kolom pencarian

KTI D3 Kebidanan[1] | KTI D3 Kebidanan[2] | cara pemesanan KTI Kebidanan | Testimoni | Perkakas
PERHATIAN : jika file belum ter-download, Sabar sampai Loading halaman selesai lalu klik DOWNLOAD lagi

04 November 2010

INFERTILITAS

INFERTILITAS

INFERTILITAS



PENDAHULUAN


Di Indonesia terdapat sekitar tiga juta pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak dan dikatakan sebagai pasangan yang mengalami kemandulan atau infertilitas. Sebagian besar pasangan suami istri berpikir bahwa mereka akan mudah memperoleh anak. Sebetulnya 1 diantara 10 pasang akan mengalami hambatan untuk mempunyai anak.

Infertilitas bagi pasangan suami istri yang mendambakan anak menimbulkan kesedihan, kemarahan dan kekecewaan dalam keluarga. Ilmu kedokteran masa kini baru berhasil menolong 50 % pasangan suami istri untuk dapat memperoleh anak. Ini berarti separuhnya terpaksa menempuh hidup tanpa anak, mengangkat anak ( adopsi), poligini atau bercerai.

Seringkali wanita yang dipersalahkan bila suatu pasangan suami istri sukar memperoleh keturunan. Sekitar 40 % kasus infertilitas disebabkan oleh kemandulan wanita, 30 % disebabkan oleh kemandulan pria dan 30% oleh keduanya. Kadang-kadang dalam pasangan suami istri, pria tidak bisa menerima kenyataan bahwa masalah berasal dari kedua belah pihak, sehingga akan menolak untuk dilakukan pemeriksaan. Hal ini disebabkan karena menganggap infertilitas sebagai suatu hal yang memalukan di masyarakat, dimana seorang pria diharapkan dapat meneruskan keturunannya sebagai ciri kejantanan.

Untuk itulah diperlukan suatu penanganan infertilitas yang menyeluruh dari tenaga kesehatan meliputi pasangan suami istri, keluarga dan lingkungannya, sehingga infertilitas tidak lagi menjadi suatu masalah yang dapat mengganggu kebahagian keluarga pasangan suami istri.

INFERTILITAS

A. Definisi Infertilitas

Infertilitas adalah ketidamampuan untuk terjadi konsepsi setelah 1 tahun bersenggama tanpa menggunakan kontrasepsi.

Ada 2 jenis infertilitas :

1. Infertilitas primer , terjadi bila istri belum pernah hamil walaupun bersenggama setelah 1 tahun tanpa kontrasepsi

2 Infertilitas sekunder terjadi bila istri pernah hamil, tetapi kemudian tidak

terjadi kehamilan lagi walaupun bersenggama selama 1 tahun tanpa

kontrasepsi.

Menurut data statistik 80 % terjadi kehamilan pada pasangan suami istri dalam

tahun bersenggama tanpa kontrasepsi, 86% terjadi kehamilan pada tahun ke-2.

Dapat dikatakan pasangan suami istri mengalami infertilitas bila pasangan yang ingin punya anak telah dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan setelah 1 tahun bersenggama. Menurut Steinberger dan Sherins (1970) pada pasangan infertil masing-masing anggota pasangan mungkin tidak infertil kalau berpasangan dengan yang lain. Setiap anggota pasangan infertil memiliki potensi fertilitas tertentu, jumlah keduanya menentukan kapasitas pasangan itu untuk mendapatkan keturunan. Dengan demikian perbaikan potensi fertilitas dari salah satu anggota pasangan dapat menghasilkan kehamilan. Pengobatan salah satu anggota pasangan infertil pada hakekatnya meningkatkan potensi fertilitas anggota pasangan tersebut, sehingga jumlah potensi fertilitas pasangan tersebut sebagai satu kesatuan biologik, dapat ditingkatkan menjadi lebih besar

Jadi fertilitas dan infertilitas itu merupakan kemampuan sepasang suami istri sebagai satu kesatuan biologik, sehingga tidak ada istilah infertilitas laki-laki atau infertilitas wanita.

B. Pemeriksaan infertilitas

Syarat pemeriksaan pasangan infertil adalah :

· Istri yang berumur 20-30 tahun baru akan diperiksa setelah berusaha untuk mendapatkan anak selama 1 tahun. Pemeriksaan dapat dilakukan dini apabila :

~ Pernah mengalami keguguran berulang

~ Diketahui mengindap kelainan endokrin

~ Pernah mengalami peradangan rongga perut dan rongga panggul

~ Pernah mengalami bedah gynekologik

· Istri yang berumur antara 31-35 tahun dapat diperiksa pada kesempatan pertama pasangan itu datang untuk pemeriksaan.

· Pasangan infertil yang berumur 36-40 tahun hanya dilakukan pemeriksaan infertilitas kalau belum mempunyai anak dari perkawinan ini.

· Pemeriksaan infertilitas tidak dilakukan pada pasangan infertil yang salah satu anggotanya mengindap penyakit yang dapat membahayakan kesehatan istri dan anaknya.

Jenis pemeriksaan infertilitas adalah:

· Anamnesis lengkap

~ Identitas pasangan

~ Riwayat perkawinan

~ Riwayat kesehatan keluarga

~ Riwayat penyakit dahulu

~ Riwayat Obstetri

~ Riwayat menstruasi

· Pemeriksaan fisik

~ Pemeriksaan umum secara head to toe

~ Pemeriksaan Tanda-tanda vital

~ Pemeriksaan payudara

~ Pemeriksaan abdominal

~ Pemeriksaan ginekologi

· Pemeriksaan Diagnostik

~ Pemeriksaan ovulasi

- Pencatatan suhu basal dalam kurve

Bila siklus anovulatoir suhu basal bersifat bifasis, sedangkan bila terjadi ovulasi terdapat kenaikan suhu basal yang disebabkan karena pengaruh progesteron.

- Pemeriksaan vaginal smear

Pembentukan progesteron menimbulkan perubahan sitologis pada sel-sel superfisial.

- Pemeriksaan lendir servik

Progesteron menimbulkan sifat lendir servik menjadi kental dan membentuk gambaran fern bila lendir dikeringkan.

- Pemeriksaan endometrium

Kuretase pada fase premenstruil menghasilkan endometrium dalam stadium sekresi dengan gambaran histologis khas.

- Pemeriksaan hormon entrogen, ICSH, pregnadiol.

- Perhitungan masa subur

Bila siklus wanita berlangsung teratur selama 28 hari, maka suburnya kira-kira terjadi 2 minggu setelah HPHT ( hari ke-14 ). Kadang-kadang ditandai oleh nyeri dibagian bawah perut, keluarnya lendir banyak dari vagina.

~ Pemeriksaan sperma

- Sperma diperiksa dan ditampung setelah pasangan tidak melakukan senggama selama 3 hari dan diperiksa segera setelah dikeluarkan.

- Penilaian sperma meliputi :

Makroskopis : warna, volume, pH, bau.

Mikroskopis : jumlah, bentuk,motilitas, morpologi.

~ Pemeriksaan lendir servik

- Kekentalan lendir servik

Pada stadium proliferasi lendir servik agak cair karena pengaruh estrogen, sedangkan pada stadium sekresi lendir servik kental karena pengaruh progesteron.

- pH lendir servik

Lendir servik bersifat alkalis dengan pH 9

- Enzim proteolitik

Mempengaruhi viskositas lendir servik

- Immunoglobulin

Dapat menimbulkan aglutinasi dari sperma.

Pemeriksaannya menggunakan:

- Sim Huhner Test

Adalah uji pasca senggama pada pertengahan siklus haid, dilakukan 2 jam setelah senggama untuk menilai ketahanan hidup sperma dalam lendir servik.

- Kurzrock Miller Test

Adalah uji sederhana untuk mengukur kemampuan sperma masuk kedalam lendir servik

~ Pemeriksaan tuba

- Pertubasi ( Rubin Test )

Adalah pemeriksaan patensi tuba dengan jalan meniupkan gas CO2 melalui kanula / kateter folley yang dipasang pada kanalis servikalis, apabila salah satu atau kedua tuba paten, maka gas akan mengalir bebas kedalam kavum peritonei.

- Histerosalpingografi

Adalah pemeriksaan untuk mengetahui bentuk cavum uteri dan bentuk dari saluran tuba apabila terdapat sumbatan, dengan menyuntikan cairan contras kedalam uterus.

- Kuldoskopi

Untuk melihat secara langsung melalui suatu alat keadaan tuba dan ovarium.

- Laparaskopi

Untuk melihat secara langsung keadaan genitalia interna dan sekitarnya.

~ Pemeriksaan endometrium

- Dilakukan pada saat stadium premenstruil, dilakukan mikrokuretage untuk mengetahui gambaran histologi stadium sektesi.

C. Faktor yang mempengaruhi infertilitas

1) Faktor fisik

· Pada laki-laki

~ Kualitas dan kuantitas sperma

~ Menderita infeksi virus kelenjar getah bening bawah tulang rahang yang

mengakibatkan kerusakan pada testis.

~ Sperma tidak bisa keluar dari penis karena terdapat jaringan parut bekas ulkus

pada saluran sperma yang bisa disebabkan oleh PMS.

~ Mengalami gangguan dalam berhubungan seks karena : tidak bisa ereksi,

ereksi kurang lama, terlalu cepat ejakulasi.

~ Menderita penyakit menahun seperti diabetes, tuberculosis, dan malaria yang

dapat mengganggu kesuburan.

· Pada Wanita

~ Menderita jaringan parut pada saluran tuba atau dalam uterus. Jaringan parut

tersebut dapat mengganggu perjalanan sperma dan mengganggu sel telur

yang telah dibuahi menempel pada uterus.

Jaringan parut dapat disebabkan :

- Infeksi PMS

- Aborsi yang tidak aman

- Pemasangan IUD nonseptik sehingga menimbulkan infeksi.

- Tindakan bedah pada vagina,uterus,tuba atau ovarium

~ Tidak terjadi ovulasi

Disebabkan karena gangguan hormon reproduksi.

~ Terdapat fibroid dalam uterus

Fibroid dapat mencegah konsepsi atau menyulitkan kelestarian kehamilan.

~ Penyakit menahun

Penyakit seperti : Diabetes, TBC, Malaria.

2) Faktor psikologis

· Gangguan emosial yang kronis seperti ketakutan dan merasa tidak mampu untuk menjadi seorang ibu.

· Meningkatnya supersensitifitas karena pengaruh penambahan umur sehingga menjadi paraniod dan menyebabkan infertilitas.

3) Faktor lingkungan

~ Polusi udara, air yang tercemar, bahan kimia yang dipakai pabrik dan pertanian.

~ Merokok, minuman beralkohol dan kopi kental.

~ Suhu tinggi pada testis dan penekanan yang terlalu ketat.

~ Obat-obatan

D. Masalah yang timbul akibat infertilitas

· Kehilangan kepercayaan diri pada pasangan suami istri karena menganggap diri tidak mampu mempunyai keturunan.

· Timbul konflik dalam rumahtangga disebabkan karena salah satu pasangan merasa kecewa terhadap pasangannya yang tidak bisa membuat keturunan sampai berakhir dengan perceraian.

· Masih ada pandangan masyarakat bahwa terjadinya infertilitas itu yang disalahkan adalah wanita, karena wanita baru bisa baru bisa diterima status warga masyarakat sepenuhnya apabila telah menjadi seorang ibu.

· Trauma dan kecewa terhadap diri sendiri karena merasa tidak sempurna sebagai wanita.

· Menimbulkan perasaan rendah diri dan kebuntuan dimasa-masa mendatang.

· Mengalihkan fungsi keibuan pada interes-interes lain seperti mengutamakan pada kegiatan erotik dan seksual.

· Mengabdikan diri pada satu ideologi atau satu interes emosional tertentu.

E. Usaha untuk mengatasi kemandulan

· Infertilitas adalah masalah bersama antara suami dan isteri, dianjurkan untuk kerjasama dalam pemeriksaan, pengobatan dan tindak lanjutnya.

· Melakukan hubungan seksual pada masa subur.

Masa subur biasanya terjadi 14 hari sebelum haid yang akan datang. Selain itu bisa dilihat dari perubahan lendir servik yang terliha jernih, basah seperti putih telur. Pada saat itulah diharapkan suami istri melakukan senggama secara teratur sejak hari ke- 7 sampai hari ke- 16 dari siklus haid. Apabila sperma normal dianjurkan untuk melakukan senggama selang satu hari.

· Posisi yang baik saat melakukan hubungan seksual

Yaitu dengan posisi terlentang atau berbaring miring, kemudian setelah selesai tetaplah berbaring selama 20 menit untuk membantu sperma masuk kedalam uterus dan mencapai sel telur.

· Obati setiap ada gangguan kesehatan

Apabila salah satu pihak mengalami kemungkinan terkena PMS, sebaiknya diobati secara tuntas.

· Biasakan selalu hidup sehat

Makan makanan yang sehat, hindari merokok, mengkonsumsi obat-obatan, alkohol, kafein atau soda. Biasakan untuk olah raga teratur dan istirahat yang cukup.

· Lakukan pemeriksaan kesehatan bersama pasangan apabila dalam 1 tahun belum ada tanda-tanda kehamilan untuk mengetahui secara dini kemungkinan adanya kalainan.

F. Konseling infertilitas

· Bersikap baik dan simpatik terhadap pasangan yang mengalami infertilitas, karena mereka membutuhkan dukungan dan pengertian.

· Memberikan pengertian terhadap pasangan untuk menghargai satu sama lain. Jangan saling menyalahkan.

· Memberi support bahwa keadaan sepeti ini tidak hanya menimpa satu pasangan saja, berikan alternatif pengobatan lain yang masih bisa di usahakan.

· Membantu mencari alaternatif untuk mengadopsi anak.

· Membantu pasangan untuk mencari jalan lain supaya dekat dengan anak-anak dan bisa menerima kenyataan hidup.

REFERENSI

· Psikologi Wanita jilid 2, hal 79,110,114,117,118.
DR. Kartini Kartono.
· Ilmu Kebidanan , hal 496, 497, 500.
Sarwono Prawiroharjo.
· Ginekologi , hal 226-233.
Fakultas Kedokteran UNFAD.
· Kesehatan Reproduksi, hal 59-62
Dep. Kes RI & UNFPA
· Pemberdayaan Wanita Dalam Bidang Kesehatan , hal 329-341.
A. Augat Burns, Yayasan Esensia medika.
BACA SELENGKAPNYA - INFERTILITAS

03 November 2010

Pengetahuan dan sikap ibu tentang pemantauan status gizi pada anak balita di kelurahan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1998 dinyatakan bahwa pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan kualitas Sumber Daya Manusia, serta kualitas kehidupan yang ditandai dengan meningkatnya umur harapan hidup, menurunnya angka kematian bayi, anak dan ibu melahirkan, meningkatnya kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Arahan tersebut menekankan bahwa salah satu faktor penentu kualitas Sumber Daya Manusia adalah gizi (Depkes, 2001).
Kecukupan gizi dan pangan merupakan salah satu faktor terpenting dalam mengembangkan kualitas Sumber Daya Manusia. Hal mana merupakan faktor kunci dalam keberhasilan pembangunan suatu bangsa (AlMatsier, S. 2003).
Pembangunan nasional pada hakekatnya adalah pembangunan manusia seutuhnya, upaya pembangunan manusia seutuhnya harus dimulai sedini mungkin yaitu sejak manusia itu masih berada dalam kandungan dan masa balita. Oleh karna itu, orang tua harus memperhatikan hal-hal yang menunjang kecerdarasan, antara lain kecukupan gizi dalam makanan yang diberikan kepada anak sejak janin atau bayi, bila ingin anaknya cerdas. (Khomsan, A. 2003).
Seorang anak yang sehat dan normal akan tumbuh sesuai dengan potensi genetik yang dimilikinya. Tetapi pertumbuhan ini juga akan dipengaruhi oleh intake zat gizi yang dikonsumsi dalam bentuk makanan. Pertumbuhan fisik sering dijadikan indikator untuk mengukur status gizi baik individu maupun populasi. Oleh karena itu, orang tua perlu menaruh perhatian pada aspek pertumbuhan anak bila ingin mengetahui keadaan gizi mereka. Orang tua sering tidak bisa berbuat apa-apa bila anaknya tidak mau makan. Anak balita memang sudah bisa makan apa saja seperti halnya orang dewasa. Tetapi merekapun bisa menolak makanan yang disajikan tidak memenuhi selera mereka. Oleh karena itu, sebagai orang tua kita juga harus berlaku demokratis untuk sekali-kali menghidangkan makanan yang memang menjadi kegemaran si anak. Nasihat yang paling baik adalah berikan makanan apa saja yang dimaui anak (Khomsan Ali, 2003).
Sementara orang tua terkadang tidak tahu mengapa anaknya yang sehat harus ditimbang setiap bulan. Oleh karena itu, pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan tingkat pengetahuan seseorang. Karena dengan pendidikan yang baik, maka orang tua menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pemberian gizi yang baik, bagaimana menjadi kesehatan anaknya. Pendidikan ibu sangat berperan penting karena dapat berpengaruh terhadap perkembangan gizi anaknya, karena dengan mengetahui status gizi maka diharapkan ibu-ibu dapat mengetahui pertambahan berat badan/gizi balita setiap bulan (almatsier,2003).
Menurut data Biro Pusat Statistik (BPS) 2003 yang dikutip oleh Departemen Kesehatan (DEPKES) 2004, dari sekitar 5 juta anak balita (27,5%) yang kekurangan gizi, lebih kurang 3,6 juta anak (19,2%) dalam tingkat gizi kurang, dan 1,5 juta anak gizi buruk (8,3%).
Status gizi balita di Propinsi Lampung yaitu gizi baik 84,99%, gizi lebih 1,46%, gizi kurang 11,43%, gizi buruk 1,12% (Profil Kesehatan Lampung, 2004).
Data prasurvei yang didapat oleh penulis di Dinas Kesehatan Kota Metro mengenai status gizi balita tahun 2005 adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Data Cakupan Status Gizi Balita Kota Metro 2005
No Nama Kecamatan / Kelurahan Jumlah Balita Diukur Jumlah Anak menurut Status Gizi Persen Status Gizi
Buruk Kurang Baik Lebih Buruk Kurang Baik Lebih
1 Metro Pusat 567 0 52 503 12 0 9,17 88,71 2,11
Yosomulyo
Metro 242
325 0
0 19
33 220
283 3
9 0
0 7,85
10,15 90,9
87,07 0,41
0,3
2 Metro Timur 587 5 43 532 7 0,17 0,17 0,17 0,17
Yosodadi
Tejo Agung 422
164 1
4 24
19 397
135 1
6 0,23
0,6 5,68
11,58 0,23
0,6 0,23
0,6
3 Metro Barat 435 1 52 371 11 0,22 11,95 85,28 2,52
Purwosari 435 1 52 371 11 0,22 11,95 85,28 2,52
4 Metro Utara 359 2 41 304 12 0,55 11,42 84,67 0,27
Purwoasri 359 2 41 304 12 0,55 11,42 84,67 0,27
5 Metro Selatan 120 0 9 107 4 0 7,5 89,06 0,83
Margodadi 120 0 9 107 4 0 7,5 89,06 0,83
Kota Metro 2068 8 197 1817 46 0,048 9,52 87,86 2,22
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Metro, 2005
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa cakupan status gizi balita Kota Metro. Dari jumlah balita yang telah diukur secara antropometri dengan jumlah 2068 balita yang termasuk kedalam status gizi buruk sebanyak 8 orang (0,048%), status gizi kurang 197 orang (9,52%), status gizi baik sebanyak 1817 orang (87,86%) dan gizi lebih 46 orang (2,22%).
Berdasarkan hal tersebut di atas dari lima Kecamatan Kota Metro, Kecamatan Metro Timur masih terdapat lima orang dengan status gizi buruk dan 43 orang dengan status gizi kurang. Untuk itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengetahuan dan sikap ibu tentang pemantauan status gizi pada anak balita di Kelurahan Tejoagung Wilayah Kerja Puskesmas Iringmulyo tahun 2006.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang, maka dapat dibuat rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pengetahuan dan sikap ibu tentang pemantauan status gizi pada anak balita di Kelurahan Tejoagung Wilayah Kerja Puskesmas Iringmulyo tahun 2006?”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan dan sikap ibu tentang pemantauan status gizi pada anak balita di Kelurahan Tejoagung Wilayah Kerja Puskesmas Iringmulyo tahun 2006.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya pengetahuan ibu tentang pemantauan status gizi pada anak balita di Kelurahan Tejoagung Wilayah Kerja Puskesmas Iringmulyo tahun 2006.
b. Diketahuinya sikap ibu tentang pemantauan status gizi pada anak balita di Kelurahan Tejoagung Wilayah Kerja Puskesmas Iringmulyo tahun 2006.

D. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup yang di teliti adalah sebagai berikut :
1. Sifat Penelitian : Studi Deskriptif
2. Obyek Penelitian : Pengetahuan dan sikap.
3. Subyek penelitian : Ibu-ibu yang mempunyai balita
4. Lokasi penelitian : Di Posyandu Tejoagung Wilayah Kerja Puskesmas Iringmulyo.
5. Waktu Penelitian : 8 Mei sampai 13 Mei 2006

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Puskesmas
Sebagai sumbangan pemikiran dalam upaya evaluasi dan pemantauan tentang status gizi di Wilayah Kerja Puskesamas Iringmulyo.
2. Bagi Institusi Pendidikan Program Studi Kebidanan Metro
Sebagai bahan bacaan untuk menambah wawasan mahasiswa di Poltekes Tanjung Karang Program Studi Kebidanan Metro.
3. Bagi Peneliti Lain
Diharapkan dapat menjadi bahan referensi untuk melakukan penelitian-penelitian yang lain atau serupa.

BACA SELENGKAPNYA - Pengetahuan dan sikap ibu tentang pemantauan status gizi pada anak balita di kelurahan

Pengetahuan dan sikap ibu post seksio sesarea tentang mobilisasi dini di rumah bersalin

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Proses kehamilan, persalinan dan nifas tidak senantiasa berlangsung secara fisiologis, dapat pula secara patologis, oleh karena itu pengawasan yang teliti dan terus menerus selama berlangsungnya ketiga proses itu harus dilakukan dengan seksama (Sarwono, 1994 : 795).
Mortalitas dan morbiditas maternal serta perinatal secara khas akan lebih tinggi pada persalinan seksio sesarea daripada persalinan pervaginam dan hal ini sebagian disebabkan oleh komplikasi yang terjadi pada seksio sesarea dan sebagian lagi oleh peningkatan resiko yang berhubungan dengan persalinan perabdominan. Ancaman utama bagi wanita yang menjalani seksio sesarea berasal dari tindakan anestesi, keadaan sepsis yang berat, dan serangan trombo emboli (Cunningham, 1995 : 514).
Mobilisasi merupakan hal yang penting dalam periode pascabedah (Saifuddin, 2002 : U35). Mobilisasi menyebabkan perbaikan sirkulasi, membuat nafas dalam, dan menstimulasi kembali fungsi gastrointestinal normal (Saifuddin, 2002 : U45). Mobilisasi bukanlah satu-satunya faktor yang penting dalam perawatan pascabedah namun ada beberapa komplikasi pascabedah yang dapat dikurangi dan dicegah dengan melakukan mobilisasi.
Mobilisasi segera tahap demi tahap sangat berguna untuk membantu jalannya penyembuhan penderita. Secara psikologis hal ini memberikan pula kepercayaan pada penderita bahwa penderita mulai sembuh. Mobilisasi berguna untuk mencegah terjadinya trombosis dan emboli. Sebaliknya, bila terlalu dini melakukan mobilisasi dapat mempengaruhi penyembuhan luka operasi. Juga mobilisasi secara teratur dan bertahap serta diikuti dengan istirahat adalah yang paling dianjurkan (Mochtar, 1998 : 157). Mobilisasi (duduk dan jalan) yang cepat adalah untuk mengurangi komplikasi pascabedah, terutama atelektasis dan pneumonia hipostatis (Oswari, 1989 :30).
Berdasarkan data yang terdapat pada Dinas Kesehatan Tingkat II Lampung Tengah diperoleh data ibu bersalin pada periode Januari - Desember 2003 di bawah ini :
Tabel 1. Distribusi Ibu Bersalin di Dinas Kesehatan Tingkat II Lampung Tengah.
No Jenis Persalinan Jumlah Persentase
1.
2.
3. Persalinan normal
Persalinan patologis
Seksio sesarea 18.915
221
142 98,12
1,14
0,74
Jumlah 320 100
Sumber data : Profil Kesehatan Tingkat II Lampung Tengah, 2004.


Data di atas dapat dilihat bahwa persalinan yang diakhiri dengan seksio sesarea dibandingkan dari persalinan patologis ada 64,25%. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan penulis di Rumah Bersalin Puti Bungsu Bandar Jaya didapatkan data sebagi berikut :
Tabel 2. Distribusi Ibu Bersalin di Rumah Bersalin Puti Bungsu Bandar Jaya Periode Januari – Desember 2003
No Jenis Persalinan Jumlah Persentase
1.
2.
3. Persalinan normal
Persalinan patologis
Seksio sesarea 195
80
45 60,94
25
14,06
Jumlah 320 100
Sumber data : Buku Register Persalinan Rumah Bersalin Puti Bungsu Bandar Jaya Tahun 2003.

Analisa dari data di atas didapatkan bahwa dari 320 persalinan (100%) terdapat 195 persalinan normal (60,94%), 80 persalinan patologis (25%) dan 45 persalinan dengan seksio sesarea (14,06%) dengan indikasi partus macet 17 orang (37,78%), Cepalo Pelvic Disease 6 orang (13,33%), Placenta Previa 10 orang (22,22%), Solutio Placenta 3 orang (6,67%), Rupture Uteri 1 orang (2,22%), Gemeli 2 orang (4,44%), letak lintang 3 orang (6,67%) dan Serotinus 3 orang (6,67%). 45 ibu post seksio sesarea tersebut dengan anestesi spinal 100% baru melakukan mobilisasi dini (miring ke kanan dan ke kiri) setelah 24 jam pascabedah.
Berdasarkan uraian dan berdasarkan hasil studi pendahuluan yang diperoleh penulis di atas maka penulis sebagai peneliti sekaligus sebagai salah satu tenaga kesehatan yang ada di Rumah Bersalin Puti Bungsu tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengetahuan dan sikap ibu post seksio sesarea tentang mobilisasi dini di Rumah Bersalin Puti Bungsu Bandar Jaya.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut : Bagaimana pengetahuan dan sikap ibu post seksio sesarea tentang mobilisasi dini di Rumah Bersalin Puti Bungsu Bandar Jaya?

C. Ruang Lingkup Penelitian
Mengingat luasnya masalah dilihat dari berbagai aspek maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut :
1. Sifat Penelitian
Penelitian bersifat penelitian deskriptif.
2. Obyek Penelitian
Pengetahuan dan sikap ibu post seksio sesarea tentang mobilisasi dini di Rumah Bersalin Puti Bungsu Bandar Jaya.
3. Subyek Penelitian
Ibu post seksio sesarea di Rumah Bersalin Puti Bungsu Bandar Jaya.
4. Lokasi Penelitian
Rumah Bersalin Puti Bungsu Bandar Jaya.
5. Waktu Penelitian
24 Mei – 24 Juni 2004

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan memperoleh gambaran tentang pengetahuan dan sikap ibu post seksio sesarea tentang mobilisasi dini.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengetahuan ibu post seksio sesarea tentang mobilisasi dini.
b. Untuk mengetahui sikap ibu post seksio sesarea tentang mobilisasi dini.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Ibu
Menambah dan meningkatkan pengetahuan ibu tentang mobilisasi dini dan menambah kesadaran ibu tentang pentingnya melakukan mobilisasi dini.
2. Bagi Rumah Bersalin Puti Bungsu
a. Sebagai masukan tentang perawatan pada ibu post seksio sesarea.
b. Untuk mengevaluasi kinerja petugas dalam memberikan asuhan kebidanan.
c. Agar petugas dapat menganjurkan dan mengajarkan pada ibu post seksio sesarea untuk melakukan mobilisasi secara dini.
3. Bagi Institusi
Sebagai bahan kajian terhadap teori yang telah diperoleh mahasiswi selama mengikuti kegiatan belajar mengajar di Politeknik Kesehatan Tanjungkarang Program Studi Kebidanan Metro sekaligus sebagai bahan bacaan di perpustakaan institusi pendidikan.
4. Bagi penulis
Menambah wawasan keilmuan dan pengalaman dalam memberikan asuhan pada ibu post seksio sesarea dan merupakan persyaratan untuk menyelesaikan program pendidikan pada Diploma III Kebidanan di Politeknik Kesehatan Tanjungkarang Program Studi Kebidanan Metro.

BACA SELENGKAPNYA - Pengetahuan dan sikap ibu post seksio sesarea tentang mobilisasi dini di rumah bersalin

Pengetahuan dan sikap ibu hamil terhadap tanda-tanda bahaya kehamilan di puskesmas

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Angka kematian ibu merupakan barometer pelayanan kesehatan ibu disuatu negara. Bila AKI masih tinggi berarti pelayanan kesehatan belum baik (Affandi, 2000). AKI menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002 yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup, angka ini masih merupakan yang tertinggi di ASEAN sedangkan AKI di Provinsi Lampung Pada tahun 2003 sejumlah 98 dari 186.248 ibu (Provil Kesehatan Provinsi Lampung, 2004) dan di Kota Metro AKI pada tahun 2005 adalah sekitar 2 per 2.762 lahir hidup (dinkes kota metro, 2006).
Penyebab kematian ibu di Indonesia yang utama adalah perdarahan (28%), eklampsia (13%), komplikasi aborsi (11%), sepsis (10%) dan partus lama (9%) (www.google.com, 2006). Penyebab itu sebenarnya dapat dicegah dengan pemeriksaan kehamilan (ANC) yang memadai. Dengan melaksanakan ANC secara teratur pada ibu hamil diharapkan mampu mendeteksi dini dan menangani komplikasi yang sering terjadi pada ibu hamil, sehingga hal ini penting untuk menjamin bahwa proses alamiah dari kehamilannya berjalan dengan normal.
Salah satu cara dalam ANC untuk mendeteksi dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi selama kehamilan adalah dengan mengenali tanda-tanda bahaya yang sering terjadi pada kehamilan yaitu :
1. Perdarahan pervaginam
2. Sakit kepala yang berlebihan
3. Perubahan visual secara tiba-tiba
4. Bengkak pada kaki dan tangan
5. Nyeri abdomen yang berlebihan
6. Janin kurang bergerak seperti biasanya (Pusdiknakes, 2001)
7. Muntah yang terus menerus
8. Menggigil atau panas badan
9. Disuria
10. Keluar cairan pervaginam (Williams, 1995)
Dalam hal ini bidan dan ibu hamil harus mampu mengenali tanda-tanda bahaya tersebut. Sehingga apabila terdapat salah satu tanda-tanda bahaya tersebut dapat ditangani dengan sesuai, tepat dan akurat.
Data yang didapat di Puskesmas Metro selama periode April – Mei 2006 terdapat 83 ibu hamil. Dari data pra survey dilakukan terhadap 20 orang ibu hamil didapatkan 15 ibu hamil yang belum mengetahui tentang tanda-tanda bahaya kehamilan. Berdasarkan data di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil Terhadap Tanda-Tanda Bahaya Kehamilan Di Puskesmas Metro Tahun 2006”

B. Perumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimanakah pengetahuan dan sikap ibu hamil terhadap tanda-tanda bahaya kehamilan ?”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengetahuan dan sikap ibu hamil terhadap tanda-tanda bahaya kehamilan.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui pengetahuan ibu hamil terhadap tanda-tanda bahaya kehamilan.
b. Mengetahui sikap ibu hamil terhadap tanda-tanda bahaya kehamilan.

D. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini, ruang lingkup penelitian adalah sebagai berikut :
1. Metode Penelitian : Deskriptif
2. Obyek Penelitian : Pengetahuan dan sikap ibu hamil terhadap tanda-tanda bahaya kehamilan.
3. Subyek penelitian : Ibu hamil yang memeriksakan diri di Puskesmas Metro.
4. Lokasi penelitian : Di Puskesmas Metro
5. Waktu Penelitian : 8 – 13 Mei 2006

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberi manfaat bagi :
1. Bagi Ibu Hamil
Untuk menambah pengetahuan ibu hamil dalam mendeteksi dini tanda-tanda bahaya kehamilan agar tidak terlambat di bawa ke tenaga kesehatan.
2. Bagi Institusi Tempat Penelitian
Diharapkan bermanfaat sebagai sumbangan pemikiran dan sebagai bahan masukan terhadap peningkatan pelaksanaan Program KIA, khususnya Antenatal Care (ANC) di Puskesmas Metro.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai sumber bahan bacaan dan referensi bagi perpustakaan di institusi pendidikan.

BACA SELENGKAPNYA - Pengetahuan dan sikap ibu hamil terhadap tanda-tanda bahaya kehamilan di puskesmas

Pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang tablet tambah darah (Fe) dalam mencegah anemia kehamilan di BPS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Anemia merupakan keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb), hematokrit dan jumlah sel darah merah di bawah nilai normal. Anemia gizi adalah keadaan di mana kadar hemoglobin (Hb), hemotokrit dan sel darah merah lebih dari nilai normal sebagai akibat dari defisiensi salah satu atau beberapa unsur makanan yang esensial yang dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut (Arisman, 2006 ).
Anemia dalam kehamilan yang paling sering di jumpai adalah anemia gizi besi. Anemia gizi merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia. Penyebabnya karena kurangnya asupan zat besi dalam makanan gangguan resorpsi, gangguan penggunaan atau perdarahan. Frekuensi anemia dalam kehamilan di dunia cukup tinggi berkisar antara 10% dan 20% (Prawirohardjo, 2002).
Suplementasi pemberian tablet tambah darah dalam program penanggulangan anemia gizi telah di uji secara ilmiah efektifitasnya apabila dilaksanakan sesuai dengan dosis dan ketentuan. Program pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil yang menderita anemia kurang menunjukkan hasil yang nyata. Faktor yang mempengaruhi adalah kepatuhan minum tablet tambah darah yang tidak optimal dan status ibu sebelum hamil sangat rendah, sehingga jumlah tablet tambah darah yang dikonsumsi tidak cukup untuk meningkatkan Hemoglobin (Hb) dan simpanan besi (Depkes RI, 2005)
Tidak mudah menjalankan program suplementasi dengan pil besi terutama ibu hamil. Penyebabnya antara lain sebagian besar sasaran tidak terjangkau oleh program, ibu yang bersangkutan tidak merasakan kebutuhannya karena tidak merasa sakit, efek samping yang dapat menyebabkan ibu enggan minum pil setiap hari, dan kelalaian untuk minum pil setiap hari ( Kalbe, 2008 ).
Seorang wanita hamil yang memiliki kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 10% disebut anemia dalam kehamilan. Dampak kekurangan zat besi pada wanita hamil dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius bagi ibu baik dalam kehamilan, persalinan dan nifas yaitu dapat mengakibatkan abortus, partus prematurus, partus lama karena inertia uteri, perdarahan post partum karena atonia uteri, syok, infeksi intra partum maupun post partum. Anemia berat dengan Hemoglobin (Hb) kurang dari 4% dapat mengakibatkan dekompensatiocordis. Sedangkan komplikasi dapat terjadi pada hasil konsepsi yaitu kematian mudighah, kematian perinatal, prematuritas, cacat bawaan dan cadangan zat besi kurang (Prawirohardjo, 2002).
Mendeteksi anemia dalam kehamilan, menurut Ikatan Bidan Indonesia (2000) ibu hamil harus dilakukan pada kunjungan pertama dan minggu ke-28. Bila kadar Hb <>

BACA SELENGKAPNYA - Pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang tablet tambah darah (Fe) dalam mencegah anemia kehamilan di BPS

Abortus Imminens

A. Pengertian
Abortus imminen adalah perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan sauatu kehamilan. Dalam kondisi seperti ini kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan. (Syaifudin. Bari Abdul, 2000)
Abortus imminen adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 20 minggu, tanpa tanda-tanda dilatasi serviks yang meningkat ( Mansjoer, Arif M, 1999)
Abortus imminen adalah pengeluaran secret pervaginam yang tampak pada paruh pertama kehamilan ( William Obstetri, 1990)

Jenis Abortus
1. Abortus imminens
Abortus imminens ialah peristiwa perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.
2. Abortus insipiens
Abortus insipiens ialah peristiwa peradrahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus.
Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kuat, perdarahan bertambah. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau dengan cunam ovum, disusul dengan kerokan. Pada kehamilan lebih dari 12 minggu biasanya perdarahan tidak banyak dan bahaya peforasi pada kerokan lebih besar, maka sebaiknya proses abortus dipercepat dengan pemberian infus oksitosin.
3. Abortus inkompletus
Abortus inkomplitus ialah pengeluaran sebagan hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.
Perdarahan pada abortus inkomplitus dapat banyak sekali , sehingga menyebabkan syokj dan perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa konsepsi dikeluarkan.
4. Abortus kompletus
Pada abortus kompletus semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup, dan uterus sudah banyak mengecil.
5. Abortus servikalis
Abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka, sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi membesar, kurang lebih bundar, dengan dinding menipis.
6. Missed abortion
Missed abortion ialah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. Etiologi missed abortion tidak diketahui, tetapi diduga pengaruh hormon progesteron. Pemakaian hormon progesteron pada abortus imminens mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion.
7. Abortus habitualis
Abortus habitualis ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut. Etiologinya pada dasarnya sama dengan etiologi abortus spontan. Selain itu telah ditemukan sebab imunologik yaitu kegagalan reaksi terhadap antigen lymphocyte trophoblast cross reactive (TLX). Sistem TLX ini merupakan cara untuk melindungi kehamilan.
8. Abortus infeksiosus, abortus septik
Abortus infeksiosus ialah abortus yang disertai infeksi pada genitalia, sedang abortus septik ialah abortus infeksiosus berat disertai penyebaran kuman atau toksin ke daam peredaran darah atau peritoneum.

B. Etiologi
Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu :
1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasanya menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah :
a. Kelainan kromosom, terutama trimosoma dan monosoma X
b. Lingkungan sekitar tempat impaltasi kurang sempurna
c. Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan temabakau dan alkohol
2. kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun
3. faktor maternal seperti pneumonia, typus, anemia berat, keracunan dan toksoplasmosis.
4. kelainan traktus genetalia, seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada trimester kedua), retroversi uteri, mioma uteri dan kelainan bawaan uterus.
C. Gambaran Klinis
1. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu
2. pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat
3. perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi
4. rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering nyeri pingang akibat kontraksi uterus
5. pemeriksaan ginekologi :
a. Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi, tercium bau busuk dari vulva
b. Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau sudah tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.
c. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri.
D. Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum),janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus.
Komplikasi :
1. Perdarahan, perforasi syok dan infeksi
2. pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah.
E. Pathway

F. Pemeriksaan penunjang
1. Tes kehamilan positif jika janin masih hidup dan negatif bila janin sudah mati
2. pemeriksaan Dopler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
3. pemeriksaan fibrinogen dalam darah pada missed abortion
Data laboratorium
1. Tes urine
2. hemoglobin dan hematokrit
3. menghitung trombosit
4. kultur darah dan urine
G. Masalah keperawatan
1. Kecemasan
2. intoleransi aktifitas
3. gangguan rasa nyaman dan nyeri
4. defisit volume cairan
H. Diagnosa keperawatan
1. Cemas berhubungan dengan pengeluaran konsepsi
2. nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus
3. resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan
4. kehilangan berhubungan dengan pengeluaran hasil konsepsi
5. intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri
I. Tujuan
DX I : Mengurangii atau menghilangkan kecemasan
DX II : Mengurangi atau menghilangkan rasa sakit
DX III : Mencegah terjadinya defisit cairan
DX IV : Mengurangi atau meminimalkan rasa kehilangan atau duka cita
DX V : Klien dapat melakukan aktifitas sesuai dengan toleransinya

J. fokus intervensi
DX I : Cemas berhubungan dengan pengeluaran hasil konsepsi
Intervensi :
- Siapkan klien untuk reaksi atas kehilangan
- Beri informasi yang jelas dengan cara yang tepat
DX II : nyeri berhubungan dengan kontraksi uteri
Intervensi
- Menetapkan laporan dan tanda-tanda yang lain. Panggil pasien dengan nama lengkap. Jangan tinggalkan pasien tanpa pengawasan dalam waktu yang lama
- Rasa sakit dan karakteristik, termasuk kualitas waktu lokasi dan intensitas
- Melakukan tindakan yang membuat klien merasa nyaman seperti ganti posisi, teknik relaksasi serta kolaburasi obat analgetik
DX III : Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan
Intervensi :
- Kaji perdarahan pada pasien, setiap jam atau dalam masa pengawasan
1. Kaji perdarahan Vagina : warna, jumlah pembalut yang digunakan, derajat aliran dan banyaknya
2. kaji adanya gumpalan
3. kaji adanya tanda-tanda gelisah, taki kardia, hipertensi dan kepucatan
- monitor nilai HB dan Hematokrit
DX IV : Kehilangan berhubungan dengan pengeluaran hasil konsepsi
Intervensi :
- Pasien menerima kenyataan kehilangan dengan tenang tidak dengan cara menghakimi
- Jika diminta bisa juga dilakukan perawatan janin
- Menganjurkan pada pasien untuk mendekatkan diri pada Tuhan YME
DX V : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan nyeri
Intervensi
- Menganjurkan pasien agar tiduran
- Tidak melakukan hubungan seksual

BACA SELENGKAPNYA - Abortus Imminens

KARSINOMA PAYUDARA

KARSINOMA PAYUDARA

KARSINOMA PAYUDARA



I. Anatomi dan fisiologi payudara (mammae)




Payudara berfungsi memproduksi ASI, terdiri dari lobulus-lobulus yaitu kelenjar yang menghasilkan ASI, tubulus atau duktus yang menghantarkan ASI dari kelenjar sampai pada puting susu (nipple), pembuluh darah sebagai pemberi nutrisi dan saluran-saluran limfe yang akan berkumpul pada KGB aksila fungsinya membawa cairan jaringan dan penyaring terhadap penyebaran bakteri dan sel-sel kanker, saluran limfe tidak dapat secara sempurna menyaring sel-sel kanker sehingga memungkinkan terjadinya penyebaran pada organ tubuh lainnya, jaringan payudara dilindungi oleh jeringan lemak dan ligamen-ligamen. Umumnya keganasan pada payudara diberi nama berdasarkan asal sel kanker yaitu dari duktus atau lobulus.



A: Duktus


B: Lobus


C: Pelebaran duktus


D: Puting susu


E: Jaringan lemak


F: Muskulus (otot) pectoralis mayor


G: Tulang iga (costa)


G: Tulang dada





II. Kanker payudara


Kanker payudara merupakan keganasan kedua terbanyak di Indonesia setelah kanker serviks uteri. Berdasarkan data patologi anatomi tahun 1997 insidens KPD di Indonesia sebesar 11,6% dari seluruh keganasan, sedangkan di Amerika kanker payudara menduduki tempat pertama sebagai jenis kanker terbanyak pada wanita sekitar 180.000 wanita terdiagnosis sebagai kanker payudara (KPD) setiap tahun.



III. Faktor resiko kanker payudara


· Riwayat keluarga kanker payudara


· Mutasi genetik (BRCA1, BRCA2 dan lainya)


· Riwayat hiperplasia epitelial atau riwayat lobular carcinoma in situ (LCIS)


· Riwayat papilomatosis


· Hamil pertama > 30 tahun


· Riwayat memakai estrogen lama


· Menstruasi pertama kali dibawah usia 12 tahun


· Menopause > 50 tahun



IV. Tanda dan keluhan kanker payudara


· Pada kulit payudara , areola dan puting susu dapat terlihat merah, teraba hangat dan nyeri


· Pembesaran dan penebalan payudara dan daerah sekitarnya


· Perubahan bentuk dan ukuran payudara


· Keluarnya cairan abnormal (discharge) pada puting susu, pembesaran atau inversi putting susu


· Rigiditas pada kulit payudara gambaran seperti kulit jeruk (peau de orange)


· Pembesaran KGB


· Dll









I. Diagnosis kanker payudara


· Anamnesis keluhan pasien dan pemeriksaan fisik tanda tanda keganasan


· Pemeriksaan penunjang berupa


· Mammografi


· CT SCAN


· MRI


· Diagnosis pasti pemeriksaan biopsi, patologi anatomi



II. Klasifikasi berdasarkan patologi anatomi kanker payudara


Berikut ini adalah klasifikasi histologi kanker payudara, bentuk histologi infiltrasi atau invasif adalah bentuk yang paling umum mencakup 70 – 80 % kasus.


· Karsinoma duktus


· Intraduktus ( in situ )


· Invasif


· Komedo


· Inflamasi


· Meduler dengan infiltrasi limfositik


· Colloid


· Papillary


· Scirrhous


· Tubular


· Dll


· Karsinoma lobuler


· In situ


· Invasif


· Karsinoma nipple


· Penyakit Paget


· Penyakit Paget dengan karsinoma intraduktus


· Penyakit Paget dengan karsinoma duktus invasif


· Karsinoma lainnya


· Karsinoma tidak berdiferensiasi


· Kistosarkoma filoides



III. Stadium kanker payudara






























































Stadium



T



N



M



5 year survival rate



0



Tis (LCIS/DCIS)



-



-





I



T1



N0



M0



93%



IIA



T1


T2



N1


N0



M0


M0



72%



IIB



T2


T3



N1


N0



M0


M0



72%



IIIA



T1/T2


T3



N2


N1/N2



M0


M0



41%




IIIB



T4



Any N



M0



41%



IV



Any T



Any N



M1



18%




Keterangan


TX : Lokasi tumor ganas tidak dapat dinilai


Tis : Tumor in situ (pre invasive carcinoma)


T1 : Tumor diameter « 2 cm


T2 : Tumor diameter lebih besar dari 2 cm tapi kurang dari 5 cm


T3 : Tumor diameter > 5 cm


T4 : Tumor ukuran apapun invasi ke daerah sekitar (otot, kulit)



Nx : Penyebaran pada KGB tidak dapat dinilai


N0 : KGB tidak terlibat


N1 : Metastasis KGB ipsilateral aksila dapat digerakkan


N2 : Metastasis KGB ipsilateral terfiksasi dengan jaringan sekitar


N3 : Metastasis KGB ipsilatral KGB mammae atau ipsilateral KGB


supraklavikuler



Mx : Metastasis tidak dapat dinilai


M0 : Tidak ada metastasis


M1 : Metastasis pada organ - organ lainnya



IV. Pilihan terapi


Operasi


· Breast-Conserving Therapy (BCT): Operasi pengangkatan kanker tanpa pengangkatan jaringan payudara yang sehat yang dilanjutkan tindakan radioterapi.


· Lumpektomi : Operasi pengangkatan kanker disertai sedikit jaringan sehat sekitarnya dan KGB sekitar aksila yang terkena.


· Mastektomi segmental : Operasi pengangkatan kanker disertai daerah sehat sekitarnya lebih luas dari lumpektomi terutama jaringan dibawah tumor dan KGB aksila yang terkena


· Mastektomi: Operasi pengangkatan payudara


· Total mastektomi: Operasi pengangkatan seluruh payudara dan sebagian KGB aksila


· Radikal mastektomi modifikasi: Operasi pengangkatan seluruh payudara sebagian besar KGB aksila dan sebagian otot dada


· Radikal mastektomi: Operasi pengangkatan seluruh payudara, seluruh KGB aksila dan seluruh otot dada (sudah tidak lazim dipakai)


· Diseksi KGB aksila


· Rekonsruksi payudara





Radioterapi


Menggunakan energi sinar untuk dapat mematikan sel kanker, baik secara langsung (radiasi eksternal) maupun penempatan material radioaktif secara langsung pada jaringan payudara (implan radiasi). Radioterapi kadang digunakan pasca operasi khususnya pasca BCT untuk mematikan sisa – sisa sel kanker yang tertinggal juga digunakan preoperasi secara tunggal atau kombinasi bersama kemoterapi untuk mengurangi massa tumor.



Kemoterapi


Kemoterapi menggunakan kombinasi obat untuk membunuh sel kanker, baik secara injeksi maupun oral.



Terapi hormonal


Terapi hormon digunakan pada sel kanker yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh adanya hormon tertentu, termasuk operasi pengangkatan ovarium yang memproduksi hormon pada wanita.



Terapi biologi


Bertujuan meningkatkan pertahanan tubuh alami untuk dapat melawan sel-sel kanker sebagai contoh (trastuzumab) suatu antibodi monoklonal dengan target sel kanker payudara dengan menghambat reseptor HER-2 suatu reseptor faktor pertumbuhan epidermal (Epidermal Growth Factor Receptor).



V. Penatalaksanaan


Pilihan terapi pasien dengan DCIS


1. BCT dan radioterapi dengan atau tanpa tamoxifen


2. Total mastektomi dengan atau tanpa tamoxifen





Pilihan terapi pasien dengan LCIS


1. Observasi pasca diagnosis biopsi


2. Tamoxifen untuk menurunkan insiden kanker payudara


3. Total mastektomi profilaksis bilateral tanpa diseksi KGB



Pilihan terapi kanker payudara stadium I,II dan IIIA


· Terapi primer


Pengobatan lokal regional:


- Mastektomi radikal


- Breast-Conserving Therapy (lumpektomi, radiasi, dan operasi pengangkatan KGB yang terkena)


- Radikal mastektomi modifikasi dengan atau tanpa rekonstruksi payudara.


Radioterapi ajuvan pasca mastektomi pada KGB aksila (+)



Terapi ajuvan sistemik:


Konsensus internasional mengklasifikasikan pasien kanker payudara dengan penyebaran KGB aksila (-) berdasarkan resiko beratnya penyakit.




















Resiko rendah



Resiko sedang



Resiko tinggi



Ukuran tumor









BACA SELENGKAPNYA - KARSINOMA PAYUDARA
INGIN BOCORAN ARTIKEL TERBARU GRATIS, KETIK EMAIL ANDA DISINI:
setelah mendaftar segera buka emailnya untuk verifikasi pendaftaran. Petunjuknya DILIHAT DISINI