kolom pencarian

KTI D3 Kebidanan[1] | KTI D3 Kebidanan[2] | cara pemesanan KTI Kebidanan | Testimoni | Perkakas
PERHATIAN : jika file belum ter-download, Sabar sampai Loading halaman selesai lalu klik DOWNLOAD lagi

27 September 2010

Faktor-faktor penyebab petugas kesehatan tidak melakukan pemeriksaan PAP SMEAR di puskesmas

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Diantara tumor ganas ginekologi, kanker servik uteri merupakan penyakit keganasan yang menimbulkan masalah dalam kesehatan kaum wanita terutama di negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia (Wiknjosastro, 1999)
Hingga saat ini kanker servik uteri masih menempati urutan pertama penyakit yang paling banyak menyerang wanita di Indonesia. Sementara di dunia, penderita kanker servik uteri terbanyak kedua setelah kanker payudara (Mardiana, 2006)
Dalam usaha menyelamatkan wanita agar tidak menjadi korban kanker servik uteri, usaha pencegahan dan diaknosa dini perlu dilakukan, karena penanggulangan pada kasus yang sudah invasif tidak memuaskan (Harahap, 1984)
Untuk menghindari kanker servik uteri sebaiknya melakukan pemeriksaan, pemeriksaan yang dimaksut adalah pap smear. Pap smear merupakan metode pemeriksaan sel cairan dinding leher rahim dengan menggunakan mikroskop. Pada saat pemeriksaan, yang bersangkutan tidak akan merasa sakit dan prosesnya cukup cepat. Dan sangat dianjurkan bagi wanita yang memiliki faktor resiko (pemicu) terkena kanker servik uteri lebih banyak melakukan pemeriksaan ini (Mardiana, 2006)

Penyakit kanker dapat menyerang semua lapisan masyarakat tanpa mengenal status sosial, umur dan jenis kelamin. Dari status sosial, penyakit kanker dapat menyerang orang kaya, miskin, berpendidikan tinggi, maupun orang-orang yang sama sekali tidak berpendidikan. Anak-anak, remaja, dan orang dewasa juga tidak luput dari serangan kanker. Namun berdasarkan data yang ada diperkirakan 60% penderita kanker di Indonesia adalah wanita (Mardiana, 2006)
Diagnosis kanker servik uteri masih sering terlambat dibuat dan penanganannyapun ternyata tidak memberi hasil yang baik. Keterlambatan diagnosis terjadi karena penderita sering datang terlambat ke dokter, mengusahakan sendiri mengatasinya dengan minum jamu atau pergi ke dukun. Hal tersebut karena sebenarnya disebabkan kurangnya pengertian akan bahaya kanker, karena pendidikan yang kurang atau kurangnya penerangan mengenai kanker umumnya, kanker servik uteri khususnya. Tidak jarang pula penderita tidak dapat pergi ke dokter karena persoalan biaya, ataupun takut ditemukan kanker pada dirinya. Ketakutan yang tidak beralasan tersebut disebabkan pendapat umum bahwa kanker tidak dapat diobati dan selalu dihubungkan dengan kematian (Harahap, 1984)
Berdasarkan pra survei, petugas kesehatan Puskesmas Raman Utara ada 32 pegawai, terdiri dari 9 orang pegawai pria dan 23 orang pegawai wanita. Dari 23 pegawai wanita 3 orang sudah melakukan pemeriksaan pap smear, 19 orang belum melakukan pemeriksaan pap smear dan 1 orang masih gadis. Para petugas diharapkan dalam tugasnya dapat menyadarkan wanita betapa pentingnya memeriksa diri secara teratur dan berkala. Bila deteksi dini dapat diupayakan, sebenarnya tidak perlu wanita mati karena kanker servik uteri (Harahap, 1984)

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah penulis membuat rumusan masalah penelitian sebagai berikut : ”Apakah Faktor-faktor Penyebab Petugas Kesehatan Tidak Melakukan Pemeriksaan Pap Smear Di Puskesmas Raman Utara tahun 2007”

INGIN BOCORAN ARTIKEL TERBARU GRATIS, KETIK EMAIL ANDA DISINI:
setelah mendaftar segera buka emailnya untuk verifikasi pendaftaran. Petunjuknya DILIHAT DISINI