kolom pencarian

KTI D3 Kebidanan[1] | KTI D3 Kebidanan[2] | cara pemesanan KTI Kebidanan | Testimoni | Perkakas
PERHATIAN : jika file belum ter-download, Sabar sampai Loading halaman selesai lalu klik DOWNLOAD lagi

09 November 2010

Pengetahuan dan sikap siswa kelas 1 SMP tentang pubertas di SMP

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Data demografi menunjukkan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia. Menurut WHO (1995) sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berumur 10-19 tahun. Sekitar 900 juta berada di negara sedang berkembang. Data demografi di Amerika Serikat (1990) menunjukkan jumlah remaja berumur 10-19 tahun sekitar 15% populasi. Di Asia Pasifik dimana penduduknya merupakan 60% dari penduduk dunia, seperlimanya adalah remaja umur 10-19 tahun. Di Indonesia menurut Biro Pusat Statistik (1999) kelompok umur 10-19 tahun adalah sekitar 22%, yang terdiri dari 50,9% remaja laki-laki dan 49,1% remaja perempuan (dikutip dari Nancy P, 2002) (Soetjiningsih, 2004 : 1).
Seringkali dalam pembahasan soal remaja digunakan istilah pubertas. Istilah pubertas digunakan untuk menyatakan perubahan biologis yang meliputi morfologi dan fisiologi yang terjadi dengan pesat dari masa anak-anak ke masa dewasa, terutama kapasitas reproduksi yaitu perubahan alat kelamin dari tahap anak ke dewasa.
Pertumbuhan yang terjadi pada masa pubertas sekitar 20% dari tinggi akhir, rata-rata keseluruhannya 23-28 cm pada remaja perempuan dan 26-28 cm pada remaja laki-laki. Rata-rata pacu tumbuh terjadi selama 24-36 bulan. Puncak kecepatan tinggi badan (PHV) pada remaja perempuan terjadi 18-24 bulan lebih cepat dari pada remaja laki-laki (Soetjiningsih, 2004 : 5).
Pubertas terlambat (delayed puberty) pada perempuan didefinisikan tidak membesarnya payudara sampai umur 13 tahun, tidak adanya menstruasi sampai umur 15 tahun. Pada laki-laki pubertas terlambat adalah bila panjang testis tidak mencapai 2,5 cm atau volume testis tidak mencapai 4 ml sampai umur 14 tahun. Secara statistik pubertas yang mengalami keterlambatan sebanyak 2,5 dari normal populasi remaja pada kedua kelamin (Soetjiningsih, 2004 : 67).
Keterlambatan pubertas pada remaja sangat mempengaruhi secara psikososial. Pengaruh tersebut antara lain: Gejala tekanan emosional seperti mudah marah dan depresi, gangguan psikomotor seperti sakit perut, menjauhi teman-teman sebayanya, penampilan bersekolah yang kurang, peningkatan absen sekolah penurunan aktivitas olah raga, perkataan dan pendidikan yang tidak adekuat, peningkatan ketergantungan.
Kurangnya pemahaman tentang perilaku seksual pada masa remaja amat merugikan bagi remaja sendiri termasuk keluarga, sebab pada masa ini remaja mengalami perkembangan yang penting yaitu kognitif, emosi, sosial dan seksual. Perkembangan ini akan berlangsung mulai sekitar 12 tahun sampai 20 tahun. Kurangnya pemahaman ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain: adat istiadat, budaya, agama dan kurangnya informasi dari sumber yang benar. Kurangnya pemahaman ini akan mengakibatkan berbagai dampak yang justru amat merugikan kelompok remaja dan keluarganya. Dilaporkan bahwa 80% laki-laki dan 70% perempuan melakukan hubungan seksual selama masa pubertas dan 20% dari mereka mempunyai empat atau lebih pasangan. Ada sekitar 53% perempuan berumur antara 15-19 tahun melakukan hubungan seksual pada masa remaja, sedangkan jumlah laki-laki yang melakukan hubungan seksual sebanyak dua kali lipat dari pada perempuan (Soetjiningsih, 2004 : 133).
Berdasarkan uraian diatas didapat bahwa tingkat pengetahuan mengenai perubahan pada masa pubertas sangat mempengaruhi sikap dan pola perilaku remaja. Oleh karena itu peneliti merasa perlu melakukan penelitian tentang hal tersebut. Hal ini penting karena dengan mengetahui sejauh mana perubahan yang sering terjadi dalam diri remaja maka remaja akan mengambil sikap yang benar dalam menghadapi hal tersebut. Peneliti ingin mengetahui tingkat pengetahuan remaja mengenai perubahan masa pubertas yang dialami oleh remaja itu sendiri.
SMP Padjajara¬¬n Bandar Lampung adalah salah satu sekolah di Bandar Lampung dari studi pendahuluan yang penulis lakukan di SMP tersebut diatas melalui wawancara langsung dengan siswa-siswi kelas 1 tanggal 22 Maret 2007 sebanyak 11 orang, diperoleh bahwa belum pernah ada penyuluhan atau informasi tentang pubertas remaja. Dengan banyaknya jumlah remaja yang sedang masa pubertas dan kompleksitas permasalahan yang akan dihadapi remaja, maka penulis perlu mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap para siswa-siswi SMP Padjajaran Bandar Lampung kelas 1 khususnya tentang pubertas.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan diatas, maka penulis merumuskan masalah yaitu “Bagaimanakah tingkat pengetahuan dan sikap siswa-siswi kelas 1 tentang pubertas?”.

C. Ruang Lingkup Penelitian
Penulis membatasi ruang lingkup yang diteliti sebagai berikut :
1. Sifat Penelitian : Studi Deskriptif
2. Subyek Penelitian : Siswa kelas 1 SMP
3. Objek Penelitian : Pengetahuan dan sikap siswa kelas 1 tentang
pubertas
4. Lokasi Penelitian : SMP Padjajaran Bandar Lampung
5. Waktu Penelitian : Mei - Juni 2007

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Memperoleh tingkat pengetahuan dan sikap siswa SMP kelas 1 tentang pubertas.
2. Tujuan Khusus
a. Memperoleh pengetahuan siswa / siswi tentang pubertas di SMP Padjajaran Bandar Lampung.
b. Memperoleh pengetahuan siswa / siswi tentang ciri-ciri pubertas.
c. Memperoleh pengetahuan siswa / siswi tentang perubahan fisik yang terjadi pada saat pubertas.
d. Memperoleh pengetahuan siswa /siswi tentang bahaya pada masa puber.
e. Memperoleh sikap siswa / siswa tentang pubertas di SMP Padjajaran Bandar Lampung.

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi :
1. Instansi Tempat Penelitian
Sebagai masukan informasi bagi pihak sekolah tentang keadaan remaja awal saat ini sehingga pihak sekolah dapat mencari solusi dalam membantu menyelesaikan masalah yang siswa kelas 1 hadapi dan dapat membantu dalam mempersiapkan masa pubertasnya.
2. Bagi Siswa-Siswi
Penulis berharap bahwa penelitian ini akan bermanfaat sebagai bahan masukan bagi siswa yang sudah memasuki masa pubertas. Dengan adanya penyuluhan tentang pubertas disekolah, mudah-mudahan mereka memahami dan mengetahui masalah-masalah yang berhubungan dengan pubertas, agar mereka tidak terjerumus kearah negatif.
3. Bagi Penelitian Selanjutnya
Sebagai bahan informasi untuk penelitian selanjutnya yang akan melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang pubertas.

BACA SELENGKAPNYA - Pengetahuan dan sikap siswa kelas 1 SMP tentang pubertas di SMP

08 November 2010

Distosia bahu

Distosia bahu adalah tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat dilahirkan setelah kepala janin dilahirkan.

Penanganan umum distosia bahu :
- Pada setiap persalinan, bersiaplah untukk menghadapi distosia bahu, khususnya
pada persalinan dengan bayi besar.
- Siapkan beberapa orang untuk membantu.

“Distosia bahu tidak dapat diprediksi”

Diagnosis distosia bahu :
- Kepala janin dapat dilahirkan tetapi tettap berada dekat vulva.
- Dagu tertarik dan menekan perineum.
- Tarikan pada kepala gagal melahirkan bahhu yang terperangkap di belakang
simfisis pubis.

Penanganan distosia bahu :
1. Membuat episiotomi yang cukup luas untuk mengurangi obstruksi jaringan lunak
dan memberi ruangan yang cukup untuk tindakan.
2. Meminta ibu untuk menekuk kedua tungkainya dan mendekatkan lututnya
sejauh mungkin ke arah dadanya dalam posisi ibu berbaring terlentang. Meminta
bantuan 2 asisten untuk menekan fleksi kedua lutut ibu ke arah dada.
3. Dengan memakai sarung tangan yang telah didisinfeksi tingkat tinggi :
- Melakukan tarikan yang kuat dan terus-menerus ke arah bawah pada kepala
janin untuk menggerakkan bahu depan dibawah simfisis pubis.
Catatan : hindari tarikan yang berlebihan pada kepala yang dapat
mengakibatkan trauma pada fleksus brakhialis.
- Meminta seorang asisten untuk melakukan tekanan secara simultan ke arah
bawah pada daerah suprapubis untuk membantu persalinan bahu.
Catatan : jangan menekan fundus karena dapat mempengaruhi bahu lebih
lanjut dan dapat mengakibatkan ruptur uteri.
4. Jika bahu masih belum dapat dilahirkan :
- Pakailah sarung tangan yang telah didisinfeksi tingkat tinggi, masukkan tangan
ke dalam vagina.
- Lakukan penekanan pada bahu yang terletak di depan dengan arah sternum
bayi untuk memutar bahu dan mengecilkan diameter bahu.
- Jika diperlukan, lakukan penekanan pada bahu belakang sesuai dengan arah
sternum.
5. Jika bahu masih belum dapat dilahirkan :
- Masukkan tangan ke dalam vagina.
- Raih humerus dari lengan belakang dan dengan menjaga lengan tetap fleksi
pada siku, gerakkan lengan ke arah dada. Ini akan memberikan ruangan
untuk bahu depan agar dapat bergerak dibawah simfisis pubis.
6. Jika semua tindakan di atas tetap tidak dapat melahirkan bahu, pilihan lain :
- Patahkan klavikula untuk mengurangi lebar bahu dan bebaskan bahu depan.
- Lakukan tarikan dengan mengait ketiak untuk mengeluarkan lengan belakang.

Update : 6 Maret 2006

Sumber :

Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal & Neonatal. Editor : Abdul Bari Saifuddin, Gulardi Hanifa Wiknjosastro, Biran Affandi, Djoko Waspodo. Ed. I, Cet. 5, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2003.
BACA SELENGKAPNYA - Distosia bahu

Induksi Persalinan

Induksi persalinan adalah suatu upaya stimulasi mulainya proses persalinan.
(dari tidak ada tanda-tanda persalinan, distimulasi menjadi ada)

Bedakan dengan akselerasi persalinan, suatu upaya mempercepat proses persalinan.
(sudah ada tanda-tanda persalinan, namun kemajuannya lambat, sehingga diakselerasi menjadi cepat)

TANDA-TANDA PERSALINAN NORMAL

Pasien biasanya melaporkan rasa mules / sakit perut hilang-timbul, akibat his, yang makin lama, makin kuat dan makin sering.
Bisa dengan atau tanpa disertai keluar darah lendir atau cairan ketuban.

INDIKASI POKOK UNTUK INDUKSI PERSALINAN

1. untuk janin yang masih dalam kandungan, pertimbangannya adalah kondisi ekstrauterin akan lebih baik daripada intrauterin, atau kondisi intrauterin lebih tidak baik atau mungkin membahayakan.
2. untuk ibu, pertimbangannya adalah menghindari / mencegah / mengatasi rasa sakit atau masalah2 lain yang dapat membahayakan nyawa ibu.

Indikasi janin, misalnya : kehamilan lewat waktu (postmaturitas), inkompatibilitas Rh
Pada usia kehamilan postmatur, di atas 10 hari lebih dari saat perkiraan partus, terjadi penurunan fungsi plasenta yang bermakna, yang dapat membahayakan kehidupan janin (gangguan sirkulasi uteroplasenta, gangguan oksigenasi janin)
Indikasi ibu, misalnya : kematian janin intrauterin
Indikasi janin dan ibu, misalnya : pre-eklampsia berat

METODE INDUKSI PERSALINAN

Surgikal

Dengan cara :
1. melepaskan / memisahkan selaput kantong ketuban dari segmen bawah uterus (stripping), atau
2. memecahkan selaput kantong ketuban (amniotomi)

Stripping, dapat dengan cara :
1. manual (dengan jari tengah / telunjuk dimasukkan dalam kanalis servikalis)
2. dengan balon kateter Foley yang dipasang di dalam segmen bawah uterus melalui kanalis servikalis, diisi cairan (dapat sampai 100 cc pada Foley no.24), diharapkan akan mendorong selaput ketuban di daerah segmen bawah uterus sampai terlepas (BUKAN untuk dilatasi serviks).
Amniotomi, selaput ketuban dilukai / dirobek dengan menggunakan separuh klem Kocher (ujung yang bergigi tajam), steril, dimasukkan ke kanalis servikalis dengan perlindungan jari-jari tangan.

Medisinal

Dengan menggunakan obat-obat untuk stimulasi aktifitas uterus, misalnya spartein sulfat, prostaglandin (misoprostol-derivat prostaglandin) atau oksitosin.
Sedang dalam penelitian : penggunaan preprarat prostaglandin tablet misoprostol intravaginal (dipasang di ruang fornix).
Pada beberapa kepustakaan, induksi prostaglandin intravaginal disebutkan dapat dilakukan bersamaan dengan pemakaian balon kateter Foley (gambar).

Di FKUI/RSCM : digunakan juga oksitosin.
Dalam kolf 500 cc dextrose 5%, dicampurkan 5 IU oksitosin sintetik. Cairan oksitosin dialirkan melalui infus dengan dosis 0.5 mIU sampai 1.0 mIU per menit, sampai diperoleh respons berupa aktifitas kontraksi dan relaksasi uterus yang cukup baik.
Hati-hati, Kontraksi uterus yang terlalu kuat dan relaksasi yang kurang akan dapat berakibat buruk terhadap janin karena gangguan sirkulasi uteroplasental.
Evaluasi :
dapat diulang sampai dengan 3 kali. Jika persalinan belum maju, dinyatakan refrakter / induksi gagal.

Jika sudah terdapat aktifitas kontraksi uterus sebelumnya tetapi tidak baik (misalnya pada incoordinated uterine action), aktifitas tersebut dieliminasi lebih dahulu misalnya dengan pethidine 50 mg, baru dilakukan induksi.

TANDA-TANDA INDUKSI BAIK

1. respons uterus berupa aktifitas kontraksi miometrium baik
2. kontraksi simetris, dominasi fundus, relaksasi baik (sesuai dengan tanda-tanda his yang baik / adekuat)
3. nilai pelvik menurut Bishop (tabel)

PRINSIP !!

1. penting : monitor keadaan bayi, keadaan ibu, awasi tanda-tanda ruptura uteri
2. penting : harus memahami farmakokinetik, farmakodinamik, dosis dan cara pemberian obat yang digunakan untuk stimulasi uterus.

KONTRAINDIKASI INDUKSI PERSALINAN

1. kontraindikasi / faktor penyulit untuk partus pervaginam pada umumnya : adanya disproporsi sefalopelvik, plasenta previa, kelainan letak / presentasi janin.
2. riwayat sectio cesarea (risiko ruptura uteri lebih tinggi)
3. ada hal2 lain yang dapat memperbesar risiko jika tetap dilakukan partus pervaginam, atau jika sectio cesarea elektif merupakan pilihan yang terbaik.
BACA SELENGKAPNYA - Induksi Persalinan

Bekas Luka Sectio Caesarea

Bekas Heacting Jahitan Sectio Caesarea

PENGERTIAN
Tindakan pembedahan untuk melahirkan janin per-abdominam pada kehamilan ³ 28 minggu atau berat janin > 1000 gram.


KRITERIA DIAGNOSIS
Anamnesis
Riwayat seksio sesarea yang lalu (kapan, indikasi, dimana, operator, jenis sayatan uterus, penyembuhan luka, keadaan bayi, penyulit, dan jumlah operasi yang pernah dijalani). Apakah ada persalinan per vaginam sebelum dan atau setelah seksio sesarea yang lalu. Keadaan kehamilan saat ini (HTA, keluhan, periksa hamil dimana dan oleh siapa).
Pemeriksaan Status Generalis

pemeriksaan meliputi Tanda vital, tinggi badan dan berat badan ibu.

Pemeriksaan Status Obstetri
Periksa Luar : parut bekas seksio sesarea, Leopold, tinggi fundus uteri dalam sentimeter, dan denyut jantung janin (DJJ).
Inspekulo : dilakukan pada saat pertama kali periksa hamil atau bila inpartu.
Periksa Dalam : dilakukan untuk menilai keadaan awal persalinan dan untuk pengamatan kemajuan persalinan (dilengkapi Partograf WHO).
Pelvimetri Klinis : dilakukan bila kecurigaan panggul sempit belum ditegakkan diagnosisnya melalui pelvimetri radiologis atau pada pasien tersebut belum pernah dilakukan pelvimetri.
DIAGNOSIS BANDING : Tidak ada

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. USG : biometri, indeks cairan amnion, letak dan derajat maturasi plasenta, kelainan bawaan, tebal segmen bawah uterus. Bila pada pemeriksaan transabdominal didapatkan ketebalan SBU > 3,5 mm atau pada USG transvaginal ketebalan lapisan miometrium didaerah SBU > 2,5 mm, memiliki kemungkinan untuk partus pervaginam dengan resiko dehisen sekitar 1,3% (Asakura H dkk, 2000)

1. Rontgen Pelvimetri : pada kecurigaan panggul sempit.

PENATALAKSANAAN

modifikasi Skor Alamia

Tabel 1 Modifikasi Skor Alamia

Skor Alamia Modifikasi

Riwayat persalinan pervaginam sebelumnya

Indikasi SC sebelumnya :

Sungsang, gawat janin, plasenta previa, elektif

Distosia pada pembukaan <> 5 cm

Dilatasi serviks :

> 4 cm

> 2,5 < serviks =" 1"> 3,5 mm

Ketebalan SBU = 3,5 mm


Nilai

2

2

1

0

2

1

0

1

1

1

2

2

0

Skor 7 – 10, keberhasilan 94,5%

4 – 6, keberhasilan 78,8%

= 4 Partus Perabdominam

< 4 Partus Pervaginam

0 – 3, keberhasilan 60,0%


Seksio Sesarea elektif / emergensi bila didapatkan hal berikut :

1. Seksio sesarea terdahulu jenis klasik atau korporal.
2. Penyembuhan luka operasi buruk (luka uterus).
3. Sudah dua kali atau lebih seksio sesarea.
4. Disertai penyulit seperti : kelainan letak, kelainan presentasi, posterm dengan skor pelvik rendah, plasenta praevia, disproporsi kepala panggul, suspek disproporsi kepala panggul, distosia, dll.
5. Jarak kehamilan sekarang dengan SC terdahulu kurang dari satu tahun.
6. Gawat janin dengan syarat partus per-vaginam belum terpenuhi.
7. Infertilitas

PERAWATAN RUMAH SAKIT
Di rawat pada kehamilan 38 minggu apabila tingkat pendidikan rendah, transportasi sulit, tempat tinggal jauh, dan untukkegiatan pendidikan.
PENYULIT

Ruptura uteri, kematian janin dan atau ibu, luka operasi terinfeksi, dan cedera organ.
PERSETUJUAN TINDAK MEDIK

Dibuat secara tertulis saat pasien masuk perawatan. Persetujuan tindakan medik dan tindakan operatif memakai formulir khusus yang harus ditandatangani oleh pasien, suami/yang mewakili, dokter operator dan saksi (paramedis). Khusus untuk tindakan tubektomi harus ada ijin tertulis dari suami (tidak boleh diwakilkan).

LAMA PERAWATAN : Partus per vaginam : 2 – 3 hari; bila seksio sesarea : 3 – 5 hari.
MASA PEMULIHAN : Partus per vaginam : 42 hari; seksio sesarea : 3 bulan.
PATOLOGI ANATOMI

Tidak diperlukan kecuali bila dilakukan histerektomi atau dijumpai keadaan patologi saat operasi.
PUSTAKA

1. POGI. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi Bagian I. Cetakan Kedua, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1994.

2. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, et al. In : Williams Obstetrics. 21st Ed, McGraw Hill, New York, 2001.

3. RSPAD Gatot Soebroto, Departemen Obstetri dan Ginekologi. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi. Jakarta, 1996.
BACA SELENGKAPNYA - Bekas Luka Sectio Caesarea

Bekas Luka Seksio Sesarea

Bekas Heacting Jahitan Sectio Caesarea

PENGERTIAN
Tindakan pembedahan untuk melahirkan janin per-abdominam pada kehamilan ³ 28 minggu atau berat janin > 1000 gram.


KRITERIA DIAGNOSIS
Anamnesis
Riwayat seksio sesarea yang lalu (kapan, indikasi, dimana, operator, jenis sayatan uterus, penyembuhan luka, keadaan bayi, penyulit, dan jumlah operasi yang pernah dijalani). Apakah ada persalinan per vaginam sebelum dan atau setelah seksio sesarea yang lalu. Keadaan kehamilan saat ini (HTA, keluhan, periksa hamil dimana dan oleh siapa).
Pemeriksaan Status Generalis

pemeriksaan meliputi Tanda vital, tinggi badan dan berat badan ibu.

Pemeriksaan Status Obstetri
Periksa Luar : parut bekas seksio sesarea, Leopold, tinggi fundus uteri dalam sentimeter, dan denyut jantung janin (DJJ).
Inspekulo : dilakukan pada saat pertama kali periksa hamil atau bila inpartu.
Periksa Dalam : dilakukan untuk menilai keadaan awal persalinan dan untuk pengamatan kemajuan persalinan (dilengkapi Partograf WHO).
Pelvimetri Klinis : dilakukan bila kecurigaan panggul sempit belum ditegakkan diagnosisnya melalui pelvimetri radiologis atau pada pasien tersebut belum pernah dilakukan pelvimetri.
DIAGNOSIS BANDING : Tidak ada

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. USG : biometri, indeks cairan amnion, letak dan derajat maturasi plasenta, kelainan bawaan, tebal segmen bawah uterus. Bila pada pemeriksaan transabdominal didapatkan ketebalan SBU > 3,5 mm atau pada USG transvaginal ketebalan lapisan miometrium didaerah SBU > 2,5 mm, memiliki kemungkinan untuk partus pervaginam dengan resiko dehisen sekitar 1,3% (Asakura H dkk, 2000)

1. Rontgen Pelvimetri : pada kecurigaan panggul sempit.

PENATALAKSANAAN

modifikasi Skor Alamia

Tabel 1 Modifikasi Skor Alamia

Skor Alamia Modifikasi

Riwayat persalinan pervaginam sebelumnya

Indikasi SC sebelumnya :

Sungsang, gawat janin, plasenta previa, elektif

Distosia pada pembukaan <> 5 cm

Dilatasi serviks :

> 4 cm

> 2,5 < serviks =" 1"> 3,5 mm

Ketebalan SBU = 3,5 mm


Nilai

2

2

1

0

2

1

0

1

1

1

2

2

0

Skor 7 – 10, keberhasilan 94,5%

4 – 6, keberhasilan 78,8%

= 4 Partus Perabdominam

< 4 Partus Pervaginam

0 – 3, keberhasilan 60,0%


Seksio Sesarea elektif / emergensi bila didapatkan hal berikut :

1. Seksio sesarea terdahulu jenis klasik atau korporal.
2. Penyembuhan luka operasi buruk (luka uterus).
3. Sudah dua kali atau lebih seksio sesarea.
4. Disertai penyulit seperti : kelainan letak, kelainan presentasi, posterm dengan skor pelvik rendah, plasenta praevia, disproporsi kepala panggul, suspek disproporsi kepala panggul, distosia, dll.
5. Jarak kehamilan sekarang dengan SC terdahulu kurang dari satu tahun.
6. Gawat janin dengan syarat partus per-vaginam belum terpenuhi.
7. Infertilitas

PERAWATAN RUMAH SAKIT
Di rawat pada kehamilan 38 minggu apabila tingkat pendidikan rendah, transportasi sulit, tempat tinggal jauh, dan untukkegiatan pendidikan.
PENYULIT

Ruptura uteri, kematian janin dan atau ibu, luka operasi terinfeksi, dan cedera organ.
PERSETUJUAN TINDAK MEDIK

Dibuat secara tertulis saat pasien masuk perawatan. Persetujuan tindakan medik dan tindakan operatif memakai formulir khusus yang harus ditandatangani oleh pasien, suami/yang mewakili, dokter operator dan saksi (paramedis). Khusus untuk tindakan tubektomi harus ada ijin tertulis dari suami (tidak boleh diwakilkan).

LAMA PERAWATAN : Partus per vaginam : 2 – 3 hari; bila seksio sesarea : 3 – 5 hari.
MASA PEMULIHAN : Partus per vaginam : 42 hari; seksio sesarea : 3 bulan.
PATOLOGI ANATOMI

Tidak diperlukan kecuali bila dilakukan histerektomi atau dijumpai keadaan patologi saat operasi.
PUSTAKA

1. POGI. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi Bagian I. Cetakan Kedua, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1994.

2. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, et al. In : Williams Obstetrics. 21st Ed, McGraw Hill, New York, 2001.

3. RSPAD Gatot Soebroto, Departemen Obstetri dan Ginekologi. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi. Jakarta, 1996.
BACA SELENGKAPNYA - Bekas Luka Seksio Sesarea

07 November 2010

Pengetahuan ibu mengenai kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) di puskesmas

BAB I

PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

Sejak dirumuskannya tujuan “kesehatan bagi semua pada tahun 2000”, semua negara di dunia berusaha untuk memperkuat dan memperluas sistem pemeliharaan kesehatan dasar (PKD) negaranya. Deklarasi Alma Ata. pada tahun 1978 memperkenalkan delapan unsur utama pemeliharaan kesehatan dasar, yaitu pendidikan tentang cara mengenali dan mengatasi masalah kesehatan beserta upaya pencegahan dan pengendaliaannya; peningkatan penyediaan makanan dan gizi yang cukup; penyediaan air bersih dan sanitasi dasar;pemeliharaan kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana;imunisasi terhadap penyakit infeksi;pencegahan dan pengendalian penyakit endemik setempat; pengobatan yang benar terhadap penyakit dan cedera yang umum;dan pengadaan obat yang penting. (Tarimo, 1994)

Program imunisasi yang saat ini telah jauh berkembang dengan tantangan yang semakin banyak. Pada awal pelaksanaan program imunisasi, para petugas berjuang keras agar setiap wilayah mampu menyediakan pelayanan imunisasi sesuai standar pelayanan baik melalui pelatihan, pemantauan wilayah setempat, supervisi checklist maupun perencanaan wilayah setempat.

Pada tahun 2000, selain upaya pemerataan UCI (Universal Child Imunization) di setiap desa, program imunisasi telah mentargetkan sasaran-sasaran spesifik yaitu eliminasi tetanus neonatorum, eradikasi polio, reduksi campak serta perluasan imunisasi hepatitis B. Disamping itu,yang tak kalah penting adalah bahwa program imunisasi harus dapat meningkatkan kualitas pelayanan untuk menjamin potensi vaksin serta penyuntikan yang aman. program imunisasi adalah bagian dari upaya pelayanan kesehatan dasar. Program ini juga merupakan bagian upaya mempercepat upaya pemutusan mata rantai penularan PD3I (Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi) untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, antara lain melalui kegiatan PIN (Pekan Imunisasi Nasional), imunisasi TT 5 dosis pada wanita usia subur, serta penanggulangan KLB (Kejadian Luar Biasa) dari penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi khususnya KLB campak. (Depkes dan Kesos RI,2000).

Salah satu indikator yang penting untuk mengetahui derajat kesehatan di suatu negara adalah banyaknya bayi (umur 0-1 tahun) yang meninggal per 1000 kelahiran hidup yang disebut AKB. Walaupun angka kelahiran hidup telah menurun 10,3% pada akhir pelita II menjadi 90,3% pada akhir pelita III 76%. Angka kelahiran bayi di Indonesia yang tertinggi di negara ASEAN. (Suraatmadja, 1991)

Angka kematian bayi di Propinsi Lampung pada tahun 2002 berjumlah 42 bayi per 1000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi tahun 2003 berjumlah 55 bayi per 1000 kelahiran hidup. Hal ini belum mencapai target Lampung Sehat 2010 dan Indonesia sehat 2010 dengan angka kematian bayi 40 bayi per 1000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2004).

Angka kelahiran bayi yang tinggi ini perlu dilakukan upaya-upaya kesehatan yang lebih terarah supaya AKB di Indonesia dapat menurun. Pada penelitian penyebab kematian bayi di Indonesia ternyata 70% disebabkan karena diare, Radang akut pada saluran pernafasan, dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Jika program imunisasi dilaksanakan dengan baik dan menyeluruh 80% maka keefektifan imunisasi mencapai 85% sampai 90%. Lebih dari 115.000 kematian pada balita dapat dicegah. Hal ini tentu juga akan berpengaruh terhadap Angka Kematian Bayi (AKB). (Suraatmadja, 1991)

Imunisasi bertujuan untuk melindungi individu dan masyarakat terhadap serangan penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi. Vaksin mutakhir aman namun tidak ada vaksin yang tanpa resiko. Maka, walaupun jarang sebagian orang dapat mengalami reaksi setelah imunisasi yang bersifat ringan sampai mengancam jiwa. Pada beberapa kasus reaksi disebabkan oleh vaksin. Pada kasus lain penyebabnya adalah kesalahan pemberian vaksin tetapi sebagian besar umumnya tidak berhubungan dengan vaksin. Apapun penyebabnya apabila timbul Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) masyarakat selalu bersikap menolak untuk pemberian imunisasi berikutnya, sehingga anak tersebut akan rentan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, sehingga dapat timbul kecacatan atau kematian. Untuk itu pelaporan KIPI yang tepat dan cepat diikuti dengan tindak lanjut yang benar dapat membantu pelaksanaan program mengatasi masalah di lapangan sehingga di masyarakat tidak resah dan tetap mendukung program imunisasi. (I.G.N Ranuh, dkk, 2001)

Reaksi KIPI imunisasi campak yang banyak dijumpai dengan gejala demam yang lebih dari 39,50C yang terjadi pada 5 –15% kasus, demam mulai dijumpai pada hari ke-5 – 6 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2 hari. Ruam dapat dijumpai pada 5% resepien, timbul pada hari ke-7 – 10 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2-4 hari. Pada penelitian yang mencakup 6.000 anak berusia 1-2 tahun dilaporkan setelah vaksin MMR dapat terjadi malaise, demam, atau ruam yang sering terjadi 1 minggu setelah imunisasi dan berlangsung selama 2-3 hari. Dalam masa 6 sampai 11 hari setelah imunisasi dapat terjadi kejang demam pada 0,1% anak, ensefalitis pasca imunisasi <>

BACA SELENGKAPNYA - Pengetahuan ibu mengenai kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) di puskesmas

Pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan pemeriksaan kehamilan di BPS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Prawirohardjo (2002), untuk menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi dengan menetapkan salah satu sasaran untuk tahun 2010 adalah menurunkan angka kematian ibu menjadi 125 orang per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi menjadi 16 orang per 1.000 kelahiran hidup. Menurut Prawiroharjo (2001), untuk mencapai sasaran tersebut ditetapkan 4 strategi utama yang dinyatakan sebagai empat pilar safe motherhood yang salah satunya adalah pelayanan antenatal. Kemampuan pelayanan kesehatan suatu negara antara lain dinilai dengan perbandingan tinggi rendahnya angka kematian ibu dan angka kematian bayi setiap tahun sekitar 500.000 orang wanita di negara berkembang meninggal akibat kehamilannya, berjuta-juta ibu hamil mengalami komplikasi yang berat, dan terjadi 7 juta kematian sebagai akibat gangguan kesehatan ibu pada masa kehamilan atau proses persalinan (DEPKES RI, 1998).
WHO memperkirakan bahwa sekitar 15% dari seluruh wanita yang hamil akan mengalami komplikasi yang berkaitan dengan kehamilannya serta dapat mengancam jiwanya. Sebagian besar dari 5.600.000 orang wanita hamil di Indonesia, akan mengalami suatu komplikasi atau masalah yang berakibat fatal. Data tersebut menunjukkan, untuk bisa efektif dalam meningkatkan keselamatan ibu dan bayi yang baru lahir, maka asuhan antenatal harus lebih di fokuskan karena telah terbukti bermanfaat untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian ibu serta bayi baru lahir (Pusdiknakes – WHO – JHPIEGO, 2001). Saat ini, angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Indonesia masih sangat tinggi. Menurut Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI,2002/2003), angka kematian ibu adalah 307 orang per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi adalah 20 orang per 1.000 kelahiran hidup (http:///www.Google.co.id. 2005)
Penurunan angka kematian ibu merupakan indikator keberhasilan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan ibu hamil dalam hal ini adalah pengawasan pemeriksaan kehamilan yang masih belum memadai, sehingga masalah-masalah atau penyulit dalam kehamilan dengan hamil resiko tinggi terlambat diketahui bahkan tidak diketahui (Manuaba, 1998). Hal ini sesuai dengan visi Indonesia sehat 2010, dimana telah merumuskan visi pembangunan kesehatan yang menuju masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai dengan penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Pedoman Manajemen Terpadu Kesehatan Puskesmas, 2003).
Pada zaman dulu, pada umumnya masyarakat menyangka bahwa hal yang paling utama dan yang paling penting adalah berupa pertolongan sewaktu persalinan. Pada saat ini sangkaan itu dianggap salah, karena selain perkembangan pengetahuan pada masyarakat juga di dukung oleh kesadaran yang tinggi. Pengawasan yang baik, bermutu dan keteraturan dalam pemeriksaan, banyaknya penyulit-penyulit sewaktu hamil dapat diobati dan dicegah sehingga persalinan berjalan mudah dan normal. Apabila dalam peroses persalinan akan diambil suatu tindakan, hal ini seharusnya dilakukan sedini mungkin tanpa harus menunggu terjadinya komplikasi dan persalinan tidak terlantar (Moechtar, 1998).
Berdasarkan Kep. Menteri Kesehatan RI No. 1457/MenKes/SK/X/2003 cakupan K1 dan K4 pada tahun 2010 diharapkan mencapai target 95%. Di Propinsi Lampung terdapat 177.762 orang ibu hamil dimana perbandingan dari jumlah ibu hamil tersebut adalah dari 20 orang ibu hamil terdapat 13 orang ibu hamil yang memeriksakan dengan bidan atau di fasilitas kesehatan, contohnya Puskesmas atau Rumah Sakit (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2004). Target yang harus dicapai Dinas Kesehatan Lampung Timur untuk K1 dan K4 sebesar 90% sedangkan data yang didapat dari pra survei di Dinas Kesehatan Lampung Timur, sasaran ibu hamil untuk cakupan K1 dan K4 di Kabupaten Lampung Timur pada tahun 2005 sebanyak 24.301 orang ibu hamil tetapi yang melaksanakan kunjungan awal kehamilan (K1) hanya 20.452 orang ibu hamil (84,2%) dan yang melaksanakan kunjungan ulang secara teratur minimal 4x (K4) hanya 19.151 orang ibu hamil (78,8%). Data pra survei di Puskesmas Sukaraja Nuban didapat sasaran ibu hamil untuk cakupan K1 dan K4 pada tahun 2005 sebanyak 1.129 orang ibu hamil tetapi yang melaksanakan kunjungan awal (K1) sebanyak 1.023 orang ibu hamil (90,6%) dan yang melakukan kunjungan ulang minimal 4x hanya 1.004 orang ibu hamil (88,9%). Berdasarkan data pada bulan Maret tahun 2006 dari BPS Suwarni, didapatkan 59 ibu hamil tetapi yang melakukan pemeriksaan ulang kehamilan hanya 43 orang ibu hamil dan yang tidak melakukan pemeriksaan ulang kehamilan ada 16 orang ibu hamil.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul
“Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah maka peneliti dapat membuat suatu rumusan masalah “Bagaimana Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan di BPS Suwarni di Kelurahan Sukaraja Nuban Kecamatan Batanghari Nuban Kabupaten Lampung Timur tahun 2006 ?”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan pemeriksaan selama kehamilan di BPS Suwarni di Sukaraja Nuban.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu hamil tentang tujuan kunjungan pemeriksaan kehamilan.
b. Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu hamil tentang manfaat kunjungan pemeriksaan kehamilan.
c. Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu hamil tentang jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan.

D. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup objek dan materi penelitian sebagai berikut :
a. Jenis Penelitian : Deskriptif
b. Subjek penelitian : Ibu hamil dengan usia kehamilan 28 mgg atau lebih yang tidak melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur di BPS Suwarni Sukaraja Nuban
c. Objek Penelitian : Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan
d. Lokasi Penelitian : BPS Suwarni di Sukaraja Nuban Kelurahan Sukaraja Nuban Kecamatan Batanghari Nuban Kabupaten Lampung Timur
e. Waktu Penelitian : Penelitian dilakukan setelah seminar proposal disetujui

E. Manfaat Penelitian
1. Puskesmas Sukaraja Nuban Lampung Timur
Menambah wawasan serta dapat dijadikan tolak ukur para tenaga kesehatan terutama bidan di Puskesmas Sukaraja Nuban dalam melaksanakan tugas agar lebih aktif memberikan penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat khususnya ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan.
2. Lahan praktek BPS Suwarni di Sukaraja Nuban
Menambah wawasan, tolak ukur dan tindak lanjut para tenaga kesehatan khususnya bidan untuk melakukan atau menjalani tugas khususnya mengenai gambaran pengetahuan ibu hamil mengenai tingkat keteraturan dalam pemeriksaan kehamilan.
3. Bagi ibu hamil
Sebagai masukan bagi ibu hamil agar lebih meningkatkan kesadaran perlunya pemeriksaan kehamilan secara teratur serta menambah wawasan pengetahuan dan pandangan positif pada ibu hamil akan fungsi dan kepentingan mengenai pemeriksaan selama kehamilan sehingga di harapkan dapat menyakinkan ibu hamil untuk melakukan rutinitas dalam melakukan pemeriksaan selama kehamilan.
4. Bagi peneliti selanjutnya
Untuk memberikan masukan bagi kegiatan penelitian berikutnya terutama mengenai keteraturan pemeriksaan kehamilan serta memberikan gambaran untuk penelitian selanjutnya yang terkait dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan dalam aspek tingkat ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pekerjaan.

BACA SELENGKAPNYA - Pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan pemeriksaan kehamilan di BPS

Pengetahuan ibu bersalin tentang rawat gabung di ruang kebidanan rumah sakit umum

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Garis – Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1999 – 2004 dan Program Pembangunan Nasional (Propenas) mengamanatkan bahwa pembangunan diarahkan pada meningkatnya mutu sumber daya manusia. Modal dasar pembentukan manusia berkualitas dimulai sejak bayi dalam kandungan disertai dengan pemberian air susu ibu sejak usia dini. “Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Indah Sukmaningsih melaporkan, berdasarkan penelitian WHO 1,5 juta bayi di dunia meninggal karena tidak diberi air susu ibu” (www. Glorianet, 2000).
Pentingnya rawat gabung untuk memudahkan pemberian ASI, karena pemberian ASI ekslusif memberi dampak positif, hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian di RSCM yaitu “angka mortalitas bayi pada rawat pisah 0,4%, sedangkan pada rawat gabung 0,05%. Angka morbiditas bayi pada rawat pisah 17,9% sedangkan pada rawat gabung 2,13%. Dan lama perawatan pada rawat pisah 4,7 + 2,6 hari sedangkan pada rawat gabung 2,5 + 1,5 hari”. (FKUI, 1992 : 8).
Rawat gabung merupakan metode perawatan yang merawat bayi baru lahir disamping ibunya, hingga ibu dan bayinya dirawat dalam satu kesatuan. Diharapkan tujuan yang diperoleh dengan cara rawat gabung ini ialah memberi kesempatan kepada ibu mendapat pengalaman cara merawat bayinya sedini mungkin. Menurut ISA (dalam FKUI : 1992, 28) tujuan lain yang diperoleh dari rawat gabung ialah meningkatkan penggunaan ASI dalam rangka meningkatkan pemberian ASI pada bayi “Dengan adanya rawat gabung diharapkan hubungan batin ibu dan bayi yang ditimbulkan oleh kontak kulit paling sensitif 12 jam pertama terjalin, makin dini dan makin lama kontak bayi dan ibu, makin banyaklah produksi air sus09u ibu “ (FKUI, 1992 : 1)
Konvensasi hak – hak anak tahun 1990 antara lain menegaskan bahwa tumbuh kembang secara optimal merupakan salah satu hak anak. Berarti ASI selain merupakan kebutuhan, juga merupakan hak azasi bayi yang harus dipenuhi oleh orang tuanya. “Hal ini telah dipopulerkan pada pekan ASI sedunia tahun 2000 bahwa memberikan ASI adalah merupakan hak azasi ibu, sedangkan mendapatkan ASI juga merupakan hak azasi bayi”. (www.BKKBN, 2000)
Air Susu Ibu (ASI) telah dibuktikan dan diakui sebagai makanan utama bagi bayi baru lahir yang mampu memenuhi kebutuhan zat gizi bagi pertumbuhan bayi hingga usia 4 – 6 bulan, dengan tehnik menyusui yang benar dan jangka waktu lamanya pemberian ASI. “Menurut WHO pemberian selain ASI akan mempunyai resiko 17 kali lebih besar mengalami diare, dan 3 sampai 4 kali lebih besar kemungkinan terkena infeksi Saluran Pernafasan dibandingkan bayi mendapat ASI” (Saifuddin, 2002 : 1).
Menurut WHO pemberian ASI ekslusif diberikan dengan batas usia 0 – 6 bulan (Depkes RI, 2003 : 3). Hal ini didukung dengan adanya Undang – Undang RI No. 25 tahun 2000 tentang tingkat pencapaian pemberian ASI Ekslusif ibu kepada bayinya harus mencapai 80% (Saifuddin, 2003 : 3). “Menurut SDKI 1997 di Indonesia menunjukkan sebanyak 8,3% bayi baru lahir mendapat air susu ibu dalam 1 jam setelah lahir dan 53% bayi mendapat air susu ibu pada hari pertama” (www.BKKBN, 2000). “Pada Propinsi Lampung pemberian ASI ekslusif pada bayi 0 – 4 bulan adalah 24,2 – 32% (Profil Kesehatan Lampung, 2003).
Dari data prasurvey yang diperoleh di Rumah Sakit Umum Ahmad Yani Metro, ibu yang melahirkan normal pada bulan Maret 2004 sebanyak 19 orang, yang semuanya dilakukan rawat gabung, 3 diantara 5 orang ibu yang bersalin tidak segera memberikan ASI dengan alasan ASI belum keluar, dan sebagian ibu belum mengerti manfaat kontak kulit sedini mungkin.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimanakah pengetahuan ibu bersalin tentang rawat gabung di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Umum Ahmad Yani Metro ?

C. Ruang Lingkup
Dalam rangka penelitian ini ruang lingkup penelitian sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian : Deskriptif
2. Subjek Penelitian : Ibu bersalin yang dilakukan rawat gabung di
Ruang Kebidanan Rumah Sakit Umum Ahmad Yani Metro.
3. Objek Penelitian : Pengetahuan ibu bersalin tentang Rawat Gabung.
4. Lokasi Penelitian : Ruang Kebidanan Rumah Sakit Umum Ahmad
Yani Metro.
5. Waktu Penelitian : Tanggal 4 Mei 2004 sampai dengan 30 Mei 2004

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran tentang pengetahuan ibu bersalin tentang rawat gabung di Rumah Sakit Umum Ahmad Yani Metro.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu bersalin pada tingkat tahu tentang rawat gabung di Rumah Sakit Umum Ahmad Yani Metro.
b. Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu bersalin pada tingkat memahami tentang rawat gabung di Rumah Sakit Umum Ahmad Yani Metro.
c. Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu bersalin pada tingkat aplikasi tentang rawat gabung di Rumah Sakit Umum Ahmad Yani Metro.

E. Manfaat Penelitian
Pada penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Untuk Dilahan Praktek Ruang Kebidanan Rumah Sakit Umum Ahmad Yani Metro.
Sebagai masukan bagi rumah sakit khususnya kepada kepala Rumah Sakit agar meningkatkan fungsi rawat gabung dalam upaya gerakan sayang ibu dan bayi sehingga pemberian ASI sedini mungkin dapat ditingkatkan.
2. Untuk Petugas Kesehatan
Informasi yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan peran petugas kesehatan dalam memberikan informasi tentang rawat gabung sehingga ibu bersalin dapat mengerti dan memahami serta menyadari pentingnya menyusui sedini mungkin dan pentingnya kontak kulit sedini mungkin.

BACA SELENGKAPNYA - Pengetahuan ibu bersalin tentang rawat gabung di ruang kebidanan rumah sakit umum

Pengetahuan ibu balita tentang status gizi pada balita di kelurahan

BAB I

PENDAHULUAN



A. LATAR BELAKANG

Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat dan kesehatan yang prima disamping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM.

Pada saat ini, sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga tidak sehat, umumnya disebut kekurangan gizi. Kejadian kekurangan gizi sering terlupakan dari penglihatan atau pengawasan biasa, akan tetapi secara perlahan berdampak pada tinginya angka kematian ibu, angka kematian bayi, angka kematian balita, serta rendahnya harapan hidup (Depkes RI, 2004).

Angka kematian balita (AKABA) adalah jumlah kematian anak umur 0 - <>

BACA SELENGKAPNYA - Pengetahuan ibu balita tentang status gizi pada balita di kelurahan

KARSINOMA OVARIUM

KARSINOMA OVARIUM

KARSINOMA OVARIUM




I. Anatomi dan Fisiologi Ovarium


Ovarium adalah salah satu organ sistem reproduksi wanita, sistem reproduksi terdiri dari ovarium, tuba fallopi, uterus dan vagina. Kedua ovarium terletak dikedua sisi uterus dalam rongga pelvis dengan panjang sekitar 1,5 – 2 inchi dan lebar < 1 inchi, ovarium akan mengecil setelah menopause.


Ovarium memiliki dua fungsi yaitu:


1. Menyimpan ovum (telur) yang dilepaskan satu setiap bulan, ovum akan melalui tuba fallopi tempat fertilisasi dengan adanya sperma kemudian memasuki uterus, jika terjadi proses pembuatan (fertilisasi) ovum akan melekat (implantasi) dalam uterus dan berkembang menjadi janin (fetus), ovum yang tidak mengalami proses fertilisasi akan dikeluarkan dan terjadinya menstruasi dalam waktu 14 hari setelah ovulasi.


2. Memproduksi hormon estrogen dan progesteron, kedua hormon ini berperan terhadap pertumbuhan jaringan payudara, gambaran spesifik wanita dan mengatur siklus menstruasi.





II. Kanker ovarium



Kanker ovarium berasal dari sel - sel yang menyusun ovarium yaitu sel epitelial, sel germinal dan sel stromal. Sel kanker dalam ovarium juga dapat berasal dari metastasis organ lainnya terutama sel kanker payudara dan kanker kolon tapi tidak dapat dikatakan sebagai kanker ovarium.


Menurut data statistik American Cancer Society insiden kanker ovarium sekitar 4 % dari seluruh keganasan pada wanita dan menempati peringkat kelima penyebab kematian akibat kanker, diperkirakan pada tahun 2003 akan ditemukan 25.400 kasus baru dan menyebabkan kematian sebesar 14.300, dimana angka kematian ini tidak banyak berubah sejak 50 tahun yang lalu.


Hampir 70 % kanker ovarium epitelial tidak terdiagnosis sampai keadaan stadium lanjut, menyebar dalam rongga abdomen atas (stadium III) atau lebih luas (stadium IV) dengan harapan hidup selama 5 tahun hanya sekitar 15–20%, sedangkan harapan hidup stadium I dan II diperkirakan dapat mencapai 90% dan 70%.




III. Faktor resiko kanker ovarium


Penyebab pasti kanker ovarium masih dipertanyakan, beberapa hal yang diperkirakan sebagai faktor resiko kanker ovarium adalah sebagai berikut:


· Riwayat keluarga kanker ovarium dan kanker payudara


· Riwayat keluarga kanker kolon dan kanker endometrial


· Wanita diatas usia 50 – 75 tahun


· Wanita yang tidak memiliki anak(nullipara)


· Wanita yang memiliki anak > 35 tahun


· Membawa mutasi gen BRCA1 atau BRCA2


· Sindroma herediter kanker kolorektal nonpolipoid


· Ras kaucasia > Afrika-Amerika


· Dll



IV. Jenis kanker ovarium



1. Tumor epitelial


Tumor epitelial ovarium berkembang dari permukaan luar ovarium, pada umumnya jenis tumor yang berasal dari epitelial adalah jinak, karsinoma adalah tumor ganas dari epitelial ovarium (EOC’s : Epitelial ovarium carcinomas) merupakan jenis tumor yang paling sering ( 85 – 90% ) dan penyebab kematian terbesar dari jenis kanker ovarium. Gambaran tumor epitelial yang secara mikroskopis tidak jelas teridentifikasi sebagai kanker dinamakan sebagai tumor bordeline atau tumor yang berpotensi ganas (LMP tumor : Low Malignat Potential).


Beberapa gambaran EOC dari pemeriksaan mikroskopis berupa serous, mucous, endometrioid dan sel jernih.



2. Tumor germinal


Tumor sel germinal berasal dari sel yang menghasilkan ovum atau telur, umumnya tumor germinal adalah jinak meskipun beberapa menjadi ganas, bentuk keganasan sel germinal terutama adalah teratoma, dysgerminoma dan tumor sinus endodermal. Insiden keganasan tumor germinal terjadi pada usia muda kadang dibawah usia 20 tahun, sebelum era kombinasi kemoterapi harapan hidup satu tahun kanker ovarium germinal stadium dini hanya mencapai 10 - 19% sekarang ini 90 % pasien kanker ovarium germinal dapat disembuhkan dengan fertilitas dapat dipertahankan.



3. Tumor stromal


Tumor ovarium stromal berasal dari jaringan penyokong ovarium yang memproduksi hormon estrogen dan progesteron, jenis tumor ini jarang ditemukan, bentuk yang didapat berupa tumor theca dan tumor sel sartoli-leydig termasuk kanker dengan derajat keganasan yang rendah.






Klasifikasi stadium kanker ovarium berdasarkan FIGO (International Federation of Gynecology and Obstetrics(1,13,14).























Stadium I terbatas pada 1 / 2 ovarium



I A



Mengenal 1 ovarium, kapsul utuh, ascites (-)



I B



Mengenai 2 ovarium, kapsul utuh, ascites (-)



I C



Kriteria I A / I B disertai 1 > lebih keadaan sbb :


1. Mengenai permukaan luar ovarium


2. Kapsul ruptur


3. Ascites (+)










































Stadium II perluasan pada rongga pelvis



II A



Mengenai uterus / tuba fallopi / keduanya



II B



Mengenai organ pelvis lainnya



II C



Kriteria II A / II B disertai 1 / > keadaan sbb :


1. Mengenai permukaan ovarium


2. Kapsul ruptur


3. Ascites (+)



Stadium III kanker meluas mengenai organ pelvis dan intraperitoneal



III A



Makroskopis : terbatas 1 / 2 ovarium


Mikroskopis : mengenai intraperitoneal



III B



Makroskopis : mengenai intraperitoneal diameter < 2 cm, KGB (-)



III C



1. Meluas mengenai KGB dan /


2. Makroskopis mengenai intraperitoneal diameter > 2 cm





Derajat keganasan kanker ovarium(13,14)


1. Derajat 1 : differensiasi baik


2. Derajat 2 : differensiasi sedang


3. Derajat 3 : differensiasi buruk


Dengan derajat differensiasi semakin rendah pertumbuhan dan prognosis akan lebih baik.



Tanda dan keluhan kanker ovarium(13,14)


Kanker ovarium sulit terdeteksi, hanya sekitar 10 % dari kanker ovarium yang terdeteksi pada stadium awal, keluhan biasanya nyeri daerah abdomen disertai keluhan–keluhan:


· Pembesaran abdomen akibat penumpukan cairan dalam rongga abdomen (ascites)


· Gangguan sistem gastrointestinal; konstipasi, mual, rasa penuh, hilangnya nafsu makan dll


· Gangguan sistem urinaria; inkontinensia uri



· Perasaan tidak nyaman pada rongga abdomen dan pelvis


· Menstruasi tidak teratur


· Lelah


· Keluarnya cairan abnormal pervaginam (vaginal discharge)


· Nyeri saat berhubungan seksual


· Penurunan berat badan


· Dll



Deteksi dini kanker ovarium(13,14)


Semakin dini tumor ovarium ditemukan dan mendapat pengobatan harapan hidup akan semakin baik metode pemeriksaan yang sekarang ini digunakan sebagai penyaring kanker ovarium adalah:


Ø Pemeriksaan pelvik dan rektal : termasuk perabaan uterus dan ovarium untuk mengetahui bentuk dan ukuran yang abnormal, meskipun pemeriksaan rektovaginal tidak dapat mendeteksi stadium dini kanker ovarium.


Ø Ultrasounografi (USG): Dengan gelombang ultrasound untuk membedakan gambaran jaringan sehat, kista dan bentuk tumor padat, melalui abdomen ataupun pervaginam, dimana mampu mendeteksi keganasan dengan keluhan asimtomatik tapi ketepatan pada stadium dini rendah.


Ø Penanda tumor CA-125: Pemeriksaan darah CA-125 digunakan untuk menilai kadar CA-125 dimana peningkat pada kanker ovarium, wanita dengan kanker ovarium stadium lanjut terjadi peningkatan CA-125 (>35µ/ml) sekitar 80% walaupun ketepatan pemeriksaan ini baru mencapai 50 % pada stadium dini, pada wanita premonopause, kehamilan, endometriosis, fibroid uterine, penyakit ganguan fungsi hati dan kista ovarium juga terjadi peningkatan kadar CA-125.







Diagnosis kanker ovarium(13,14)


· Anamnesis dan pemeriksaan fisik pelvik


· Radiologi : USG Transvaginal, CT scan, MRI


· Tes darah khusus : CA-125 (Penanda kanker ovarium epitelial), LDH, HCG, dan AFP (penanda tumor sel germinal)


· Laparoskopi


· Laparotomi


· Pemeriksaan untuk mengetahui perluasan kanker ovarium


- Pielografi intravena (ginjal, ureter, dan vesika urinaria), sistoskopi dan sigmoidoskopi.


- Foto rontgen dada dan tulang.


- Scan KGB (Kelenjar Getah Bening)


- Scan traktus urinarius



Penatalaksanaan kanker ovarium(1,13,14)


1. Operasi


2. Radioterapi


3. Kemoterapi



Kanker ovarium epitelial :


· Stadium I : Pilihan terapi stadium I dengan derajat diferensiasi baik sampai sedang, operasi salpingo-ooforektomi bilateral (operasi pengangkatan tuba fallopi dan ovarium) atau disertai histerektomi abdominal total (pengangkatan uterus) dan sebagian jaringan abdominal, harapan hidup selama 5 tahun mencapai 90%, pada stadium I dengan diferensiasi buruk atau stadium IC pilihan terapi berupa:


· Radioterapi


· Kemoterapi sistemik


· Histerektomi total abdominal dan radioterapi



· Stadium II: Pilihan terapi utama operasi disertai kemoterapi atau radioterapi, dengan terapi ajuvan memperpanjang waktu remisi dengan harapan hidup selama 5 tahun mendekati 80 %.


· Stadium III dan IV:


Sedapat mungkin massa tumor dan daerah metastasis sekitarnya diangkat (sitoreduktif) berupa pengeluran asites, omentektomi, reseksi daerah permukaan peritoneal, dan usus, jika masih memungkinkan salpingo-ooforektomi bilateral dilanjutkan terapi ajuvan kemoterapi dan atau radioterapi.



Kanker ovarium germinal :


· Disgerminoma: pengangkatan ovarium dan tuba fallopi dimana kanker ditemukan dilanjutkan radioterapi atau kemoterapi.


· Tumor sel germinal lainnya: pengangkatan ovarium dan tuba fallopi dilanjutkan kemoterapi.



Kanker ovarium stromal :


· Operasi yang dilanjutkan dengan kemoterapi.



Kombinasi standar sistemik kemoterapi berupa TP (paclitaxel + cisplatin atau carboplatin), CP (cyclophosphamide + cisplatin), CC (cyclophosphamide + carboplatin).


Sejak tahun 1993 perkumpulan ginekologi onkologi (GOG) melaporkan bahwa paclitaxel dengan kombinasi cisplatin kini merupakan terapi lini pertama untuk kanker ovarium.

BACA SELENGKAPNYA - KARSINOMA OVARIUM

06 November 2010

Solusio Plasenta

Solusio Plasenta

Terlepasnya sebagian atau seluruh plasenta yang implantasinya normal, sebelum janin dilahirkan, pada masa kehamilan atau persalinan, disertai perdarahan pervaginam, pada usia kehamilan ³ 20 minggu.

KRITERIA DIAGNOSIS

Anamnesis

Perdarahan timbul akibat adanya trauma pada abdomen atau timbul spontan akibat adanya penyulit pada kehamilan yang merupakan predisposisi solusio plasenta. Faktor predisposisi solusio plasenta antara lain : usia ibu semakin tua, multi paritas, preeklampsia, hipertensi kronik, ketuban pecah pada kehamilan preterm, merokok, trombofilia, pengguna kokain, riwayat solusio plasenta sebelumnya, dan mioma uteri. Darah yang keluar tidak sesuai dengan beratnya penyakit, berwarna kehitaman, disertai rasa nyeri pada daerah perut akibat kontraksi uterus atau rangsang peritoneum. Sering terjadi pasien tidak lagi merasakan adanya gerakan janin.

Pemeriksaan Status Generalis

Periksa keadaan umum pasien dan tanda-tanda vital. Hati-hati adanya tanda pra renjatan (pra syok) yang tidak sesuai dengan jumlah perdarahan yang keluar pervaginam.

Pemeriksaan Status Obstetri

Periksa Luar : uterus terasa tegang atau nyeri tekan, bagian-bagian janin sulit diraba, bunyi jantung janin sering tidak terdengar atau terdapat gawat janin, apakah ada kelainan letak atau pertumbuhan janin terhambat.

Inspekulo : apakah perdarahan berasal dari ostium uteri atau dari kelainan serviks dan vagina. Nilai warna darah, jumlahnya, apakah encer atau disertai bekuan darah. Apakah tampak pembukaan serviks, selaput ketuban, bagian janin atau plasenta.

Periksa Dalam : perabaan fornises hanya dilakukan pada janin presentasi kepala, usia gestasi di atas 28 minggu dan curiga plasenta praevia. Nilai keadaan serviks, apakah persalinan dapat terjadi kurang dari 6 jam, berapa pembukaan, apa presentasi janin, dan adakah kelainan di daerah serviks dan vagina.

Pelvimetri Klinis : dilakukan pada kasus yang akan dilahirkan per vaginam dengan usia gestasi ³ 36 minggu atau TBJ ³ 2500 gram.

Klasifikasi Solusio Plasenta

a. Ringan : perdarahan kurang dari 100 – 200 cc, uterus tidak tegang, belum ada tanda renjatan, janin hidup, pelepasan plasenta kurang dari 1/6 bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma lebih dari 250 mg%.

b. Sedang : perdarahan lebih dari 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda pra renjatan, gawat janin atau janin telah mati, pelepasan plasenta ¼ sampai 2/3 bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma 120 – 150 mg%.

c. Berat : uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda renjatan, biasanya janin telah mati, pelepasan plasenta dapat terjadi pada lebih dari 2/3 bagian permukaan atau keseluruhan bagian permukaan.

DIAGNOSIS BANDING

Plasenta praevia, Vasa praevia.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

USG : menilai implantasi plasenta dan seberapa luas terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya, biometri janin, indeks cairan amnion, kelainan bawaan dan derajat maturasi plasenta.

Kardiotokografi : pada kehamilan di atas 28 minggu.

Laboratorium : darah perifer lengkap, fungsi hemostasis, fungsi hati, atau fungsi ginjal (disesuaikan dengan beratnya penyulit atau keadaan pasien). Lakukan pemeriksaan dasar : hemoglobin, hematokrit, trombosit, waktu pembekuan darah, waktu protrombin, waktu tromboplastin parsial, dan elektrolit plasma.

Pemeriksaan Lain : atas indikasi medik.

KONSULTASI

Spesialis Anak, Spesialis Anestesi dan Spesialis Penyakit Dalam.

BACA SELENGKAPNYA - Solusio Plasenta
INGIN BOCORAN ARTIKEL TERBARU GRATIS, KETIK EMAIL ANDA DISINI:
setelah mendaftar segera buka emailnya untuk verifikasi pendaftaran. Petunjuknya DILIHAT DISINI