kolom pencarian

KTI D3 Kebidanan[1] | KTI D3 Kebidanan[2] | cara pemesanan KTI Kebidanan | Testimoni | Perkakas
PERHATIAN : jika file belum ter-download, Sabar sampai Loading halaman selesai lalu klik DOWNLOAD lagi

25 August 2010

Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi berat badan ib hamil di puskesmas

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Visi Indonesia Sehat 2010 adalah ditetapkannya misi pembangunan kesehatan yang salah satunya adalah mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat, dengan sasaran meningkatkan jumlah penduduk mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang sehingga untuk meningkatkan percepatan perbaikan derajat kesehatan masyarakat dengan salah satu program unggulannya yaitu program perbaikan gizi (Dep.Kes RI,1993).
Sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia saat ini dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga tidak sehat, umumnya disebut kekurangan gizi. Kejadian kekurangan gizi pada ibu hamil berdampak pada kemungkinan resiko tinggi untuk melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), meningkatnya kemungkinan pre eklamsi, perdarahan antepartum, dan komplikasi obstetrik lainnya selain meningkatnya angka kematian ibu, angka kematian perinatal, angka kematian bayi, angka kematian balita, serta rendahnya umur harapan hidup (Dep.Kes. RI, 2004).
Angka kematian ibu maternal berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, waktu melahirkan dan masa nifas. Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003. Angka kematian ibu sebesar 307 (0,307%) per 100.000 kelahiran hidup. Provinsi Lampung terdapat sebanyak 145 (0,88%) kasus dari 165.347 kelahiran hidup. Jumlah AKI di Kota Metro pada tahun 2005 ini ada sebanyak 2 (0,072%) kasus per 2.801 kelahiran hidup. Kota Metro sebagai wilayah dengan kasus terkecil AKI tetap saja mengalami peningkatan kejadian dibandingkan dengan tahun sebelumnya (Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, 2005).
Berdasarkan hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada periode 2002-2003, tingkat kematian perinatal adalah 24 per 1000 kelahiran (Kodim, 2007). Salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal adalah Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2500 gram). BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu : BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena Intrauterine Growth Retardasion (IUGR), yaitu bayi lahir cukup bulan tapi berat badannya kurang. Terdapat BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk, anemia, malaria, dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil di negara berkembang (Dep.Kes. RI, 2003).
Hasil survey Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) pada tahun 2003 menunjukkan sebesar 16,7% Wanita Usia Subur (WUS) di Indonesia memiliki risiko Kurang Engergi Kronik (KEK). Provinsi Lampung tercatat sebesar 14,43% WUS yang mempunyai resiko KEK (Dep.Kes. RI, 2003).
Menurut data para survei yang penulis peroleh pada tanggal 28 Maret 2007 di Puskesmas Banjar Sari Kecamatan Metro Utara Kota Metro didapatkan data ibu hamil dengan status gizi kurang yaitu periode Januari – Maret 2007 memiliki jumlah ibu hamil dengan resiko tinggi sebanyak 8 (2,73%), risiko KEK sebanyak 4 (1,37%) orang dari 293 ibu hamil (Laporan Puskesmas Banjarsari, 2007). Jumlah bayi yang lahir dengan BBLR di Kota Metro sebesar 68 (2,43%) bayi dari 2.801 kelahiran hidup. Khusus untuk Puskesmas Banjarsari sebanyak 15 (3,49%) bayi dari 499 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Kota Metro, 2005).
Melihat dari data KEK tersebut bahwa resiko kehamilan meningkat pada ibu hamil yang KEK sehingga dapat mempengaruhi hasil dari kehamilan tersebut (Moore, 1991).
Kehamilan merupakan masa penyesuaian tubuh terhadap perubahan fungsi tubuh yang menyebabkan peningkatan kebutuhan akan nutrisi. Terdapat berbagai laporan penelitian yang menunjukkan adanya kaitan erat antara status gizi ibu hamil dan anaknya yang dikandung yaitu bahwa status gizi ibu hamil mempengaruhi tumbuh kembang janin yang dikandung. Makanan ibu sangat penting diperhatikan agar kebutuhan nutrisi ibu dan anak dapat terpenuhi secara optimal. Faktor-faktor yang mempengaruhi berat badan ibu hamil dapat dilihat dari Indeks Quetelet (Indeks Q), asupan gizi, dan komplikasi atau penyakit yang menyertai ibu selama kehamilan (Samsudin, 1986).
Indikator pemenuhan gizi ibu hamil dapat diukur dengan Indeks Quetelet (Indeks Q). Indeks Q menekankan pada keseimbangan berat badan dalam kilogram dibagi dengan dua kali tinggi badan dalam meter. Kenaikan berat badan adalah salah satu indeks yang dapat dipakai sebagai ukuran untuk menentukan status gizi wanita hamil (Rose-Neil, 1991).
Asupan gizi sangat menentukan kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Makanan yang dikonsumsi terdiri dari susunan menu seimbang, yaitu yang lengkap dan sesuai kebutuhan. Asupan makanan ibu hamil meningkat seiring dengan bertambahnya usia kehamilan sehingga dapat mempengaruhi pola kenaikan berat bdan ibu selama kehamilan (Huliana, 2001).
Seorang wanita yang mengidap penyakit bawaan atau penyakit tertentu yang cukup serius harus waspada dan berhati-hati dalam menghadapi kehamilan. Umumnya kehamilan dapat berjalan lancar dengan perawatan dan pengobatan yang teratur (Huliana, 2001).
Melihat uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian sederhana mengenai “gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi berat badan ibu hamil di Puskesmas Banjarsari Kecamatan Metro Utara Kota Metro Tahun 2007”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apa faktor-faktor yang mempengaruhi berat badan ibu hamil di Puskesmas Banjarsari Kecamatan Metro Utara Kota Metro?”

DOWNLOAD KLIK DISINI:
Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi berat badan ib hamil di puskesmas
BACA SELENGKAPNYA - Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi berat badan ib hamil di puskesmas

Gambaran faktor-faktor penyebab wanita PUS tidak melakukan pemeriksaan PAP Smear di wilayah kerja puskesmas.doc

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pasangan Usia Subur (PUS) perlu untuk mendapatkan perawatan kesehatan baik dari keluarganya maupun dari bidan atau dokter. Adanya penyulit reproduksi yang sering dialami oleh PUS sebenarnya bisa di cegah dengan melakukan pencegahan melalui tindakan deteksi dini. Upaya pencegahan ini diharapkan dapat menekan angka kesakitan akibat penyakit kelainan reproduksi dan mencegah kegawat daruratan/komplikasi untuk menyelamatkan jiwa ibu dalam rangka menurunkan angka kematian ibu (Dinkes Metro, 2007).
Kanker serviks disinyalir menjadi pembunuh nomor 1 bagi wanita, dan urutan terbesar dari jumlah penderita penyakit kanker. Saat ini di seluruh dunia terdapat 270.000 penderita kanker serviks baru dan 140.000 diantaranya meninggal dunia tiap tahunnya (Wijaya, 2008).
Dalam 40 tahun terakhir, kejadian dan kematian ibu akibat kanker serviks menurun hingga 70 %, karena kematian terjadi pada sebagian besar penderita yang datang berobat sudah dalam stadium lanjut. Salah satu cara untuk menemukan kanker serviks dalam stadium dini adalah dengan pap smear (Soepardiman, 2000).
Pap smear adalah cara pemeriksaan secara mikroskopik pada jaringan serviks untuk mendeteksi secara dini ada atau tidaknya jaringan sel-sel kanker sebelum akhirnya berkembang menjadi kanker serviks yang serius, yaitu dengan memasukan alat kecil yang disebut speculum kedalam vagina dan mengambil contoh sel-sel dari saluran leher rahim. Pemeriksaan ini sangat sederhana, tidak menimbulkan rasa sakit serta hanya memakan waktu lebih kurang 10 menit. (Tharsyah, 2001).
Dampak dari tidak melakukan pemeriksaan pap smear adalah tidak terdeteksinya gejala awal dari kanker serviks (Evennet, 2004). Sebagaimana kanker umumnya maka kanker serviks akan menimbulkan masalah berupa kesakitan (morbiditas) penderitaan, kematian, finansial / ekonomi maupun lingkungan bahkan pemerintah (Farid, 2001). Diagnosa kanker serviks masih sering terlambat dibuat dan penanganannya ternyata tidak memberi hasil yang baik (Harahap, 1984). Keterlambatan diagnosa berakibat lebih dari separuh penderita kanker serviks berada dalam stadium lanjut yang memerlukan fasilitas khusus untuk pengobatan seperti peralatan radioterapi yang hanya tersedia di beberapa kota besar saja. Disamping mahal, pengobatan terhadap kanker stadium lanjut memberikan hasil yang tidak memuaskan dengan harapan hidup 5 tahun yang rendah (Sjamsuddin, 2001).
Kanker serviks uteri merupakan penyakit keganasan yang menimbulkan masalah kesehatan kaum wanita terutama di negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia (Tambunan, 1995). Departemen Kesehatan RI memperkirakan insiden kanker serviks 100 per 100.000 penduduk per tahun. Data yang dikumpulkan (1988 – 1994) dari 13 laboratorium patologi anatomi di Indonesia menunjukkan bahwa frekuensi kanker servik tertinggi diantara kanker yang ada di Indonesia, maupun di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Ciptomangunkusumo (Aziz, 2001). Masalah kanker servik di Indonesia semakin di perburuk lagi dengan banyaknya yaitu lebih dari 70% kasus kanker yang sudah berada pada stadium lanjut ketika datang ke rumah sakit (Nuranna, 2001).
Di ruang kebidanan dan penyakit kandungan RSUD Jend. A. Yani Metro insiden kanker serviks pada bulan Januari – Desember 2007 adalah kanker terbanyak diantara kanker ginekologi lainnya yaitu sebanyak 7 kasus dengan 2 orang meninggal dunia. (RSUD A. Yani Metro, 2007). Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Metro terhadap 8 puskesmas di Kota Metro yang telah melakukan pemeriksaan pap smear masal pada tahun 2007, didapatkan data, jumlah peserta yang melakukan pemeriksaan pap smear di Puskesmas Iringmulyo adalah terendah diantara puskesmas lainnya yaitu sebanyak 10 wanita PUS atau 0,007% dari jumlah sasaran 1438 wanita PUS.
Pada dasarnya kanker serviks ini menimpa wanita karena wanita itu sendiri tidak pernah melakukan pemeriksaan sejak dini. Apa lagi bagi mereka yang memiliki resiko tinggi untuk terkena penyakit ini (Tharisyah, 2001). Hal ini disebabkan karena kurangnya pengertian akan bahaya kanker, karena pendidikan yang kurang atau kurangnya penerangan mengenai kanker umumnya, kanker leher rahim khususnya. Tidak jarang pula penderita tidak dapat pergi ke dokter karena persoalan biaya, sehingga keterlambatan diagnosa kanker serviks sering terjadi (Harahap, 1998).
Penyebab masalah lain dalam deteksi dini adalah rasa takut kalau pap smear akan menyatakan bahwa mereka menderita kanker sehingga mereka lebih memilih untuk menghindarinya. Perasaan malu, khawatir atau cemas untuk menjalani pap smear karena adanya pikiran tentang ada orang lain selain pasangan yang memasukkan sesuatu ke dalam dirinya, selain itu serangan dari pasangan yang beranggapan bahwa telah melakukan persetubuhan dengan siapa saja, sehingga mempengaruhi wanita tidak melakukan pap smear (Evennett, 2004).
Berdasarkan urian diatas, penulis tertaik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor penyebab wanita PUS tidak melakukan pemeriksaan pap smear.


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah penulis membuat rumusan masalah penelitian sebagai berikut “Bagaimanakah Gambaran Faktor-faktor Penyebab Wanita PUS Tidak Melakukan Pemeriksaan Papsmear di Puskesmas Iringmulyo tahun 2008?”

DOWNLOAD KLIK DISINI:
Gambaran faktor-faktor penyebab wanita PUS tidak melakukan pemeriksaan PAP Smear di wilayah kerja puskesmas
BACA SELENGKAPNYA - Gambaran faktor-faktor penyebab wanita PUS tidak melakukan pemeriksaan PAP Smear di wilayah kerja puskesmas.doc

24 August 2010

CARA PEMBERIAN OBAT

 CARA PEMBERIAN OBAT: "
n PEMBERIAN OBAT

PENDAHULUAN
n PERAWAT BERTANGGUNGJAWAB DALAM PEMBERIAN OBAT
n HARUS SELALU MEMPERHATIKAN REFERENSI : BUKU & सद्म

6 HAL BENAR DALAM PEMBERIAN OBAT
n KLIEN BENAR
n OBAT BENAR
n DOSIS BENAR
n WAKTU BENAR
n RUTE BENAR
n DOKUMENTASI BENAR
KLIEN YG BENAR
n PERIKSA GELANG IDENTITAS & SEBUT NAMA SENDIRI
n IMPLIKASI :
PERIKSA GELANG IDENTIFIKASI
BEDAKAN KLIEN DG NAMA YG SAMA
OBAT YG BENAR
n CEK RESEP & LEMBAR INSTRUKSI DOKTER
n KOMPONEN INSTRUKSI :
TANGGAL & JAM
NAMA OBAT
DOSIS OBAT
RUTE PEMBERIAN
FREKWENSI
TANDA TANGAN
n IMPLIKASI :
INSTRUKSI LENGKAP & SAH?
MENGAPA KLIEN MENERIMA
RESEP TSB?
LABEL DIBACA 3 KALI
n 4 KATEGORI PERINTAH PEMBERIAN OBAT :
PERINTAH TETAP
PERINTAH SATU KALI
PERINTAH JIKA PERLU
PERINTAH SEGERA
DOSIS YG BENAR
n PERTIMBANGKAN KETERSEDIAAN & DOSIS
n IMPLIKASI :
HITUNG DOSIS DG BENAR
LIHAT REFERENSI

WAKTU YG BENAR
n SAAT HARUS DIBERIKAN
n IMPLIKASI :
SAAT KHUSUS
TERPENGARUH OLEH MAKANAN
IRITASI LAMBUNG
KONTRA INDIKASI OBAT
PERIKSA KADALUWARSA
ANTIBIOTIK SELANG WAKTU SAMA
RUTE YG BENAR
n ORAL, SUBLINGUAL, TOPIKAL, INHALASI, INSTILASI, PARENTERAL
n IMPLIKASI :
KEMAMPUAN MENELAN

PARENTERAL HARUS STERIL

BERIKAN PADA TEMPAT YG BENAR

TETAP DG KLIEN SAMPAI OBAT DITELAN
DOKUMENTASI YG BENAR
n NAMA OBAT, DOSIS, RUTE, WAKTU, TANGGAL, INISIAL/TANDATANGAN, RESPON KLIEN
HAK-HAK KLIEN
n HAK MENGETAHUI ALASAN PEMBERIAN OBAT
n HAK MENOLAK PENGOBATAN
n FAKTOR2 YG MENGUBAH RESPON TERHADAP OBAT
Absorbsi
Distribusi
Metabolisme
Ekskresi
Usia
Berat badan
Toksisitas
Farmakogenetik
Rute pemberian
Saat pemberian
Faktor emosional
Adanya penyakit
Riwayat obat
Toleransi
Efek penumpukan
Interaksi obat
BENTUK & RUTE PEMBERIAN OBAT
TABLET & KAPSUL
TDAK DIBERIKAN BILA MUNTAH, REFLEK MUNTAH (-), KOMA
KAPSUL, ENTERIC COATED, TIMED RELEASE, HRS DITELAN UTUH
SUBLINGUAL ATAU BUKAL, DIBIARKAN SAMPAI HABIS
CAIRAN
PERLU PENGENCERAN ATAU PENGOCOKAN?
PERHATIKAN DOSIS
BIASANYA PERLU DISIMPAN DI LEMARI ES
TRANSDERMAL
TERSIMPAN DALAM PATCH, DITEMPELKAN PADA KULIT
TOPIKAL
DIBERIKAN PADA KULIT
GUNAKAN SARUNG TANGAN, SPATEL LIDAH, APLIKATOR
INSTILASI
OBAT CAIR DALAM BENTUK TETES
SUPOSITORIA
REKTAL
SIMPAN DALAM LEMARI ES
GUNAKAN SARUNG TANGAN
BERI PELUMAS
KLIEN MIRING
DIAM 20 MENIT
AJARI KLIEN CARANYA
VAGINAL
TETES DAN SEMPROT HIDUNG
AEROSOL (INHALASI)
PARENTERAL
INTRADERMAL
STERILKAN
REGANGKAN KULIT
TUSUKKAN JARUM
MASUKKAN OBAT
ANGKAT JARUM
JANGAN GOSOK
SUBKUTAN
STERILKAN
CUBIT KULIT
TUSUKKAN JARUM
LEPASKAN KULIT
ASPIRASI
MASUKKAN OBAT
ANGKAT JARUM
GOSOK DG LEBUT
INTRAMUSKULAR
n INTRAMUSKULAR
n INTRAMUSKULAR
n INTRAMUSKULAR
INTRAVENA
TEKNIK :
PASANG TORNIKET
STERILKAN
MASUKKAN JARUM,LEPAS TORNIKET
STABILKAN JARUM
PERHATIKAN KECEPATAN ALIRAN, LOKASI&SEKITARNYA
IMPLIKASI KEPERAWATAN
JELASKAN APA YG HENDAK DILAKUKAN
TUNJUKKAN PERHATIAN
HILANGKAN KECEMASAN
POSISI SENYAMAN MUNGKIN
ALAT YG SESUAI
BERIKAN SESUAI RUTE YG DIPERINTAHKAN
KULIT TIDAK BOLEH RADANG
PADA ANAK HINDARI DORSOGLUTEAL
AMATI REAKSI

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
BACA SELENGKAPNYA - CARA PEMBERIAN OBAT

Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan: "

Secara ideal angka ketersediaan obat adalah 120% dengan perincian 100% dipergunakan untuk keperluan dan sisanya sebanyak 20% adalah untuk cadangan misalnya di situasi khusus oleh karena adanya bencana atau wabah. Jumlah cadangan biasanya bervariasi berkisar antara 20% - 50%. Jumlah ini tergantung pada situasi tertentu misalnya saat terjadi wabah ataupun bencana alam.


Tabel 44 dan 45 menunjukkan persentase ketersediaan obat baik generic maupun essensial yaitu 298,56% (> 100%). Jumlah yang melebihi ini pada umumnya adalah karena adanya dropping obat bersumber dari pusat yang tidak sesuai permintaan dan kebutuhan. Namun secara umum jika persentase rata- rata ketersediaan obat mendekati ataupun melebihi 100%, maka diartikan keadaan stok obat cukup aman.


Rata- rata persentase penulisan resep obat di sarana kesehatan baik pemerintah ataupun swasta telah mencapai 93,33% (tabel 46). Dengan perincian di sarana kesehatan pemerintah 98,69% dan di sarana kesehatan swasta 54,07%.


Di sarana kesehatan pemerintah memang dianjurkan untuk menggunakan obat generik, sehingga penulisan resep obat generik di sarana kesehatan pemerintah sudah mencapai target 80%, sedangkan untuk sarana kesehatan swasta persentase masih rendah

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
BACA SELENGKAPNYA - Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Pedagang Besar Farmasi Tidak Boleh Impor Obat

Pedagang Besar Farmasi Tidak Boleh Impor Obat: "

Pedagang Besar Farmasi (PBF) tidak boleh lagi mengimpor obat dari luar negeri. Registrasi obat impor hanya boleh dilakukan industri farmasi dalam negeri yang mendapat persetujuan tertulis dari industri farmasi di luar negeri. Ketentuan ini dituangkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI 1010/MENKES/PER/XI/2008 tanggal 3 November 2008 tentang Registrasi Obat.


Hal itu disampaikan Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) dalam wawancara dengan Majalah TRUST dan Reuters berkaitan dengan penolakan Gabungan Perusahaan Farmasi Internasional (IPMG) terhadap Kepmenkes No. 1010 Tahun 2008 di Jakarta tanggal 26 November 2008.


Menurut Menkes, dalam keputusan sebelumnya yakni Keputusan Menkes No. 1191 Tahun 2002, Pedagang Besar Farmasi (PBF) adalah perusahaan yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran perbekalan farmasi. Penanggung jawabnya seorang apoteker dan dibantu asisten apoteker.


Pada Keputusan Menteri Kesehatan No. 1010/MENKES/ PER/XI/2008, PBF yang mempunyai kompetensi seperti itu tidak layak mengimpor obat dari luar negeri. Yang boleh mengimpor obat dari luar negeri adalah industri farmasi karena obat impor harus diregistrasi lagi di Indonesia untuk menjamin keamanan, khasiat dan mutunya sampai dengan pasca pemasaran, ujar dr. Siti Fadilah Supari.


Sistem organisasi PBF anggota IPMG tidak memenuhi syarat ketentuan sebagaimana diatur dalam Kepmenkes No. 1010 Tahun 2008, yakni tidak memiliki fasilitas produksi di Indonesia. ”Itu sangat merugikan. Seharusnya obat diimpor oleh industri obat. Kalau PBF bisa begitu, semua memilih menjadi PBF saja dan para investor di sini bisa lari semua. Justru dengan Keputusan Menkes No. 1010 Tahun 2008 ini diharapkan investor datang ke Indonesia”, ungkap Menkes.


”Saya menginginkan keadilan. Saya tidak anti bekerja sama dengan asing. Tetapi saya ingin bekerja sama dengan adil. Indonesia punya pangsa pasar paling besar di ASEAN, mungkin terbesar setelah India dan China. Penduduk Indonesia 220 juta, sementara 30% dari jumlah itu masih membeli obat yang mahal. Bangunlah pabrik di Indonesia agar keuntungannya mengalir ke rakyat, karena bisa mengurangi pengangguran”, ujar Dr. Siti Fadilah Supari.


Berdasarkan Permenkes No. 1010 Tahun 2008 tentang registrasi obat, registrasi obat baik produksi dalam negeri, obat impor, obat khusus untuk ekspor, maupun obat yang dilindungi paten hanya bisa dilakukan industri farmasi. Impor obat diutamakan untuk obat program kesehatan masyarakat, obat penemuan baru dan obat yang dibutuhkan tetapi tidak dapat diproduksi di dalam negeri, ujar Menkes.


Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Setjen Depkes RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi telp./fax. 52921669 atau email puskom.publik@yahoo.co.id.


http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
BACA SELENGKAPNYA - Pedagang Besar Farmasi Tidak Boleh Impor Obat

Gunakan Obat dengan tepat dan sesuai aturan

Gunakan Obat dengan tepat dan sesuai aturan: "


obatObat merupakan sesuatu yang umumnya dikonsumsi saat seseorang sakit. Saat menderita flu, batuk, sakit maag atau sakit kepala (pusing), kebanyakan orang mengobatinya dengan mengkonsumsi obat bebas yang dapat dibeli di warung, toko atau apotik. Hal ini disebabkan karena penyakit tersebut umumnya cepat sembuh dan dianggap tidak berbahaya. Tetapi, ada hal yang perlu diperhatikan saat Anda mengkonsumsi obat bebas atau antibiotik.


Obat Bebas


Obat bebas adalah obat yang dapat dibeli secara bebas atau tidak membutuhkan resep dokter. Obat bebas cukup aman dikonsumsi bila mengikuti aturan pakai dan dosis yang tercantum dalam kemasan. Anda juga harus memastikan apakah obat bebas tersebut benar-benar obat bebas yang aman, bukan obat yang membutuhkan resep dokter tetapi dapat dibeli secara bebas.


Sesuaikan obat yang akan dikonsumsi dengan penyakit yang diderita. Misalnya, saat Anda batuk, perhatikan apakah batuk tersebut termasuk jenis batuk kering atau batuk berdahak. Batuk kering biasanya disebabkan karena adanya iritasi. Sedangkan batuk berdahak karena masuknya virus atau bakteri sehingga tubuh mengeluarkan lendir untuk melawannya.


Atau bila Anda menderita flu, dapat dideteksi apakah flu disebabkan virus atau bakteri. Flu yang disebabkan virus biasanya mengeluarkan cairan encer yang sebenarnya bisa disembuhkan dengan cukup beristirahat, minum banyak air, dan makan makanan bergizi dan mengandung vitamin khususnya vitamin C, tanpa perlu mengkonsumsi obat. Sebaliknya, bila cairan kental berarti flu disebabkan oleh bakteri yang perlu diatasi dengan mengkonsumsi obat atau dengan pergi ke dokter untuk mendapatkan antibiotik.


Anda perlu mengetahui apa kandungan yang terdapat dalam obat bebas dan memastikan agar Anda atau orang yang akan mengkonsumsi obat tersebut tidak memiliki alergi terhadap kandungan obat. Hindari mengkonsumsi kandungan tertentu dari obat dikonsumsi dengan dosis dua kali lipat atau lebih. Hal ini dimungkinkan apabila seseorang mengkonsumsi obat flu dan obat sakit kepala bersamaan sehingga kandungan parasetamol yang terdapat dalam kedua obat tersebut masuk ke tubuh dengan dosis ganda.


Berikut ini tabel kandungan yang umumnya terdapat dalam obat bebas dan kegunaannya.






























































Obat untuk PenyakitKandungan dalam ObatManfaat
Flu atau PilekParasetamol

(Asetaminofen)
Penurun panas (antipiretik) dan meredakan nyeri otot dan sendi (amalgesik)
Klorpeniramin atau Difenhidramin atau Feniramin atau Tripolidin

(Antihistamin)
Mengatasi alergi dan meredakan bersin.
Pseudoefedrin atau Efedrin atau Fenilefrin atau Fenilpropanolamin

(Dekongestan)
Melegakan tenggorokan dan melonggarkan saluran pernapasan dengan cara mengurangi lendir.
Batuk KeringDextromethorpan

(DMP)
Meredakan batuk kering.
ParasetamolMenurunkan panas dan meredakan nyeri otot dan sendi.
Dextromethorphan

(Antitusif)
Meredakan refleks batuk secara langsung dengan cara menekan pusat batuk baik yang berada di sumsum sambungan (medulla) atau pada pusat saraf (otak).
Batuk BerdahakGuaifenesin dan garam ammonium guaicol

(Ekspetoran)
Mengeluarkan cairan encer sehingga dahak menjadi lebih encer dan mudah dikeluarkan.
Ambroxol dan Bromexin

(Mukolitik)
Mengurangi kekentalan cairan lendir.
Sakit Kepala atau PusingParasetamol atau Asam Mefenamat atau Asam Asetil SalisilatMenurunkan panas dan meredakan nyeri otot dan sendi.
Sakit Lambung atau Sakit MaagAluminium hidroksida dan Magnesium HidroksidaMengurangi nyeri lambung dengan menetralkan asam lambung.
DiareAttapulgite dan PectinMengurangi pergerakan usus.

Efek samping yang dapat terjadi bila kelebihan dosis (over dosis) obat adalah nyeri lambung, jantung berdebar, gelisah, kejang atau hilang kesadaran. Dampak terburuknya dapat mengakibatkan kematian.


Antibiotik


Bila Anda tidak kunjung sembuh setelah mengkonsumsi obat bebas, sebaiknya Anda segera pergi ke dokter agar dapat diberikan obat yang tepat. Untuk penyakit yang menyangkut infeksi, umumnya dokter akan memberikan antibiotik, walaupun dalam banyak kasus ada yang dapat disembuhkan tanpa mengkonsumsi antibiotik. Maka, tidak ada salahnya Anda menanyakan jenis serta kegunaan obat yang diberikan dokter.


Antibiotik yang dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka pendek dapat menyebabkan alergi seperti gatal-gatal, nyeri lambung, mual atau bengkak pada bibir, kelopak mata, dan bagian tubuh lainnya. Dampak lainnya adalah bakteri menjadi kebal, sehingga apabila bakteri yang sama menyerang tubuh diperlukan antibiotik dengan dosis yang lebih banyak atau antibiotik yang lebih berat untuk melawannya.


Karena itu jika Anda sakit tidak terlalu parah, sebaiknya hindari penggunaan antibiotik, karena dapat membuat bakteri dalam tubuh lebih kebal. Di negara-negara maju, penggunaan antibiotik dibatasi dan tidak mudah diberikan kepada pasien. Dokter biasanya akan memberikan resep dengan obat non antibiotik kecuali kondisi infeksi atau penyakit pada pasien sudah tergolong parah.



Kapan Saat yang Tepat untuk Minum Obat?


Mengkonsumsi obat, baik obat bebas atau obat dengan resep dokter termasuk antibiotik sebaiknya tidak dilakukan saat perut dalam keadaan kosong karena dapat menyebabkan efek yang buruk. Selalu gunakan air putih bukan kopi, susu atau teh saat minum obat. Dan yang terpenting selalu ikuti anjuran pemakaian agar terhindar dari efek samping yang berbahaya.


Gunakan obat dengan bijak, dan rasakan manfaatnya. Sebaiknya Anda menjaga kondisi kesehatan tubuh Anda. Namun jika Anda sakit, gunakan dan pilihlah obat dengan tepat. Semoga cepat sembuh!



http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
BACA SELENGKAPNYA - Gunakan Obat dengan tepat dan sesuai aturan

Gambaran efek samping KB suntik depo progestin di puskesmas pembantu

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keluarga Berencana (KB) adalah suatu tindakan untuk menghindari atau mendapatkan kelahiran, mengatur interval kehamilan dan menentukan jumlah anak dalam keluarga. KB merupakan suatu cara yang efektif untuk mencegah mortalitas ibu dan anak karena dapat menolong pasangan suami istri menghindari kehamilan resiko tinggi, dapat menyelamatkan jiwa dan mengurangi angka kesakitan. Dengan KB ibu juga dapat terhindar dari “4” terlalu, too Young (terlalu muda), too old (terlalu tua), too many (terlalu banyak) dan too cloose (terlalu dekat jaraknya) (Hartanto, 2003). Program KB nasional mempunyai arti penting dalam pelaksanaan pembangunan di bidang kependudukan dan keluarga kecil berkualitas yang dilaksanakan secara berkesinambungan (BKKBN, 2005).
Menurut (Prawirohardjo, 2001) secara umum tujuan KB adalah mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Dengan tidak mengikuti gerakan KB akan menimbulkan masalah pada bidang pendidikan, masalah gizi dan pangan, keamanan, lapangan kerja serta masalah perumahan dan tempat tinggal. Efek samping yang dialami akseptor KB suntik biasanya dikarenakan kurangnya KIE tentang efek samping yang mungkin terjadi.
Salah satu jenis kontrasepsi efektif yang menjadi pilihan adalah KB hormonal suntikan (injectables), dan merupakan salah satu alat kontrasepsi yang berdaya kerja panjang (lama), yang tidak membutuhkan pemakaian setiap hari. Kontrasepsi yang baik adalah aman, dapat diandalkan, sederhana, murah, dapat diterima orang banyak, dan pemakaian jangka lama. Namun sampai saat ini belum tersedia 100% metode kontrasepsi yang sempurna dan ideal. Begitu juga dengan akseptor KB suntik yang dapat mengalami efek samping seperti gangguan pola haid, kenaikan berat badan, sakit kepala dan kenaikan tekanan darah (Hartanto, 2003). Nyeri perut bagian bawah, pertumbuhan rambut bahkan sampai penurunan gairan seksual.
Dalam menentukan kapan dan metode kontrasepsi apa yang akan digunakan wanita harus mempertimbangkan pengaruh metode kontrsepsi terhadap fungsi reproduksi, salah satu alasan yang paling banyak disebutkan dalam penghentian kontrasepsi adalah efek samping yang dirasakan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh WHO pada 5332 wanita yang telah mempunyai anak di 14 negara berkembang menunjukkan bahwa banyak wanita berhenti menggunakan kontrasepsi IUD, oral dan suntik dikarenakan mereka tidak dapat menerima perubahan pola menstruasi (Klobinsky, 1997).
Perasaan dan kepercayaan wanita mengenai tubuh dan seksualitasnya tidak dapat dikesampingkan dalam pengambilan keputusan dalam menggunakan kontrasepsi. Banyak wanita takut siklus normalnya berubah karena mereka takut perdarahan yang lama dapat mengubah pola hubungan seksual dan juga dapat membatasi aktivitas keagamaan maupun budaya. Dinamika seksual dan kekuasaan antara pria dan wanita dapat menyebabkan penggunaan kontrasepsi terasa canggung bagi wanita. Pendapat suami mengenai KB cukup kuat pengaruhnya untuk menentukan penggunaan metode kaluarga berencana oleh istri. Berbagai budaya mendukung kepercayaan bahwa pria mempunyai hak akan fertilitas istri mereka. Di Papua Nugini dan Nigeria, wanita tidak dapat membeli kontrasepsi tanpa persetujuan suami (Klobinsky, 1997).
Berdasarkan data pra survey di Pustu Tegal Ombo Kecamatan Way Bungur Kabupaten Lampung Timur tahun 2006 sebanyak 45 akseptor KB yang menggunakan suntikan depo progestin lebih dari satu tahun.
Berdasarkan uraian pada latar belakang penulis memilih judul penelitian tentang “Gambaran Efek samping KB suntik Depo Progestin di Pustu Tegal Ombo Kecamatan Way Bungur Kabupaten Lampung Timur tahun 2007”.

DOWNLOAD KLIK DISINI:
Gambaran efek samping KB suntik depo progestin di puskesmas pembantu
BACA SELENGKAPNYA - Gambaran efek samping KB suntik depo progestin di puskesmas pembantu

Gambaran faktor penyebab rendahnya peran serta ibu balita di posyandu

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai penjabaran dari visi Departemen Kesehatan, maka tujuan yang akan dicapai adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi tingginya. Dalam pelaksanaannya masyarakat harus dapat berperan aktif sejak dimulainya perencanaan kebijakan pembangunan kesehatan. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan mendorong masyarakat agar mampu secara mandiri menjamin terpenuhinya kebutuhan kesehatan dan kesinambungan pelayanan kesehatan (Depkes RI, 2005).
Fungsi pemerintah lebih di tekankan pada penyediaan fasilitas, sarana pra sarana, pembinaan dan penyuluhan, serta penyediaan tenaga kesehatan. Bentuk peran serta masyarakat yang paling dominan dibidang kesehatan saat ini adalah posyandu, yang sudah mampu menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), serta bisa meningkatkan rata-rata umur harapan hidup. Perkembangan terakhir, menunjukkan, bahwa walaupun secara kualitas jumlah posyandu yang ada saat ini sudah memadai, namun secara kualitas masih perlu di tingkatkan, misalnya kelengkapan sarana, dan ketrampilan kader yang masih rendah yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap menurunnya status gizi masyarakat, khususnya kelompok rentan yaitu bayi, anak balita, ibu hamil dan menyusui (Depkes RI, 2006).
Di Kabupaten Lampung Timur diperoleh data angka kematian bayi pada tahun 2005 adalah 124 kasus atau 6,31 per 1000 kelahiran hidup. Data tersebut menunjukkan bahwa target penurunan angka kematian bayi sebesar 3,7 per 1000 kelahiran hidup belum tercapai. Jumlah bayi lahir dan kematian bayi terbanyak terjadi di Kecamatan Raman Utara. Bila dilihat dari faktor penyebab kematian tersebut disebabkan oleh Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) (29,7%) Asfiksia (17%), Pneomonia (1,7%), Diare (12,7%) dan penyebab lain (39%) (Dinkes Lampung Timur, 2006).
Angka kematian ibu pada tahun 2005 di Kabupaten Lampung Timur sebanyak 18 kasus. Setiap tahun terjadi fluktuasi angka kematian ibu, dimana pada tahun 2001 terjadi 13 kasus, tahun 2002 sebanyak 9 kasus, tahun 2003 terjadi 20 kasus dan tahun 2004 sebanyak 19 kasus. Penyebab kematian ibu terjadi karena eklamsi (31,8%), perdarahan (27,3%), aborsi (27,3%), partus lama (4,6%) dan penyebab lain (9,1%). Namun demikian angka tersebut belum menggambarkan jumlah kematian yang sebenarnya karena tidak setiap Puskesmas membuat laporannya (Dinkes Lampung Timur, 2006).
Dilihat dari status gizi masyarakat, pada tahun 2005 terjadi 233 kasus gizi buruk di Kabupaten Lampung Timur. Kondisi ini ditemukan di semua Kecamatan. Hasil pemantauan status gizi, Kekurangan Energi Protein (KEP) mengalami peningkatan pada 3 tahun terakhir. Berdasarkan hasil penimbangan di Posyandu terdapat 967 (1,76%) menderita Bawah Garis Merah (BGM) dan terjadi kasus BBLR sebanyak 118 kasus (0,71%) dari jumlah kelahiran (Dinkes Lampung Timur, 2006).
Analisis faktor yang berpengaruh terhadap tingginya angka kematian ibu, bayi dan kasus gizi buruk di Indonesia ternyata di pengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari tingkat pendidikan dan pengetahuan, sosial budaya, sosial ekonomi, posisi geografis dan aksesbilitas ibu pada fasilitas kesehatan modern. Faktor ini sangat kompleks dan saling berkaitan sehingga tidak mudah untuk menanggulanginya (Dinkes Propinsi Lampung, 2006).
Berbagai upaya telah dan akan selalu dilakukan oleh pemerintah, sektor swasta dan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Peran serta masyarakat menjadi begitu penting sejak dikembangkannya posyandu sebagai sarana pendidikan dan pelayanan gizi kepada para ibu agar lebih sadar gizi. Posyandu merupakan salah satu bentuk partisipasi masyarakat yang punya pengaruh sangat besar terhadap peningkatan status gizi bayi dan balita dan mempunyai daya ungkit besar terhadap penurunan angka kematian bayi (Depkes Kab. Lampung Timur, 2006).
Dalam pelaksanaannya posyandu melayani 5 program prioritas yaitu KB, KIA, gizi, imunisasi dan penanggulangan diare. Dari 5 kegiatan tersebut tidak semua kegiatan bisa dilakukan sendiri oleh masyarakat, khususnya dalam pelayanan antenatal, pelayanan kontrasepsi (kecuali pil dan kondom) dan imunisasi. Oleh sebab itu dalam kegiatan posyandu yang dilakukan 1 bulan sekali tersebut haru ada setidaknya 2 petugas Pusksemas untuk memberikan pelayanan teknis dan bimbingan atau pembinaan (Depkes RI, 2001).

Memperhatikan realita yang terjadi di masyarakat saat ini, bahwa Posyandu telah menjadi bagian yang penting dalam pembangunan kesehatan masyarakat pedesaan di Indonesia. Agar manfaat Posyandu semakin besar di perlukan adanya interaksi yang baik antara PKK, Puskesmas, Kader dan masyarakat sendiri sebagai pelaksanaan dan sekaligus target kinerja Posyandu (Depkes RI, 1990).
Petugas kesehatan tidak bisa berbuat banyak jika kader tidak menyelenggarakan kegiatan Posyandu yang telah dijadwalkan. Usaha kader juga akan sia-sia jika warga tidak ada yang datang, selanjutnya peran serta ibu yang tidak aktif juga akan berdampak langsung terhadap kesehatan ibu dan anak karena kurangnya pemantauan petugas (Depkes RI, 1990).
Hasil pengamatan penulis yang telah dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Raman Utara Kabupaten Lampung Timur, ternyata tingkat partisipasi ibu untuk datang ke Posyandu bervariasi. Data yang ada menunjukkan terdapat 890 ibu hamil dan yang datang ke posyandu hanya 27%, ibu bayi dan balita 3561 orang dengan tingkat keaktifan 35%. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian ibu hamil, ibu bayi dan balita belum memanfaatkan posyandu untuk mendapatkan pelayanan. Di Kecamatan Raman Utara, pada tahun 2006 lalu terdapat 11 kasus AKB, 9 kasus AKI, 1 orang kasus Gizi Buruk, 20 bayi menderita BGM (Puskesmas Raman Utara, 2006).
Selanjutnya untuk bisa mengetahui tingkat partisipasi ibu hamil, ibu bayi dan balita dalam memanfaatkan posyandu, maka dipilih Posyandu Anggrek di Desa Raman Aji Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung Timur. Data yang ada pada Posyandu Anggrek selama bulan Maret-April 2007 menunjukkan jumlah ibu bayi dan balita 76 orang. Dari jumlah tersebut terdapat 41 ibu bayi dan balita yang tidak datang ke Posyandu, dengan tingkat keaktifan 31%, ibu hamil 5 orang, dengan tingkat keaktifan 0%. Dengan demikian bila dibanding dengan target cakupan Posyandu Purnama yaitu tingkat kehadiran diatas 50%, maka kondisi ini berada di bawah rata-rata target ideal.
Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi ibu hamil, ibu bayi dan balita dalam memanfaatkan Posyandu masih rendah. Berdasarkan permasalah yang ada tersebut Penulis mengambil judul penelitian “Gambaran Faktor Penyebab Rendahnya Peran Serta Ibu Bayi dan Balita di Posyandu Anggrek Desa Raman Aji Kecamatan Raman Utara Lampung Timur.”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari data pada latar belakang dirumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut : “Bagimanakah Gambaran Faktor Penyebab Rendahnya Peran Serta Ibu Bayi dan Balita di Posyandu Anggrek Desa Raman Aji Kecamatan Raman Utara.”

DOWNLOAD KLIK DISINI:
Gambaran faktor penyebab rendahnya peran serta ibu balita di posyandu
BACA SELENGKAPNYA - Gambaran faktor penyebab rendahnya peran serta ibu balita di posyandu

Gambaran aktivitas seksual wanita menopause di desa

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Menurut (WHO) kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat secara menyeluruh meliputi asfek fisik, mental, sosial dan bukan hanya bebas dari penyakit yang berkaitan dengan sistem reproduksi dan fungsinya, kesehatan reproduksi bukan hanya menambah maslaah kehamilan atau kemandulan, tetapi mencakup seluruh siklus kehidupan seorang wanita dimana dalam menghadapi siklusnya dapat mengalami berbagai problema.
Menurut Mackenzie (1992 : 13) Menopause berasal dari bahasa yunani berarti ”berhentinya haid” dan klimakterium adalah masa peralihan atua anak tangga antara tahun-tahun reproduktif dan menopause sebenarnya.
Menurut At-tharsyah (2001 : 56) Menopause merupakan masa yang kritis dalam kehidupan wanita yang umumnya dimulai pada usia antara 45-55 tahun pada tahun-tahun itu banyak terjadi perubahan fisik maupun psikis pada diri seorang perempuan. Tubuh dan jiwa harus menyesuaikandiri dengan keadaan baru, pada banyak wanita, penyesuaian ini tidak berjalan lancar dan dapat mengakibatkan banyak keluhan, misalnya banyak keringat, jantung berdebar, sakit kepala, mudah tersinggung, cepat merasa lelah dan kurang bersemangat, pada periode inilah biasanya seorang wanita telah merasa dirinya menjadi tua dan takut tidak dapat memenuhi kebutuhan seksual suami.
Hubungan seksual merupakan aktivitas fisik yang juga melibatkan faktor positif, karena itu hubungan seksual memerlukan energi dan secara fisik, tidak berbeda dengan aktivitas fisik yang lain. Hubungan seksual adalah salah satu bentuk ungkapan cinta kasih antara suami istri, juga sebagai sarana komunikasi yang sangat baik untuk mewujudkan keharmonisan sebuah rumah tangga selain untuk mendapatkan keturunan. Dan hubungan seksual juga bertujuan memberikan kepuasan fisik dan mental pada pasangan suami istri. Menurut At-Tharsyah (2001:145)
Pembangunan kesehatan telah meningkatkan status kesehatan dan gizi masyarakat antara lain meningkatkan Umur Harapan Hidup (UHH) di Indonesia dari tahun ketahun, pada tahun 1971 UHH penduduk Indonesia adalah 46,5 tahun dan pada tahun 2005 diperkirakan mencapai 68,2 tahun, disamping itu terjadi pula pergeseran umur menopause dari 46 tahun pada tahun 1980 menjadi 49 tahun pada tahun 2000. (Depkes, 2005)
Jumlah dan proporsi penduduk perempuan yang berusia di atas 50 tahun dan diperkirakan memasuki usia menopause dari tahun ketahun juga mengalami peningkatan yang sangat signifikan, berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 jumlah perempuan berusia di atas 50 tahun baru mencapai 15,5 juta orang atau 7,6% dari total penduduk, sedangkan tahun 2020 jumlahnya diperkirakan meningkat menjadi 30,0 juta atau 11,5% dari total penduduk. (Depkes, 2005)
Lebih lanjut ditegaskan, berdasarkan perhitungan statistik, diperkirakan pada tahun 2020 jumlah penduduk Indonesia dan mencapai 262,6 juta jiwa dengan jumlah perempuan yang hidup dalam usia menopause adalah sekitar 30,3 juta jiwa dari jumlah laki-laki, di usia andropause akan mencapai 24,7 jiwa. (Depkes, 2005)
BACA SELENGKAPNYA - Gambaran aktivitas seksual wanita menopause di desa

Gambaran faktor-faktor penyebab terjadinya ketuban pecah dini di ruang kebidanan RSUD

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tolak ukur keberhasilan dan kemampuan pelayanan kesehatan suatu negara diukur dengan angka kematian ibu dan angka kematian perinatal. Diseluruh dunia terdapat kematian ibu sebesar 500.000 jiwa pertahun dan kematian bayi khususnya 10.000.000 jiwa pertahun. Sebesar 99% terjadi di negara sedang berkembang (Manuaba, 1998:8).
Menurut hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003, angka kematian ibu di Indonesia sebesar 307 per 1000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Indonesia, 2005:16). Salah satu penyebab langsung kematian ibu adalah karena infeksi sebesar 20-25% dalam 100.000 kelahiran hidup (Manuaba, 1998:19). Di Provinsi Lampung tahun 2005 angka kematian ibu akibat infeksi sebesar 1,39% dari 100.000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Provinsi Lampung, 2005:60).
Ketuban pecah dini atau spontaneous/early/premature rupture of membran atau KPD merupakan penyebab yang paling sering terjadi pada saat mendekati persalinan. Kejadian Ketuban pecah Dini mendekati 10% dari semua persalinan. Pada umur kehamilan kurang dari 34 minggu kejadiannya sekitar 4% (Manuaba, 1998:229). Kemungkinan infeksi ini dapat berasal dari dalam rahim (intrauterine), biasanya infeksi sudah terjadi tetapi ibu belum merasakan adanya infeksi misalnya kejadian ketuban pecah dini. Hal ini dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas pada ibu dan janinnya (Mochtar, 1998:257).
Ketuban pecah dini bila dihubungkan dengan kehamilan preterm, ada resiko peningkatan morbiditas dan mortalitas perinatal akibat imaturatas janin, disamping itu bila kelahiran tidak terjadi dalam 24 jam juga terjadi resiko peningkatan infeksi intrauterine (Taber, 1994:368). Adapun komplikasi yang ditimbulkan dari ketuban pecah dini bagi ibu diantaranya pendarahan post partum, sedangkan pada janinnya diantaranya dapat terjadi intra uteri fetal death atau IUFD (Mochtar, 1998:258). Oleh karena itu, tatalaksana ketuban pecah dini memerlukan tindakan yang dapat menurunkan kejadian infeksi pada ibu dan janin (Manuaba, 1998:230).
Berdasarkan data yang didapat pada saat pra survey pada bulan Maret 2007 di Ruang Kebidanan RSUD A.Yani Metro, didapatkan bahwa kejadian ketuban pecah dini masih banyak dan datanya adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Jumlah klien ketuban pecah dini di Ruang kebidanan RSUD A. Yani Metro
pada bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2006

Bulan Rawat inap di RB RSUD A. Yani Pasien Ketuban Pecah Dini Persentase (%)
Januari 62 7 0.63
Februari 75 9 0,81
Maret 77 8 0,72
April 100 11 1,00
Mei 91 4 0,36
Juni 84 6 0,54
Juli 98 7 0,63
Agustus 90 4 0,36
September 112 7 0,63
Oktober 117 8 0,72
November 100 6 0,54
Desember 94 3 0,27
Jumlah 1100 80 7,27
Sumber: Buku Register Pasien di Rekam Medik RSUD A. Yani Metro 2006
Mengamati dari tabel diatas dapat kesimpulan bahwa di Ruang kebidanan RSUD A.Yani Metro dari bulan Januari sampai dengan Desember 2006 terdapat 80 pasien atau sebesar 7,27% yang dirawat dengan kasus ketuban pecah dini. Dimana kejadian ketuban pecah dini di Ruang Kebidanan RSUD A.Yani Metro selalu ada disetiap bulannya. Adapun angka kejadian intra uteri fetal death (IUFD) di Ruang Kebidanan RSUD A. Yani Metro tahun 2006 sebanyak 40 bayi dari 558 bayi lahir hidup, dan angka kejadian ibu yang mengalami pendarahan post partum sebanyak 66 ibu dari 592 ibu bersalin di Ruang Kebidanan RSUD A. Yani Metro (Buku Register Pasien di Rekam Medik 2006).
Kejadian ketuban pecah dini terjadi sebelum proses persalinan, oleh karena itu penyebab ketuban pecah dini dapat berasal dari ibu atau janinnya. Menurut Manuaba (1998:229) penyebab ketuban pecah dini diantaranya kehamilan kembar, anemia dalam kehamilan selain itu kemungkinan yang menjadi penyebab yaitu kelainan letak yaitu letak sungsang dan letak lintang. Selanjutnya Taylor, dkk berpendapat pula bahwa faktor penyebab ketuban pecah dini juga diakibatkan oleh multipara karena tingginya jumlah paritas (Mochtar, 1998:256). Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang gambaran faktor-faktor terjadinya ketuban pecah dini di Ruang Kebidanan RSUD A.Yani Metro tahun 2006.

DOWNLOAD KLIK DISINI:
Gambaran faktor-faktor penyebab terjadinya ketuban pecah dini di ruang kebidanan RSUD
BACA SELENGKAPNYA - Gambaran faktor-faktor penyebab terjadinya ketuban pecah dini di ruang kebidanan RSUD

Gambaran faktor penyebab akseptor tidak melanjutkan penggunaan kontrasepsi IUD di RB

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Keluarga sebagai unit terkecil dalam kehidupan berbangsa diharapkan menerima Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) yang berorientasi pada “Catur Warga” atau Zero Population Grow (pertumbuhan seimbang) yang menghasilkan keluarga berkualitas. (Manuaba, 1998). Sasaran utama program Keluarga Berencana (KB) adalah Pasangan Usia Subur (PUS). Dalam hal ini gerakan Keluarga Berencana tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak, namun yang lebih penting lagi adalah kontribusi KB dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan keluarga yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas bangsa. (Mochtar , 1998).
Berbagai usaha di bidang gerakan KB sebagai salah satu kegiatan pokok pembangunan keluarga sejahtera telah dilakukan baik oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat sendiri. (Mochtar, 1998). Usaha ini antara lain dengan senantiasa memberikan kesempatan seluas – luasnya kepada PUS untuk ikut berpatisipasi dalam menciptakan NKKBS melalui pemakaian alat kontrasepsi.
Intra Uterine Devices (IUD) merupakan alat kontrasepsi metode efektif mekanis, dipandang dari segi efektivitasnya IUD mempunyai efektivitas yang cukup tinggi dalam mencegah kehamilan yaitu berkisar antara 1,53 per 100 wanita per tahun pertama dan menjadi rendah pada tahun – tahun berikutnya. Dari angka keefektivan tersebut maka dengan pemakaian IUD diharapkan menekan terjadinya kenaikan angka kelahiran di Indonesia sehingga akan terbentuk keluarga yang berkualitas. (Manuaba, 1998).
Hal ini karena perkembangan di lapangan menunjukkan bahwa dalam menggalakkan pemakaian IUD sangat ditekankan oleh Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) untuk mendapatkan peserta KB IUD sebanyak – banyaknya, tanpa dipertanyakan ataupun dievaluasi apakah dengan cara itu kecenderungan menurunnya pemakaian IUD bisa dihentikan. (BKKBN, 2004).
Data tahun 1971 menunjukkan 55,3% peserta KB aktif adalah pemakai IUD, pada tahun 1997 menurun menjadi 21,5%. Penurunan ini juga terlihat dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) yaitu tahun 1991 adalah 13,3% dari 49,7% PUS yang ber-KB. Tahun 1994 mengalami penurunan yaitu menjadi 10,3% dari 54,7% PUS ber-KB dan menurun lagi pada tahun 1997 menjadi 8,1% dari 57,4% PUS ber-KB.
Di Provinsi Lampung terjadi penurunan penggunaan kontrasepsi IUD setiap tahunnya. Pada tahun 2001 akseptor IUD 3,38%, pada tahun 2002 turun menjadi 2,88 %, kemudian tahun 2003 lebih rendah lagi pencapaiaanya hanya 2,67 %.
Selanjutnya di RB Al-Anies juga terjadi penurunan pada tahun 2001 yaitu 7,5 % kemudian tahun 2002 turun sedikit menjadi 7,2 %, namun pada tahun 2003 terjadi penurunan yang cukup besar yaitu menjadi 5,3 %. Kondisi ini merupakan tantangan bagi gerakan Keluarga Berencana untuk mensukseskan gerakan program Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKPJ) khususnya IUD. (BKKBN, 2004).
Penggunaan kontrasepsi Intra Uterine Devices (IUD) lebih sering digunakan karena efektifitasnya tinggi namun ada beberapa hal yang menyebabkan penggunaan IUD tidak berlanjut, hal ini diantaranya disebabkan oleh efek samping yang merupakan alasan medis utama dari penghentian pemakaian IUD yaitu kira –kira 4 – 15 % dalam satu tahun disamping kehamilan dan ganti cara kontrasepsi lain. (Hartanto, 2002).
Berdasarkan data di atas penulis akan melaksanakan penelitian tentang faktor – faktor yang menjadi penyebab akseptor tidak melanjutkan penggunaan kontrasepsi IUD di RB Al Anies Branti Raya Natar.

DOWNLOAD KLIK DISINI:
Gambaran faktor penyebab akseptor tidak melanjutkan penggunaan kontrasepsi IUD di RB
BACA SELENGKAPNYA - Gambaran faktor penyebab akseptor tidak melanjutkan penggunaan kontrasepsi IUD di RB

22 August 2010

ANTIBIOTIK

A N T I B I O T I K: "

A N T I B I O T I K

PENDAHULUAN
SUBSTANSI YG MENGHAMBAT PERTUMBUHAN ATAU MEMBUNUH BAKTERI ATAU MIKROORGANISMA LAIN
BAKTERIOSTATIK : HAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI
BAKTERISIDAL : BUNUH BAKTERI
ANTIBAKTERIAL
PENGELOMPOKAN :
PENISILIN, SEFALOSPORIN, MAKROLID, TETRASIKLIN, LINKOSAMID, AMINOGLIKOSIDA, KLORAMFENIKOL, PEPTIDA, SULFONAMID & VANKOMISIN
MEKANISMA KERJA ANTIBAKTERIAL :
HAMBAT SINTESIS DINDING SEL BAKTERI
UBAH PERMEABILITAS KAPILER
HAMBAT SINTESIS PROTEIN
GANGGU METABOLISME DI DALAM SEL
PERTAHANAN TUBUH & ANTIBAKTERIAL BEKERJA SAMA MENGHENTIKAN PROSES INFEKSI
FAKTOR-FAKTOR YG MEMPENGARUHI PERTAHAN TUBUH: UMUR, GIZI, IMUNOGLOBULIN, SEL DARAH PUTIH, FUNGSI ORGAN & SIRKULASI
RESISTENSI TERHADAP ANTIBAKTERIAL
ALAMI (INHEREN)
DIDAPAT
RESISTENSI ALAMI :
TERJADI TANPA DIDAHULUI PAPARAN, MISAL: PSEUDOMONAS AERUGINOSA RESISTEN TERHADAP PENISILIN G
RESISTENSI DIDAPAT :
TERJADI KARENA PEMAJANAN TERHADAP ANTIBAKTERIAL, MISAL: STAPHYLOCOCCUS AUREUS PERNAH SENSITIF PENISILIN, SEKARANG RESISTEN
PENISILINASE (ENZIM YG DIHASILKAN BAKTERI) PENYEBAB RESISTENSI OBAT
INFEKSI NOSOKOMIAL : INFEKSI YG DIDAPAT KETIKA KLIEN DIRAWAT DI RS
RESISTENSI SILANG : TERJADI ANTARA OBAT2 ANTIBAKTERI YG MEMILIKI KERJA SERUPA
PEMBIAKAN & SENSITIVITAS UNTUK KETAHUI KEPEKAAN ATAU RESISITENSI MIKROORGANISME TERHADAP ANTIBAKTERI
REAKSI YG MERUGIKAN :
REAKSI ALERGI (HIPERSENSITIVITAS)
SUPERINFEKSI
TOKSISITAS ORGAN
ANTIBIOTIK SPEKTRUM SEMPIT & LUAS
ANTIBIOTIK SPEKTRUM SEMPIT : EFEKTIF MELAWAN 1 JENIS ORGANISME. MISAL: PENISILIN & ERTROMISIN U/ BAKT GRAM POSITIF
ANTIBIOTIK SPEKTRUM LUAS :EFEKTIF MELAWAN BAKTERI GRAM POSITIF & NEGATIF. MISAL: TETRASIKLIN & SEFALOSPORIN
PENISILIN
DARI JAMUR PENISILIUM
STRUKTUR β LACTAM PENISILIN MENGHAMBAT SINTESIS DINDING SEL BAKTERI è LISIS SEL
PENISILIN SPEKTRUM LUAS
U/ BAKTERI GRAM POSITIF & NEGATIF
CO: AMPISILIN,AMOKSISILIN,BEKAMSILIN, SIKLASILIN
PENISILIN RESISTEN PENISILINASE
U/ MENGOBATI STAFILICOCCUS AUREUS YG MENGHASILKAN PENISILINASE
ORAL: KLOKSASILIN, DIKLOKSASILIN
INJEKSI: NAFSILIN, OKSASILIN
FARMAKOKINETIK
AMOKSISILIN DIABSORBSI BAIK DI SAL CERNA, KLOKSASILIN SEBAGIAN SAJA
AMOKSISILIN IKATAN DG PROTEIN 20%, KLOKSASILIN > 90%
WAKTU PARUH PENDEK
AMOKSISILIN EKSKRESI LEWAT URIN
KLOKSASILIN EKSKRESI LEWAT EMPEDU & URIN
FARMAKODINAMIK
AMOKSISILIN & KLOKSASILIN DERIVAT PENISILIN, MELISISKAN DINDING SEL BAKTERI
AMOKS + AS KLAVULANAT, CEGAH PEMECAHAN AMOKS è MENAMBAH EFEK AMOKS
ASPIRIN/PROBENESID + AMOKS/KLOKSA è MENINGKATKAN KADAR BAKTERI SERUM
AMOKS/KLOKSA+ERITROMISIN/TETRASIKLIN è EFEK BERKURANG
PENISILIN ANTIPSEUDOMONAS
EFEKTIF MELAWAN PSEUDOMONAS AERUGINOSA
BISA U/ MELAWAN GRAM NEGATIF LAIN
KERJA FARMAKOLOGI MIRIP AMINOGLIKOSIDA.TP KURANG TOKSIK
EFEK SAMPING DAN REAKSI MERUGKAN
HIPERSENSITIVITAS, SUPERINFEKSI, MUAL, MUNTAH ,DIARE
SEFALOSPORIN
AB SEMISINTETIK, AKTIF MELAWAN BAKTERI GRAM POSITIF & NEGATIF, RESISTEN TERHADAP β LAKTAMASE
CARA KERJA SEPERTI PENISILIN
TARDAPAT 3 GENERASI SEFALOSPORIN
SEBAGIAN YG ALERGI PENISILIN JUGA ALERGI SEFALOSPORIN KRN STRUKTUR MOLEKULNYA SERUPA
GENERASI 1, CO: SEFADRIN, SEFADROKSIL, SEFAZOLIN
GENERASI 2, CO: SEFAKLOR, SEFAMANDOL, SEFUROKSIM
GENERASI 3, CO:SEFOTAKSIM,SEFTRIAKSON, SEFAZIDIM

FARMAKOKINETIK
SEFAZOLIN & SEFAMANDOL IM & IV
T ½ PENDEK DIEKSKRESIKAN TANPA PERUBAHAN KE URIN
FARMAKODINAMIK
EFEK BAKTERISIDAL è MELISIS DINDING
SELPROBENESID MENURUNKAN EKSKRESI è EFEK MENINKAT
MEYEBABKAN + PALSU PROTEINURI (DOSIS BESAR)
EFEK SAMPING & REAKSI MERUGIKAN
GANGGUAN CERNA, PERDARAHAN (DOSIS BESAR), NEFROTOKSIK (PD PENDERITA SAKIT GINJAL)
INTERAKSI OBAT
ALKOHOL : FLUSHING, PUSING, SAKIT KEPALA, MUAL, MUNTAH, KRAM OTOT
MAKROLID, LINKOSAMID, VANKOMISIN
EFEKTIVITAS SAMA DG PENISILIN
DIPAKAI PD PENDERITA ALERGI PENISILIN
MAKROLID : ERITROMISIN
CARA KERJA: HAMBAT SINTESIS PROTEIN
DOSIS RINGAN, SEDANG : BAKTERIOSTATIK
TINGGI : BAKKTERISIDAL
EFEKTIF PD KUMAN GRAM + (KECUALI S. AUREUS) & BBRP GRAM -
FARMAKOKINETIK
ORAL: ABSORBSI BAIK DI SAL CERNA
IV : HARUS DIENCERKAN UNTUK MENCEGAH FLEBITIS/RASA TERBAKAR
T ½ SINGKAT
EKSKRESI : EMPEDU, FESES, SEBAG URIN
FARMAKODINAMIK
MENEKAN SINTESIS PROT BAKT
MULA KERJA ORAL 1 JAM, WAKT PUNCAK 4 JAM, LAMA KERJA 6 JAM
EFEK SAMPING/REAKSI MERUGIKAN
GANGGUAN ALAT CERNA, HEPATOTOKSIK, REAKSI ALERGI JARANG TERJADI
TAK BOLH BERSAMA KLINDAMISIN, LINKOMISIN
LINKOSAMID
KLINDAMISIN, LINKOMISIN
LINKOSAMID
KLINDAMISIN, LINKOMISIN
EFEK SEPERTI ERITROMISIN
KLINDAMISIN LEBIH SERING DIPAKAI DARI PADA LINKOMISIN KRN LBH EFEKTIF & KURANG TOKSIK
REAKSI MERUGIKAN
GANGGUAN SAL CERNA, RUAM KULIT, SYOK
INTERAKSI OBAT
MELEMAH JIKA BERSAMA AMINOFILIN, FENITOIN, BARBITURAT, AMPISILIN
VANKOMISIN
EFEKTIF PADA INFEKSI STAPHYLOCOCCUS AUREUS
BERSIFAT NEFROTOKSIK OTOTOKSIK
PEMAKAIAN HRS DIPANTAU KETAT
TETRASIKLIN
EFEKTIF MELAWAN BAKTERI GRAM + & -, SERTA MIKROORGANISME LAIN
HAMBAT SINTESIS PROTEIN BAKTERI, EFEK BAKTERIOSTATIK
TAK EFEKTIF U/ S. AUREUS, PSEUDOMONAS
BISA U/ MELAWAN M. PNEUMONIAE
PREPARAT YG LBH BARU ( DOKSISIKLIN, MINOSIKLIN) ;LBH CEPAT & LENGAKAP DIABASORBSI
ANTASID, SUSU, BESI, Ca HAMBAT ABSORBSI TERTRASIKLIN
MINUM 1 JAM SBLM MAKAN/2 JAM SESUDAH MAKAN (KECUALI DOKSISIKLIN & MINOSIKLIN)
EFEK SAMPING/REAKSI MERUGIKAN
GANGGUAN SAL CERNA,FOTOSENSTIVITAS, TERATOGENIK, PERUBAHAN WARNA GIGI, NEFROTOKSIK, OTOTOKSIK

AMINOGLIKOSIDA
HAMBAT SINTESIS PROTEIN BAKTERI
U/ MELAWAM BAKT GRAM – (E. COLI, PROTEUS SPP, PSEUDOMONAS SPP)
STREPTOMISIN U/ TBC, OTOTOKSIK
GENTAMISIN, TOBRAMISIN, AMIKASIN, NETILMISIN è PSEUDOMONAS AERUGINOSA
FARMAKOKINETIK
NETILMISIN IM ATAU IV, T ½ 2-3 JAM
EKSKRESI URIN
FARMAKODINAMIK
NETILMISIN HAMBAT SINTESIS PROTEIN & BAKTERISIDAL
MULA KERJA SEGERA, ABSORBSI SAL CERNA BURUK
REAKSI MERUGIKAN
OTOTOKSIK, NEFROTOKSIK, SUPERINFEKSI
QUINOLON
HAMBAT ENZIM GIRASE DNA (U/ SINTESIS DNA BAKTERI), BAKTERISIDAL
U/ BAKT GRAM + & -, P. AERUGINOSA
AS NALIDIKSAT & SINOSAKSIN è QUINOLON PERTAMA U/ ISK KRN E. COLI
SIPROFLOKSASIN & NORFLOKSASIN è SINTETIK DARI AS NALIDIKSAT
FARMAKOKINETIK
SIPROFLOKSASIN ABSORBSI DI SAL CERNA 70% , T ½ 3 - 4 JAM, EKSKRESI DI URIN
FARMAKODINAMIK
MENGHAMBAT GIRASE DNA
SEBAIKNYA SEBELUM MAKAN,ABSORBSI LBH BAIK
MULA KERJA 0,5 – 1 JAM, KADAR PUNCAK 1 -2 JAM
PROSES KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
APAKH PERNAH MENERIMA SUATU AB SEBELUMNYA. JIKA BARU PERTAMA HATI2
ADAKAH RIWAYAT ALERGI
KELUARAN URIN
PERENCANAAN
INFEKSI HILANG
INTERVENSI KEPERAWATAN
UMUM
PEMBIAKAN & UJI KEPEKAAN
TANDA2 SUPERINFEKSI?
ENCERKAN ANTIBIOTIK YG TEPAT BILA INJEKSI
PENYULUHAN
MENYELESAIKAN TERAPI AB
BILA ALERGI HRS SEGERA BERHENTI. LAPOR DOKTER
PENISILIN
BERIKAN 1 JAM SBLM ATAU 2 JAM SESUDAH MAKAN
PENISILIN DPT MENGANGGAU PEMBEKUAN DARAH JK DOSIS TINGGI è PANTAU TANDA2 PERDARAHAN
SIAPKAN EPINEFRIN JK SYOK
PENYULUHAN
JK ALERGI, HINDARI !!!!!!!!!
MAKROLID
PANTAU TANDA2 KERUSAKAN HEPAR
AMINOGLIKOSIDA
PANTAU TANDA2 OTOTOKSISITAS & NEFROTOKSISITAS. LAPORKAN DOKTER JK ADA
HIDRASI HARUS TERJAGA. MINUM LBH BANYAK
PENYULUHAN KEPADA KLIEN
PAKAI SEMUA AB YG DIRESEPKAN
TAMBAH MASUKAN AIR,KECUALI JK ADA KONTRA INDIKASI
JANGAN PAKAI AB YG TERSISA YG PERNAH DIRESEPKAN
SEFALOSPORIN
IV DIBERIKAN PELAN2 U/ CEGAH IRITASI
PENYULUHAN PD KLIEN
KONSUMSI YOGURT U/ CEGAH SUPERINFEKSI
PD PASIEN DM BISA POSITIF PALSU
TETRASIKLIN
PANTAU FUNGSI GINJAL & HEPAR
PENYULUHAN
HINDARI SUSU/ANTASID
GUNAKAN TABIR SURYA
PERHATIKAN TGL ED
JGN DIBERIKAN PD ♀ YG HAMIL, DIDUGA HAMIL,MENYUSUI,ANAK2
HINDARKAN OBAT DR PANAS/MATAHARI
EVALUASIAPAKAH INFEKSI SDH TERATASI ATAU TERJADI EFEK SAMPING
http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
BACA SELENGKAPNYA - ANTIBIOTIK

OBAT-OBAT ANTI KANKER

OBAT-OBAT ANTI KANKER: "
OBAT-OBAT ANTI KANKER


PENDAULUAN
ANTIKANKER = ANTINEOPLASTIK = AGEN KEMOTERAPI
TUJUAN : MENYEMBUHKAN, MENENDALIKAN, MENCEGAH
TUNGGAL ATAU KOMBINASI DG RADIASI & BEDAH
SIKLUS SEL & TAHAP2NYA
G1: PRODUKSI ENZIM UNTUK DNA
S: SINTESIS & REPLIKASI DNA
G2: RNA & SINTESIS PROTEIN
M (MITOSIS): PEMBELAHAN SEL
G0: ISTIRAHAT
SIKLUS SEL KANKER LEBIH CEPAT
ANTIKANKER MENGHAMBAT SEMUA TAHAP ATAU TAHAP TERTENTU
ADA 2 JENIS ANTIKANKER :
1. NON SPESIFIK SIKLUS SEL (NSSS) BEKERJA PADA SEMUA FASE, EFEKTIF MELAWAN PERTUMBUHAN CEPAT SEL KANKER – ALKILASI, ANTIBIOTIK ANTI TUMOR, HORMON
2.SPESIFIK SIKLUS SEL (SSS) BEKERJA PADA FASE TERTENTU – ANTIMETABOLIT, ALKALOID VINKA
FAKTOR PENENTU RESPON SEL KANKER THD ANTIKANKER:
FRAKSI PERTUMBUHAN – PRESENTASE
SEL KANKER YG AKTIF MEMBELAH.
FRAKSI PERTUMBUHAN TINGGI PD SEL CEPAT MEMBELAH. FRAKSI PERTUMBUHAN RENDAH, LAMBAT MEMBELAH
ANTIKANKER EFEKTIF PD FRAKSI TINGGI
WAKTU PENGGANDAAN – WAKTU YG DIBUTUHKAN SEL KANKER UNTUK MENCAPAI MASA 2 KALI LEBIH BESAR. JK TUMOR LANJUT&MEMBESAR FRAKSI PERTUMBUHAN TURUN,WAKTU PENGGANDAAN BESAR
KOMBINASI NSSS & SSS :
MENGURANGI RESISTENSI
MEMPERSINGKAT&MENINGKATKAN EFEK TERAPEUTIK OBAT
DOSIS DPT DITURUNKAN, TOSISITAS BERKURANG
EFEK SINERGIS
EFEK SAMPING & REAKSI MERUGIKAN
TERJADI PD SEL2 YG TUMBUH DG CEPAT (DARAH & RAMBUT)
SUPRESI SSM TULANG (LEKOPENIA, TROMBOSITOPENI)
SAL CERNA (ANOREKSI,MUAL MUNTAH, DIARE)
LAIN2 (STOMATITIS, ALOPESIA, INFERTILITAS)
OBAT2 ALKILASI
TERMASUK GOL NSSS
EFEKTIF PD BERBAGAI KANKER
ADA 4 KELOMPOK:
1.MUSTRAD NITROGEN (MEKLORETAMIN,SIKLOFOSFAMID,KLORAMBUSIL,IFOSFAMID MEFALAN)
2.NITROSUREA (LOMUSTIN,KARMUSTIN,SEMUSTIN,STREPTOZOSIN)
3.ALKIL SULFONAT (BUSULFAN)
4.OBAT2 SEPERTI ALKILASI (SISPLATIN,KARBOPLASTIN)
REAKSI YG MERUGIKAN, SAMA SEPERTI PD UMUMNYA
SIKLOFOSFAMID
HIDRASI HARUS BAIK, MENCEGAH SISTITIS HEMORAGIS
SUPRESI SUMSUM TULANG,ALOPESIA
FARMAKOKINETIK
ABSORBSI DI SAL CERNA DG BAIK
METABOLISMA DI HATI,EKSKRESI DI URIN
FARMAKODINAMIK
MULA KERJA BEBERAPA JAM,EFEK YG DIINGINKAN BEBERAPA HARI
PEMBERIAN IV & ORAL
INTERAKSI DG TIAZID & ALOPURINOL MENAMBAH SUPRESI SSM TULANG. EFEK DIGOXINBERKURANG. EFEK INSULIN MENINGKAT(HIPERGLIKEMI).FENOBARBITAL+RIFAMPIN MENAMBAH TOKSIK.
ANTIMETABOLIT
GOL SSS PENGARUH PD FASE S
DIBAGI MENJADI:
ANTAGONIS AS FOLAT (METOTREKSAT)
ANALOG PIRIMIDIN (5-FU, FLOKSURIDIN, SITABIRIN)
ANALOG PURIN (6-MERKAPTOPURIN, TIOGUANIN)
MTX BEKERJA SBG PENGGANTI AS FOLAT, UTK PEMBENTUKAN DNA
5-FU & FLOKSURIDIN TERMASUK DLM GOL NSSS & SSS
5-FU BISA TUNGGAL & KOMBINASI
ESO: SUPRESI SSM TULANG, STOMATITIS, ALOPESIA
ANTIBIOTIK ANTITUMOR
BLEOMISIN,DAKTINOMISIN,DAUNORUBISIN,DOKSORUBISIN,MITOMISIN,PLIKAMISIN) MENGHAMBAT SINTESIS PROTEIN & DNA
TERMASUK GOL NSSS KEC BLEOMOISIN (EFEK PD G2)
FARMAKOKINETIK
DOKSORUBISIN & PLIKAMISIN SECARA IV
DOKSORUBISIN METABOLISME DI HATI MENJADI METABOLIT AKTIF & INAKTIF
WAKTU PARUH TAHAP MULA 12 MENIT, TAHAP PERTENGAHAN 3,5 JAM, TAHAP AKHIR 30 JAM
FARMAKODINAMIK
EFEK DOKSORUBISIN & PLIKAMISIN BERBEDA
DOKSORUBISIN DIKOMBINASI UTK CA PAYUDARA,OVARIUM, PARU,KANDUNG KEMIH,LEKEMI,LIMFOMA
PLIKAMISIN DIKOMBINASI UTK CA TESTES
SIKLOFOSFAMID + DOKSORUBISIN MENINGKATKAN KEJADIAN SISTITIS HEMORAGIS
EFEK SAMPING & REAKSI MERUGIKAN
SEPERTI PD UMUMNYA
VESIKASI/MELEPUHNYA JARINGAN (KEC BLEOMISIN & PLIKAMISIN
BLEOMISIN TOKSIK PD PARU
DAUNORUBISIN,DOKSORUBISIN, IDARUBISIN TOKSIK PD JANTUNG
ALKALOID VINKA
VINKRISTIN & VINBLASTIN
GOL SSS PD FASE M
REAKSI MERUGIKAN SPT LAINNYA
NEUROTOKSIK (KEKUATAN OTOT LEMAH, KONSTIPASI, PTOSIS, SERAK, INSTABILITAS MOTORIK
HORMON & ANTAGONIS HORMON
DIKELOMPOKKAN MENJADI
KORTIKOSTEROID
MENEKAN PROSES INFLAMASI,MENEKAN LEKOSIT(PD LEKEMI & LIMFOMA),MENEKAN EDEM SEREBRAL PD TUMOR OTAK,MEBUAT NYAMAN
ESTROGEN
UTK PALIATIF CA PROSTAT 7 CA MAMAE POSTMENOPAUSE
PROGESTIN
UTK CA MAMAE, ENDOMETRIUM, GINJAL
MENGECILKAN JARINGAN KANKER
ESO: RETENSI CAIRAN & GANGGUAN TROMBOSIS
ANDROGEN
UTK CA MAMAE PRAMENOPAUSE
MENINGKATKAN REGRESI TUMOR
PROSES KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
CEK TANDA VITAL UTK PERBANDINGAN
KAJI KELUARAN URIN,KIMIA LAB,DARAH LENGKAP
PERENCANAAN
KLIEN BEBAS ESO
INTERVENSI
PANTAU TANDA VITAL
PANTAU KELUARAN URIN
HINDARI KONTAK KULIT LANGSUNG DG ANTIKANKER
LAB ABNORMAL,LAPORKAN
PERIKSA TANDA2 PERDARAHAN
BILA MUAL HINDARI MAKANAN &MINUMAN DARI PRODUK SUSU & LEMAK
PERIKSA TANDA2 HEPATOTOKSIK
PENYULUHAN
JAGA KEBERSIHAN MULUT
TUNDA KEHAMILAN (2 THN)
HINDARI ORANG ISPA
JAGA ASUPAN GIZI
EVALUASI
LAPORKAN JIKA ADA एसो

BACA SELENGKAPNYA - OBAT-OBAT ANTI KANKER

ANTIHISTAMIN

A N T I H I S T A M I N: "
A N T I H I S T A M I N

PENDAHULUAN
HISTAMIN BERPERAN PENTING DALAM FENOMENA FISIOLOGIS & PATOLOGIS TERUTAMA PADA ANAFILAKSIS, ALERGI,TRAUMA,SYOK,SEKRESI ASAM LAMBUNG,REGRESI MIKROSIRKULASI, FUNGSI SSP
ANTIHISTAMIN
EPINEFRIN,OBAT PERTAMA YG DIGUNAKAN UTK MELAWAN FUNGSI HISTAMIN
ANTIHISTAMIN SECARA KOMPETITIF MENGHAMBAT INTERAKSI HISTAMIN DG RESEPTOR HISTAMIN
ANTIHISTAMIN:
PENGHAMBAT RESEPTOR H1 (AH1)
PENGHAMBAT RESEPTOR H2 (AH2)
AH 1
EFEK
OTOT POLOS PADA BRONKUS: MENGHAMBAT BRONKOKONSTRIKSI
HAMBAT PENGKATAN PERMEABILITAS KAPILER & EDEM AKIBAT HISTAMIN
REAKSI ANAFILAKSI & REAKSI ALERGI LAIN
TAK DAPAT MENGHAMBAT SEKRESI CAIRAN LAMBUNG
MERANGSANG SSP: INSOMNIA, GELISAH,EKSITASI
MENGHAMBAT SSP: KANTUK, KEWASPDAAN KURANG,REAKSI LAMBAT
ANESTESI LOKAL (PROMETAZIN & PIRILAMIN)
ANTIKOLINERGIK: MULUT KERING KESUKARAN MIKSI,IMPOTEN
SISTEM KARDIOVASKULER (DOSIS BESAR)
FARMAKOKINETIK
ABSORBSI BAIK, TIMBUL EFEK 15-30’
LAMA KERJA DOSIS TUNGGAL 1-2 JAM
DIFENHIDRAMIN KADAR MAKSIMAL DALAM DARAH 2 JAM,T ½
KADAR TERTINGGI DI PARU
METABOLISME DI HATI
EFEK SAMPING
SEDASI,VERTIGO,TINITUS,LELAH,PENAT,INKOORDINASI,PENGLIHATAN KABUR,DIPLOPI,EUFORIA,GELISAH,INSOMNIA,TREMOR,NAFSU MAKAN BERKURANG,MUAL,MUNTAH,GANGG CERNAMULUT KERING,DISURIA, PALPITASI,HIPOTENSI,SAKIT KEPALA, RASA BERAT&LEMAH PD TANGAN
INTOKSIKASI AKUT
DOSIS BERLEBIHAN (BUNUH DIRI)
OBAT PERSEDIAAN RUMAH TANGGA è HATI2 PD ANAK2
20-30 TABLET è DOSIS LETHAL
INDIKASI
MENGOBATI ALERGI. PADA KRISIS ALERGI OBAT PILIHAN EPINEFRIN KARENA: 1. LEBIH EFEKTIF,2. EFEKNYA LBH CEPAT,3. ANTAGONIS FISIOLOGIK DARI HISTAMIN
ANTI VERTIGO,MUAL,MUNTAH
PENGGOLONGAN AH1
ETANOLAMIN
DIFENHIDRAMIN HCl
DIMENHIDRINAT
KARBINOKSAMIN MALEAT
ETILENDIAMIN
TRIPELENAMIN
PIRILAMIN MALEAT
ALKILAMIN
KLORFERINAMIN MALEAT
DEKBROMFENIRAMIN MALEAT
PIPERAZIN
KLOKSIKLIZIN
SIKLIZIN
FENOTIAZIN
PROMETAZIN
METDILAZIN
PIPERIDIN (NON SEDATIF)
TERFENADIN
ASTEMIZOL
LORATADIN
LAIN –LAIN
AZATIDIN
SIPROHEPTADIN
MEBHIDROLIN NAPADISILAT
AH 2
RESEPTOR HISTAMIN H2 BERPERAN DALAM EFEK HISTAMIN PADA SEKRESI CAIRAN LAMBUNG,PERANGSANGAN JANTUNG
BEBERAPA OTOT POLOS PEMBULUH DARAH MEMILIKI RESEPTOR H1 &H2
SIMETIDIN & RANITIDIN
MENGHAMBAT RESEPTOR H2 SECARA SELEKTIF & REVERSIBEL
SIMETIDIN & RANITIDIN MENGHAMBAT SEKRESI CAIRAN LAMBUNG
FARMAKOKINETIK
ABSORBSI 70%,DIPERLAMBAT OLEH MAKANAN è PEMBERIAN SAAT MAKAN ATAU SGR STLH MAKAN è MEMEPRPANJANG EFEK
METABOLISME DI HATI,EKSKRESI DI URIN
EFEK SAMPING
JARANG TERJADI
NYERI KEPALA,PUSING,MALAISE, MIALGIA,MUAL,DIARE,KONSTIPASI, RUAM KULIT,PRURITUS,KEHILANGAN LIBIDO,IMPOTEN
INTERAKSI OBAT
MENURUNKAN ALIRAN DARAH HATI è MENGHAMBAT BERSIHAN OBAT LAIN
ANTASID,METOKLORPRAMID, KETOKONAZOL è MENGURANGI EFEK è DIBERI JARAK 1-2 JAM
INDIKASI
TUKAK PEPTIK
FAMOTIDIN
MIRIP SIMETIDIN & RANITIDIN TAPI LEBIH POTEN
INDIKASI
SAMA DG SIMETIDIN & RANITIDIN
EFEK SAMPING
RINGAN & JARANG
SAKIT KEPALA,PUSING,KONSTIPASI, DIARE
PEMILIHAN SEDIAAN
PERHATIKAN POTENSI,EFEK SAMPING, SEDIAAN YG ADA,VARIASI ANTAR INDIVIDU
PILIH EFEK TERAPI PALING BESAR,EFEK SAMPING MINIMAL è SULIT
ANTI-ALERGI LAIN
NATRIUM KROMOLIN
DAPAT MENGHAMBAT PENGLEPASAN HISTAMIN DR SEL MAST PARU-PARU & TEMPAT2 TERTENTU YG DIINDUKSI OLEH ANTIGEN
FARMAKODINAMIK
KROMOLIN TAK MERELAKSASI BRONKUS / OTOT POLOS LAIN
MENGHAMBAT PENGLEPASAN HISTAMIN PADA PROSES ALERGI è HINDARI BRONKOSPASME
FARMAKOKINETIK
PADA PEMBERIAN ORAL ABSORBSI SANGAT BURUK è INHALASI (UTK ASMA BRONKIAL)
TAK DIMETABOLISME,EKSKRESI DI URIN & EMPEDU
TOKSISITAS
JARANG TERJADI
BATUK,KONGESTI HIDUNG,IRITASI, WHEEZING,PUSING,DISURI,BENGKAK,NYERI SENDI&KEPALA,MUAL,RUAM KULIT
INDIKASI
TERAPI PROFILAKTIK ASMA BRONKIAL,TAK EFEKTIF UTK TERAPI ASMA BRONKIAL & STATUS ASMATIKUS
ALERGI HIDUNG & MATA
KETOTIFEN
BERSIFAT ANTIANAFILAKTIK,HAMBAT PRODUKSI HISTAMIN
FARMAKOKINETIK
ABSORBSI BAIK DI SAL CERNA, EKSKRESI DI URIN & TINJA
EFEK SAMPING
SAMA SEPERTI AH1
INDIKASI
PROFILAKSIS ASMA BRONKIAL
BACA SELENGKAPNYA - ANTIHISTAMIN

ANESTESI

A N E S T E S I: "
A N E S T E S I

PENDAHULUAN
ARTINYA TIDAK ADA RASA SAKIT
ADA 2 :
ANESTESI UMUM : HILANG RASA SAKIT DISERTAI HILANG KESADARAN
ANESTESI LOKAL : HILANG RASA SAKIT TANPA HILANG KESADARAN
ANESTESI UMUM
STADIUM :
STD I (ANALGESIA) : SAAT PEMBERIAN OBAT SAMPAI HILANG KESADARAN.RASA SAKIT HILANG,MASIH BISA IKUTI PERINTAH
STD II (DELIRIUM/EKSITASI) : SAAT HILANG KESADARAN SAMPAI STD PEMBEDAHAN
STD III (PEMBEDAHAN) : SAAT NAPAS TERATUR SAMPAI NAPAS SPONTAN HILANG

STADIUM III DIBAGI 4 TINGKAT
TK 1 : NAPAS TERATUR SPONTAN,GERAK MATA TAK BERATURAN,MIOSIS,NAPAS DADA & PERUT SEIMBANG,RELAKS OTOT LURIK BLM SEMPURNA
TK 2 : NAPAS TERATUR TP KURANG DALAM DIBANDING TK 1, MATA TAK GERAK,PUPIL MULAI LEBAR,REFLEK LARING (-) è INTUBASI
TK 3 : NAPAS PERUT LBH NYATA DARI DADA, RELAKS OTOT LURIK SEMPURNA, PUPIL LBH LEBAR TP BLM MAKSIMAL
TK 4 : NAPAS PERUT SEMPURNA, TEK DARAH MULAI TURUN, PUPIL SANGAT LEBAR, REFLK CAHAYA HILANG
STADIUM IV (PARALISIS MEDULA OBLONGATA) : NAPAS PERUT MELEMAH DIBANDING STD III TK 4, TEK DARAH TAK DAPAT DIUKUR, DENYUT JANTUNG HILANG è †
DERAJAT RASA SAKIT :
KUAT : MEMOTONG KULIT, MANIPULASI PERITONEUM, KORNEA, MUKOSA URETRA
SEDANG : MANIPULASI FASIA, OTOT, JAR LEMAK
RINGAN : MEMOTONG & MENJAHIT USUS, MEMOTONG OTAK
EFEK SAMPING OBAT ANESTESI UMUM
ANESTESI INHALASI: DELIRIUM,ASPIRASI (INDUKSI&PEMULIHAN),DEPRESI MIOKARD (ENFLURAN&HALOTAN),TAKIKARDI(ENFLURAN,ISOFLURAN,N2O),DEPRESI NAPAS, GANGG HEPAR,OLIGURI,HIPOTERMI, HIPERTERMI MALIGNA,TIK (ENFLURAN, N2O,HALOTAN,ISOFLURAN),TERATOGENIK (ENFLURAN,HALOTAN,N2O),PERDARAHAN POST SC
ANESTESI PARENTERAL: BARBITURAT SEBABKAN KANTUK,BATUK,DEPRESI NAPAS,EKSITASI, MENGGIGIL, DELIRIUM, NYERI POST OP
FARMAKOKINETIK ANESTESI INHALASI
DALAMNYA ANESTESI UMUM TERGANTUNG TEK PARSIAL ZAT ANESTESI DALAM OTAK. KEC INDUKSI&PEMULIHAN TERGANTUNG TEK TSB.
FAKTOR YG TENTUKAN TEK PARSIAL ANESTESI DLM ARTERI & OTAK: 1.TEK PARSIAL ANESTESI YG DIHIRUP, 2.VENTILASI PARU,3.PEMINDAHAN GAS DARI ALVEOLI KE ALIRAN DARAH,4.PEMINDAHAN GAS DARI DARAH KE JARINGAN
CARA PEMBERIAN ANESTESI
INHALASI
OPEN DROP METHOD,SEMIOPEN DROP METHOD,SEMICLOSED METHOD,CLOSED METHOD
PEMBERIAN IV & IM
IV : TIOPENTAL, IM/IV : KETAMIN
MEDIKASI PREANESTETIK
TUJUAN: MENGURANGI CEMAS,MEMPERLANCAR INDUKSI, CEGAH KEGAWATAN,CEGAH HIPERSALIVASI, BRADIKARDI,MUNTAH
OBAT PREMED: 1.ANALGESIK NARKOTIK (MORFIN),2.BARBITURAT(PENTOBARBITAL.SEKOBARBITAL),3.SEDATIF NON BARBITURAT(ETINAMAT,GLUTIMIT,KLORALHIDRAT),4.ANTIKOLINERGIK(ATROPIN), 5.TRANQUILLIZER(FENOTIAZIN)
OBAT ANESTESI UMUM
ADA 3 GOL: 1. ANESTESI GAS (N2O,SIKLOPORAN),2.ANESTESI MENGUAP (GOL ETER-DIETILETER,ENFLURAN & GOL HIDROKARBON HALOGEN-HALOTAN, METOKSIFLURAN),3.ANESTESI PARENTERAL
ANESTESI PARENTERAL
U/ : 1.INDUKSI ANESTESI,2.INDUKSI & PEMELIHARAN ANESTESI BEDAH SINGKAT, 3.HIPNOSIS PADA ANESTESI/ANALGESI LOKAL,4.SEDASI PD BEBERAPA TINDAKAN MEDIK
ANESTESI IV IDEAL:1.EFEK CEPAT,2.EFEK ANALGESI,3.AMNESIA PASCA ANESTESI,4.DAMPAK NEGATIF MUDAH DIHILANGKAN,5.CEPAT DIELIMINASI TUBUH,6.DEPRESI NAPAS&JANTUNG MINIM,7.TDK TERGANTUNG DISFUNGSI ORGAN
PEMILIHAN SEDIAAN
TERGANTUNG PD: KEADAAN PASIEN, SIFAT ANESTESI UMUM, JENIS OPERASI, ALAT&OBAT YG TERSEDIA
OBAT ANESTESI YG IDEAL: MUDAH DIDAPAT,MURAH,CEPAT LEWATI STD II,TANPA EFEK SAMPING,TDK MUDAH TERBAKAR,STABIL,CEPAT ELIMINASI,ANALGESIK,RELAKSASI BAIK,CEPAT SADAR è SULIT !!!!
ANESTESI LOKAL
OBAT YG MENGHAMBAT HANTARAN SYARAF BILA DIKENEKAN SECARA LOKAL PD JARINGAN SYARAF DG DOSIS YG CUKUP
PERTAMA KALI DIGUNAKAN: KOKAIN
SIFAT ANESTESI LOKAL YG IDEAL
TIDAK MENGIRITASI & TIDAK MERUSAK JARINGAN SYARAF SCR PERMANEN,BATAS KEAMANAN HRS LEBAR,MULA KERJA SINGKAT,MASA KERJA LAMA,LARUT DALAM AIR,STABIL DALAM LARUTAN,DISTERILKAN TAK ALAMI PERUBAHAN
MEKANISME KERJA
MENCEGAH PEMBENTUKAN&KONDUKSI IMPULS SARAF.TEMPAT KERJA DI MEMBRAN SEL
BEDA SENSITIVAS SERAT SARAF
SERABUT KECIL/HALUS LBH PEKA THD ANESTESI LOKAL,TAPI PEMULIHAN LBH LAMBAT DARIPADA SERABUT BESAR
PENGARUH Ph
BENTUK BASA BEBAS SEDIKIT LARUT&TAK STABIL.BTK GARAM MUDAH LARUT
PERPANJANGAN EFEK O/ VASOKONSTRIKTOR
KOKAIN DPT SEBABKAN VASOKONSTRIKSI, PENYERAPAN LAMBAT,EFEK LEBIH LAMA
VASOKONSTRIKTOR:EPINEFRIN,NOREPINEFRIN,FENILEFRIN
VASOKONSTRIKTOR MENGURANGI KCEPATAN ABSORBSI, MENGURANGI TOKSISITAS
FARMAKODINAMIK
DAPAT MERANGSANG SSP, SEBABKAN GELISAH & TREMOR
PENGARUHI SAMBUNGAN SARAF – OTOT è BERKURANGNYA RESPON OTOT
PENGARUHI MIOKARD è KECEPATAN KONDUKSI & KONTRAKSI BERKURANG
MENYEBABKAN SPASMOLITIK OTOT POLOS
MENYEBABKAN ALERGI
KOKAIN
FARMAKODINAMIK
PERANGS KORTEKS YG KUAT,BYK BICARA,GELISAH,EUFORIA,KEKUATAN MENTAL +,KERJA OTOT MENUNGKAT
DOSIS KECIL MELAMBATKAN DENYUT JANTUNG,DOSIS SEDANG MEMPECEPAT, DOSIS TINGGI PAYAH JANTUNG è †
MENINGKATKAN SUHU BADAN
MERANGSANG SARAF SIMPATIS
BLOKADE KONDUKSI SARAF
FARMAKOKINETIK
KECEPATAN ABSORBSI MELEBIHI KEC DETOKSIKASI & EKSKRESI è SGT TOKSIK
DOSIS FATAL 1,2 GR,DOSIS TOKSIK 20 MG
GEJL:MUDAH TERANGSANG, GELISAH,BAYAK BICARA,CEMAS, BINGUNG,REFLEK MENINGKAT,SKT KPL,NADI CPT,NAPAS TAK TERATUR,SUHU NAIK,MIDRIASIS, EKSOFTALMUS,GGG CERNA, KESEMUTAN, DELIRIUM,SESAK,KEJANG,HENTI NAPAS & JANTUNG è †

ANESTESI LOKAL SINTETIS
PROKAIN PERTAMA KALI DIGUNAKAN
LIDOKAIN
FARMAKODINAMIK
LBH CEPAT,KUAT,LAMA,EKSTENSIF
FARMAKOKINETIK
MDH DISERAP DI TMPT SUNTIKAN,DPT LEWATI SAWAR DARAH OTAK & PLASENTA
EFEK SAMPING
GGG SSP:PUSING,NGANTUK,PARESTESI,GGG MENTAL,KOMA
INDIKASI
INFILTRASI,BLOKADE SARAF,ANESTESI EPIDURAL,ANESTESI KAUDAL,ANESTESI U/ SELAPUT LENDIR
ANESTESI LOKAL LAIN
DIBUKAIN
MEPIVAKAIN
PIPEROKAIN HCL
TETRAKAIN
PRILOKAIN
BENZOKAIN
TEKNIK ANESTESI LOKAL
1.ANESTESI PERMUKAAN
2.ANESTESI INFILTRASI
3.ANESTESI BLOK
ANESTESI SPINAL
ANESTESI EPIDURAL
ANESTESI KAUDAL

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
BACA SELENGKAPNYA - ANESTESI

ANALGESIK

A N A L G E S I k

PENDAHULUAN
NARKOTIK & NON NARKOTIK
MEREDAKAN NYERI
RINGAN SAMPAI SEDANG NON NARKOTIK
SEDANG SAMPAI BERAT NARKOTIK
KLASIFIKASI & JENIS NYERI
NYERI AKUT (RINGAN,SEDANG,BERAT)
NYERI KRONIK
NYERI SUPERFISIAL
NYERI SOMATIK (TULANG,OTOT RANGKA,SENDI)
NYERI VISERAL (NYERI DALAM)
ANALGESIK NON NARKOTIK
TIDAK ADITIF,KURANG KUAT DIBANDING NARKOTIK
NYERI RINGAN SAMPAI SEDANG
DIJUAL BEBAS
SEBAGIAN ANALGESIK JUGA ANTIPIRETIK
ASPIRIN SBG ANALGESIK, ANTI INFLAMASI, ANTIKOAGULAN
SALISILAT & AINS
ASPIRIN: ANALGESIK, ANTI KOAGULAN & ANTIPIRETIK
ASPIRIN TAK BOLEH UTK DEMAM ANAK < narkotik ="AGONIS">

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
BACA SELENGKAPNYA - ANALGESIK

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pre menstrual syndrom (PMS) pada wanita usia 25-35 tahun di kampung

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pre Menstrual Syndrom (PMS) adalah sekumpulan gejala berupa gangguan fisik dan mental, dialami 7 – 10 hari menjelang menstruasi dan menghilang beberapa hari setelah menstruasi. (Agustin,2004). Penderita Pre Menstrual Syndrom kadang merasa pusing kepala yang terkadang sampai pingsan. (Karyadi,1999).
Pre Menstrual Syndrom merupakan suatu gejala yang sering dialami oleh wanita menjelang menstruasi dangan dampak yang dialami bisa menjadi lebih ringan seperti bingung, pelupa, timbul jerawat ataupun lebih berat seperti diare, konstipasi, insomnia, depresi, bahkan kadang muncul rasa ingin bunuh diri. Sedangkan gangguan mental dapat berupa mudah tersinggung dan sensitif,sedangkan gangguan fisik berupa acne, nyeri perut, pusing, sakit punggung, nyeri payudara. Pre menstrual syndrom bisa membuat penderitanya merasa sangat sengsara.(Agustini,2004)
Survei di Amerika Serikat tahun 1982 menunjukkan bahwa 50% wanita mengalami Pre Menstrual Syndrom (Karyadi, 2007), sedangkan di Indonesia kurang lebih 85% gejala Pre Menstrual Syndrom dialami oleh wanita usia produktif antara usia 25-35 tahun. (Agustini,2007).
Di Kabupaten Lampung Tengah,tepatnya kampung Tanggul Angin diperoleh data jumlah penduduk wanita usia 25 – 35 tahun ada 178 orang. Berdasarkan hasil pra survei yang dilakukan oleh peneliti terhadap 27 orang wanita usia 25-35 tahun, ditemukan 24 orang yang mengalami gejala Pre Menstrual Syndrom dan 3 orang yang tidak mengalami keluhan apapun saat menjelang menstruasi. Menghadapi gejala tersebut mereka merasa resah, cemas, was-was,dan terganggu,mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Pre Menstrual Syndrom belum jelas penyebabnya. Beberapa teori menyebutkan karena faktor hormonal yaitu ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron, stres dan kekurangan gizi serta jumlah kegiatan fisik yang tidak memadai. (Tan, 1996). Faktor-faktor yang turut memperberat Pre Menstrual Syndrom menurut Agustini,(2004) ialah faktor paritas, dan faktor usia. Sedangkan menurut Karyadi (1999) faktor-faktor yang turut memperberat Pre Menstrual Syndrom ialah faktor paritas, usia, diet, kekurangan zat gizi, dan kegiatan fisik.
Uraian di atas melatar belakangi penulis untuk meneliti lebih lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Pre Menstrual Syndrom pada wanita usia 25-35 tahun di Kampung Tanggul Angin wilayah Puskesmas Punggur tahun 2007.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka diperoleh rumusan masalah dalam penelitian yaitu “Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi terjadinya Pre Menstrual Syndrom pada wanita usia 25-35 tahun di Kampung Tanggul Angin wilayah Puskesmas Punggur?”

C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menetapkan ruang lingkup penelitian sebagai berikut:

DOWNLOAD KLIK DISINI:
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pre menstrual syndrom (PMS) pada wanita usia 25-35 tahun di kampung
BACA SELENGKAPNYA - Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pre menstrual syndrom (PMS) pada wanita usia 25-35 tahun di kampung

Faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya akseptor KB kondom di puskesmas

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di dunia Internasional menghadapi masalah pertumbuhan penduduk pada akhir dekade 60-an, selain mempengaruhi strategi dan praktek pembangunan ekonomi kiranya ikut mempengaruhi kebijaksanaan terhadap masalah kependudukan. Problem pertumbuhan penduduk dengan demikian telah menjadi focus persoalan, bahkan mengurangi angka pertumbuhan penduduk dilihat sebagai salah satu kunci dalam menyelesaikan persoalan yang lebih luas,yaitu kemiskinan dan keterbelakangan ialah karena meledaknya penduduk di seluruh dunia telah bertambah lebih dua kali lipat dalam masa satu abad (Juliantoro, 1984 :9)
Sebagai salah satu Negara berkembang, Indonesia tidak luput dari masalah kependudukan , Indonesia menghadapi masalah dengan jumlah kualitas sumberdaya manusia dengan kelahiran 5.000.000 pertahun.Untuk dapat mengangkat derajat kehidupan bangsa telah di laksanankan secara bersamaan pembangunan ekonomi yang merupakan sisi masing-masing mata uang.Bila Gerakan Keluarga Berencana (KB) tidak di lakukan bersamaan dengan pembangunan ekonomi,di khawatirkan hasil pembangunan tidak akan berati (Manuaba,1996 : 437 ). Sejak Pelita V program KB Nasional berubah menjadi Gerakan KB Nasional.Gerakan KB Nasional adalah gerakan masyarakat yang menghimpun dan mengajak segenap potensi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam melembagakan dan membudayakan NKKBS dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya Indonesi (Wiknjosastro, 1999 : 902)

Adapun tujuan gerakan KB Nasional menurut Wiknjosastro (1999:902) adalah mewujudkan keluaga kecil bahagia sejahtera yang menjadi dasar bagi terwujudnya masyarakat yang sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pertumbuhan penduduk Indonesia. Sasaran Gerakan KB Nasional ialah (1) Pasangan Usia Subur, dengan proritas PUS muda dengan prioritas rendah (2) Generasi muda dan purna PUS (3) Pelaksana dan pengelola KB dan (4) Sasaran wilayah adalah wilayah dengan laju prtumbuhan penduduk tinggi dan wilayah khusus seperti sentra industri, pemukiman padat, daerah kumuh dan daerah pantai serta terpencil.
Pada umumnya pemerintah di Negara-negara sedang berkembang paling banyak menggunakan metode kontrasepsi yang pemakainya perempuan.Distribusinya adalah pemakai pil 17,1 %,injeksi 15,2 %,IUD 10,3 %,nonplant 4,6 %, tubektomi 3,1 %,vasektomi 0,7 %,dan kondom 0,9 % ( Juliantoro ,1999 : 29 ). Dari begitu beragamnya alat-alat kontrasepsi bagi perempuan menyebabkan banyak anggota masyarakat menganggap bahwa pembatasan kelahiran memang menjadi urusan kaum perempuan,padahal semua kita tahu meskipun kehamilan hanya di alami oleh perempuan akan tetapi kehmilan tidak akn terjadi tanpa adanya sperma laki-laki
(www.yakita.or.id/alat kontrasepsi2.htm). Untuk itulah, pada masa kini,kondom yang merupakan metode kontrasepsi pria yang telah lam di kenal, kembali mendapatkan perhatian baru, baik dalam bidang keluarga berencana maupun dalam bidang lain (Hartanto, 2002 :60).Perkembangan partisipasi pria dalam KB, khususnya kondom, selama kurun waktu 12 tahun terakhir belum memperlihatkan kenaikan bahkan tidak mengalami kenaikan sama sekali.Hal ini dapat dilihat dalam angka-angka pencapaian kondom tahun 1991 sebesar 0,8 % (SDKI 1991).tahun 1994 sebesar 0,9 % tahun 1997 sebesar 0,7 % (SDKI 1997) dan tahun 2003 sebesar 0,9 % (SDKI 2002-2003).

Metode kontrasepsi kondom merupakan metode sederhana yang salah satunya menjadi pilihan untuk menjarangkan kehamilan dengan periode usia akseptor 20-30/35 tahun, dengan jumlah anak 2 orang dan jarak antara kelahiran adalah 2-4 tahun (Wiknjosastro, 1999: 903), dengan memilki kelebihan mudah di pakai, dapat mencegah penularan penyakit kelamin,efek samping hampir tidak ada, relative, murah, kontrasepsi yang tidak mengandung hormon,sederhana,ringan,mudah di dapat, disposable, tidak memerlukan pemeriksaan medis,dan saat ini kondom telah di buat modern, sehingga tidak mengurangi kenikmatan seks (Hartanto, 2002:60). Keuntungan-keuntungan kondom tersebut akan di peroleh kalau kondom di pakai secara benar dan konsisten pada setiap senggama, karena umumnya angka kegagalan yang timbul akibat di sebabkan pemakaian yang tidak benar, tidak konsisten, tidak teratur atau tidak hati-hati ( Hartanto , 2002 : 60 ). Sedangkan pembuatan kondom sendiri padea masa sekarang sudah sangat baik karena harus memenuhi standar tertentu sehingga kualitasnya tidak perlu di ragukan lagi (Llewellyn, 2005 : 110).
Dalam hal memanfaatkan kontrasepsi modern pada masyarakat luas, Jepang merupakan kasus yang menarik, sudah sejak lama cara kontrasepsi yang paling banyak di gunakan di Jepang adalah kondom sebanyak 75,8 % PUS, salah satu alasan dari pemerintah Jepang karena akibat samping terhadap kesehatan akseptor memakai alat kontrasepsi lainnya (Juliantoro, 2000 : 26), sedangkan di Indonesia pemakai alat kontrasepsi adalah perempuan, sedangkan laki-laki jarang.Kini presentase konsumen yang menggunakan kondon tidak sampai 5 %. Penggeseran ini menjadi semakin mendesak terutama bila mengingat pandemic AIDS (Juliantoro, 2000 : 150)
Pada tahun 2003, di Indonesia akseptor KB kondom mencapai 0,46 % (BPS,Statistik Kesejahteraan Rakyat,2003), sedangkan pada tahun 2005 di propinsi Lampung, akseptor KB kondom mencapai 3.260 PUS (0,34 %) dari jumlah PUS 1.380.636.Pada Kota Metro sendiri tahun 2006 jumlah akseptor KB kondom mencapai 106 PUS dari jumlah PUS 24.331. Di Kecamatan Metro Utara terdapat 4 akseptor KB kondom dari jumlah PUS 4.756.( BKKBN Propinsi Lampung : 2005/2006). Berdasarkan prasurvey yang di lakukan oleh penulis pada tanggal 20-22 Maret 2007 di Puskesmas Banjar Sari Kelurahan Banjar Sari di peroleh data dari januari sampai desember 2006 berjumlah 1.877 PUS, peserta KB aktif 1.467 orang dan akseptor KB kondom 2 orang.

DOWNLOAD KLIK DISINI:
Faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya akseptor KB kondom di puskesmas
BACA SELENGKAPNYA - Faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya akseptor KB kondom di puskesmas

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya mastitis pada ibu postpartum di BPS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu kegunan kita tentang cinta Tuhan kepada umat-Nya dapat kita rasakan ketika ibu mulai menyusui bayinya dengan ASI (Air Susu Ibu). Proses ini merupakan mukjizat yang harus disyukuri dan dimanfaatkan seoptimal mungkin. Hal ini dapat kita pahami dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tidak ada makanan di dunia ini yang sesempurna ASI. ASI adalah salah satu jenis makanan yang mencukupi seluruh unsur kebutuhan bayi baik fisik, psikologis, sosial maupun spiritual (Hubertin, 2003).
Menyusui merupakan suatu proses alamiah. Berjuta-juta ibu diseluruh dunia berhasil menyusui bayinya tanpa pernah membaca buku tentang ASI. Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pula peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat sehingga pengetahuan lama yang mendasar seperti menyusui justru kadang terlupakan, menyusui adalah suatu pengetahuan yang selama berjuta-juta tahun mempunyai peran yang penting dalam mempertahankan kehidupan manusia (Roesli, 2000).
Semakin disadari bahwa pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat dari teknik menyusui yang buruk, merupakan penyebab penting terjadinya mastitis, tetapi dalam benak banyak petugas kesehatan, mastitis masih dianggap sama dengan infeksi payudara. Mereka sering tidak mampu membantu wanita penderita mastitis untuk terus menyusui, dan mereka bahkan mungkin menyarankan wanita tersebut untuk berhenti menyusui, yang sebenarnya tidak perlu. Mastitis dan abses payudara terjadi pada semua populasi, dengan atau tanpa kebiasaan menyusui. Insiden yang dilaporkan bervariasi dan sedikit sampai 33% wanita menyusui, tetapi biasanya dibawah 10% (WHO, 2003).
Masalah-masalah menyusui yang sering terjadi adalah puting susu lecet/nyeri sekitar 57% dari ibu-ibu yang menyusui dilaporkan pernah menderita kelecetan pada putingnya, payudara bengkak. Payudara bengkak sering terjadi pada hari ketiga dan keempat sesudah ibu melahirkan, karena terdapat sumbatan pada satu atau lebih duktus laktiferus dan mastitis serta abses payudara yang merupakan kelanjutan/komplikasi dari mastitis yang disebabkan karena meluasnya peradangan payudara.Sehingga dapat menyebabkan tidak terlaksananya ASI ekslusif (Soetjiningsih, 1997).
Berdasarkan pra survey yang diperoleh di BPS Dwi Yuliani Seputih Banyak pada Januari -Mei 2007, diperoleh kunjungan ibu yang mengalami mastitis yang menunjukkan adanya gangguan atau masalah dalam menyusui 11 orang (16,17%) dari total ibu postpartum sebanyak 68 orang.
Dari uraian di atas, maka penulis ingin mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya mastitis pada ibu postpartum pada bulan Januari-Mei 2007 di BPS Dwi Yuliani Seputih Banyak.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian yaitu “Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya mastitis pada ibu postpartum di BPS Dwi Yuliani Seputih Banyak pada bulan Januari-Mei 2007 ?”.


DOWNLOAD KLIK DISINI:
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya mastitis pada ibu postpartum di BPS
BACA SELENGKAPNYA - Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya mastitis pada ibu postpartum di BPS

Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya keikutsertaan suami menjadi akseptor keluarga berencana (KB) di desa

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Program keluarga berencana adalah suatu program yang dimaksudkan untuk membantu para pasangan dan perorangan dalam mencapai tujuan reproduksi mereka, mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan mengurangi insidens kehamilan beresiko tinggi, kesakitan dan kematian membuat pelayanan yang bermutu, terjangkau, diterima dan mudah diperoleh bagi semua orang yang membutuhkan, meningkatkan mutu nasehat, komunikasi, informasi, edukasi, konseling, dan pelayanan meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab pria dalam praktek KB (BKKBN 2001).
Salah satu usaha dari program KB adalah penjarangan kehamilan dengan menggunakan alat kontrsepsi yaitu suatu alat yang digunakan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan, pada umumnya metode kontrasepsi terdiri dari metode sedarhana, metode efektif dan metode kontrasepsi mantap. Metode sederhana antara lain terdiri dari senggama terputus, pantang berkala, kondom, diafragma, cream atau jelly, dan cairan berbusa, metode efektif cotohnya yaitu pil KB, Intra Uterine Device (IUD), Suntik dan alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK) sedangkan metode kontrasepsi mantap yaitu dengan cara operasi yang terdiri dari metode operasi pria dan metode operasi pada wanita yaitu tubektomi untuk wanita, vasektomi untuk pria (DepKes, 1996).
Pengembangan program KB yang secara resmi dimulai sejak tahun 1970 telah memberikan dampak terhadap penurunan tingkat fertilitas total (TFR) yang cukup menggembirakan, namun partisipasi pria dalam ber KB masih sangat rendah yaitu sekitar 1,3 persen (SDKI 2002-2003). Angka tersebut bila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya seperti pakistan 5,2% pada tahun 1999, Banglades 13,9% pada tahun 1997, Malaysia 16,8% pada tahun1998 adalah yang terendah (BKKBN, 2001). Hal ini selain disebabkan oleh keterbatasan macam dan jenis alat kontrasepsi pria, juga oleh keterbatasan pengetahuan suami akan hak-hak dan kesehatan reproduksi serta kesehatan dan keadilan gender.
Rendahnya partisipasi pria dalam KB dapat memberikan dampak negatif bagi kaum wanita karena dalam kesehatan reproduksi tidak hanya kaum wanita saja yang selalu berperan aktif, sehingga emansipasi wanita yang telah dipelopori oleh ibu Kartini yang menuntut kesamaan hak antara wanita dan pria menjadi suatu kenyataan dan wanita tidak hanya dijadikan sebagai alat “Pembuat anak dan budak untuk mengurus anak serta seluruh keluarga”. Karena itu perlu sekali kesetaraan dalam kesehatan Reproduksi, kaum pria tidak hanya menjadi “penonton” dan harus ikut andil, belum lagi wanita yang hamil dan melahirkan akan dihadapkan pada bahaya kehamilan dan persalinan (Entjang, 1982).
Berdasarkan data dari BKKBN propinsi Lampung tahun 2005, di Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terdapat 232,113 pasangan usia subur (PUS) dengan jumlah peserta KB aktif yang menggunakan alat kontrasepsi kondom 367 (0,23%) dan vasektami (MOP) 2.369 (1,47%) untuk kecamatan natar dengan jumlah PUS 26.972 yang menggunakan alat kontrasepsi kondom sejumlah 54 (0,29%). Dari hasil prasurvey langsung di dapatkan jumlah PUS yang menggunakan vasektomi hanya 7 (0,03%) PUS sedangkan di Desa Haduyang dengan jumlah akseptor KB 857 PUS di dapatkan yang menggunakan alat kontrasepsi kondom hanya 12 PUS dan tidak ada yang menggunakan alat kontraspesi berupa vasektomi.
Pengembangan metode kontrasepsi pria masih jauh tertinggal karena adanya hambatan-hambatan yang ditemukan antara lain kesulitan dalam memperoleh informasi tentang alat kontrasepsi, hambatan medis yang berupa ketersediaan alat maupun ketersediaan tenaga kesehatan, selain itu juga adanya rumor yang beredar di masyarakat mengenai alat kontrasepsi sehingga hal ini menjadi faktor penghambat dalam pengembangan metode kontrasepsi (BKKBN, 2001).
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya keikutsertaan suami menjadi akseptor keluarga berencana (KB) di Desa Haduyang Kecamatan Natar Lampung Selatan pada tahun 2007.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang, maka rumusan dalam penelitian ini adalah 'faktor-faktor apakah yang mempengaruhi rendahnya keikutsertaan suami menjadi akseptor keluarga berencana di Desa Haduyang Kecamatan Natar Lampung Selatan?'.

DOWNLOAD KLIK DISINI:
Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya keikutsertaan suami menjadi akseptor keluarga berencana (KB) di desa
BACA SELENGKAPNYA - Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya keikutsertaan suami menjadi akseptor keluarga berencana (KB) di desa

Faktor-faktor yang mempengaruhi tidak teraturnya siklus menstruasi pada mahasiswa tingkat ……. program studi kebidanan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Wanita dalam kehidupannya tidak luput dari adanya siklus haid normal yang terjadi secara siklik. Ia akan merasa terganggu bila hidupnya mengalami perubahan, terutama bila haid menjadi lebih lama dan atau banyak, tidak teratur, lebih sering atau tidak haid sama sekali (amenore). Penyebab gangguan haid dapat karena kelainan biologik (organik atau disfungsional) atau dapat pula karena psikologik seperti keadaan-keadaan stres dan gangguan emosi atau gabungan biologik dan psikologik (Biran Affandi, 1990: 17). Siklus menstruasi mempunyai hubungan tertentu terhadap keadaan fisik dan psikologis wanita (Sri Hartanti, 1990: 129).
Salah satu penyebab infertilitas wanita antara lain dilihat dari riwayat menstruasinya, apakah siklus menstruasinya teratur. Kelainan fase luteal siklus menstruasi merupakan penyebab infertilitas yang penting (Sylvia Verralis, 2003). Disfungsi ovulasi berjumlah 10-25% dari kasus infertilitas wanita. Gangguan nutrisi yang berat (misalnya kelaparan, anoreksia nervosa), penurunan BB (misalnya: penyakit medis atau psikiatrik) dan aktivitas yang berat (misalnya : pelari maraton, penari balet) adalah berhubungan dengan gangguan ovulasi. Obesitas juga disertai dengan siklus anovulatorik karena peningkatan tonik kadar estrogen. Stress berat menyebabkan anovulasi dan amenore (Decherney, dkk, 1998: 4).
Panjang siklus menstruasi yang normal atau dianggap sebagai siklus menstruasi yang khas ialah 28 hari, tetapi variasinya cukup luas, bukan saja antara beberapa wanita tatapi juga pada wanita yang sama. Juga pada kakak beradik bahkan saudara kembar, siklusnya tidak terlalu sama. Rata-rata panjang siklus menstruasi pada gadis usia 12 tahun ialah 25,1 hari. Lama menstruasi biasanya antara 3-8 hari, pada setiap wanita biasanya lama menstruasi itu tetap (Sarwono, 2002: 103).
Telah dilakukan penyelidikan terhadap 4000 wanita, ternyata hanya 3% diantaranya yang mempunyai siklus menstruasi yang teratur. Hampir semua wanita mengalami siklus menstruasi yang kurang teratur dari bulan yang satu ke bulan yang lain, pasti ada perubahan sedikit (Sheldon, 1990: 47)
Sebanyak dua pertiga dari wanita-wanita yang dirawat dirumah sakit untuk perdarahan disfungsional berumur diatas 40 tahun dan 3% dibawah 20 tahun. Sebetulnya dalam praktek banyak dijumpai perdarahan disfungsional dalam masa pubertas, akan tetapi karena keadaan ini biasanya dapat sembuh sendiri, jarang diperlukan perawatan di Rumah Sakit. Perdarahan ovulator merupakan kurang lebih 10% dari perdarahan disfungsional dengan siklus pendek (polimenorea) atau panjang (oligomenorea) (Sarwono, 2002).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Maret 2007 terhadap Mahasiswa Tingkat IIB Program Studi Kebidanan Metro yang berjumlah 39 Mahasiswa, penulis temukan berjumlah 22 Mahasiswa mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai “Faktor-faktor yang mempengaruhi tidak teraturnya siklus menstruasi pada Mahasiswa Tingkat IIB Program Studi Kebidanan Metro.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka penulis membuat rumusan masalah penelitian sebagai berikut, “Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi tidak teraturnya siklus menstruasi pada Mahasiswa Tingkat IIB Program Studi Kebidanan Metro?”

DOWNLOAD KLIK DISINI:
Faktor-faktor yang mempengaruhi tidak teraturnya siklus menstruasi pada mahasiswa tingkat ……. program studi kebidanan
BACA SELENGKAPNYA - Faktor-faktor yang mempengaruhi tidak teraturnya siklus menstruasi pada mahasiswa tingkat ……. program studi kebidanan
INGIN BOCORAN ARTIKEL TERBARU GRATIS, KETIK EMAIL ANDA DISINI:
setelah mendaftar segera buka emailnya untuk verifikasi pendaftaran. Petunjuknya DILIHAT DISINI