila suami sedang dinas ke tempat yang jauh sehingga tidak memungkinkan pulang untuk menemani istri bersalin tentu istri harus memahami kondisi ini. Walaupun tidak ada suami masih ada anggota keluarga lain seperti ibu yang dapat menemani. Momen persalinan pun dapat difilmkan dalam kamera video, sehingga saat kembali dari dians suami dapat melihat kelahiran buah hatinya.
Namun bagi suami yang siap mental mendapingi istrinya selama proses persalinan dapat memberikan manfaat seperti :
1. Memberi rasa tenang dan penguat psikis pada istri
Suami adalah orang terdekat yang dapat memberikan rasa aman dan tenang yang diharapkan istri selama proses persalinan. Ditengah kondisi yang tidak nyaman, istri memerlukan pegangan, dukungan dan semangat untuk mengurangi kecemasan dan ketakutannya.
2. Selalu ada bila dibutuhkan
Dengan berada disamping istri, suami siap membantu apa saja yang dibutuhkan istri.
3. Kedekatan emosi suami-istri bertambah
Suami akan melihat sendiri perjuangan hidup dan mati sang istri saat melahirkan anak sehingga membuatnya semakin sayang kepada istrinya
4. Menumbuhkan naluri kebapakan
5. Suami akan lebih menghargai istri
Melihat pengorbanan istri saat persalinan suami akan dapat lebih menghargai istrinya dan menjaga perilakunya. Karena dia akan mengingat bagaimana besarnya pengorbanan istrinya.
(www.mendampingi istri bersalin, sebuah tantangan.com)
2.2. Pendamping lainnya dalam persalinan
Menurut Mary Nolan (2004) beberapa ibu memilih pasangan dan ibunya sendiri untuk menjadi pendamping persalinannya. Ada sebuah penelitian yang sangat baik yang menunjukkan bahwa pendukung wanita efektif dalam meningkatkan hasil persalinan dan membantu calon ibu merasa percaya diri dalm melaksakan tanggungjawab pengasuhan terhadap bayinya.
Meskipun demikian, jika seorang calon ibu memilih pendamping wanita, umumnya mereka adalah anggota keluarganya atau sahabatnya. Sebuah pilihan yang jelas bagi calon ibu adalah ibunya sendiri.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Selama masa kehamilan, suami juga sudah harus diajak menyiapkan diri menyambut kedatangan sikecil, karena tidak semua suami siap mental untuk menunggui istrinya yang sedang kesakitan. Adakalanya mereka malah panik. Jadi persiapkan dari sekarang, ajak suami membaca buku tentang proses persalinan.
Bila suami tidak bersedia mendampingi saat proses persalinan, ibu sebaiknya jangan berkecil hati, mungkin suami tidak tega melihat istrinya kesakitan, jadi jangan paksa suami karena hal ini bisa berakibat fatal. Kehadiran suami tanpa tekanan dari luar, pada proses persalinan akan sangat penting dalam membantu istri terutama jika suami tahu banyak tentang proses melahirkan. Para suami sering mengeluhkan betapa tertekannya mereka kerena sama sekali tidak tahu apa yang harus dikerjakan untuk menolona istrinya.
Situasi atau kondisi dimana suami tidak bisa mendampingi selama proses persalinan seperti suami tidak siap mental, tidak diizinkan pihak RS atau suami sedang dinas. Pada kondisi ini ibu dapat memilih ibunya sendiri untuk menjadi pendamping persalinannya. Ada sebuah penelitian yang sangat baik yang menunjukkan bahwa pendukung wanita efektif dalam meningkatkan hasil persalinan dan membantu calon ibu merasa percaya diri dalm melaksakan tanggungjawab pengasuhan terhadap bayinya.
3.2. Saran
· Selama proses persalinan sebaiknya seorang ibu didampingi oleh suami atau seseorang yang yang dipercayainya.
· Sebaiknya RS yang tidak mengizinkan pendamping berada selama proses persalinan membuat kebijakan tentang hal ini
· Mengingat besarnya manfaat seorang pendamping selama proses persalinan sebaiknya sebelum persalinan ibu sudah memutuskan siapa yang akan mendampinginya nanti selam persalinan.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, 2002.Prosedur Penelitian. Jakarta. Rineka Cipta.
Depkes RI, 2004. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta. Depkes RI.
Mander, Rosemary, 2004. Nyeri Persalinan. Jakarta. EGC.
Nolan, Mary, 2004. Kehamilan dan Melahirkan. Jakarta. Arcan.
Notoatmodjo, Soekidjo, 2002. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta
Sani, Rachman, 2002. Menuju Kelahiran yang Alami. Jakarta. 2002
Sholihah, Lutfiatus, 2004. Persiapan dan Strategi Menghadapi Persalinan Sehat dan Alamiah. Jakarta. Diva Press.
Varney, helen, dkk, 2002. Buku Saku Bidan. Jakarta.EGC
Westheimer, K Ruth, 2002. Mengkreasi Kehamilan dan Menjaga Kasih Sayang Bersama Dr. Ruth. Jakarta. Grafindo.
BACA SELENGKAPNYA - Peran Pendamping Selama Proses Persalinan
INGIN BOCORAN ARTIKEL TERBARU GRATIS, KETIK EMAIL ANDA DISINI:
setelah mendaftar segera buka emailnya untuk verifikasi pendaftaran. Petunjuknya DILIHAT DISINI